Dunia sedang terancam oleh jumlah manusia yang semakin hari semakin
membludak. Berbagai cara dicoba oleh ilmuwan untuk mengatasi pembludakan umat
manusia. Namun hasilnya nihil. Butuh skala yang sangat mematikan agar rencana
tersebut berhasil. Adalah Soke Bahtera salah satu ilmuwan yang ditugaskan untuk
mengatasi iklim yang semakin ekstrim di bumi. Dunia memutuskan untuk mengambil
alih kendali iklim di bumi. Baginya pengendalian iklim oleh manusia berdampak
buruk bagi bumi. Benar saja, suhu bumi menjadi meningkat. Tidak ada lagi awan
yang terlihat di langit. Proyek dunia pun direncakan. Sebagai ilmuwan, Soke
Bahtera mendapatkan dua tiket untuk masuk dalam daftar manusia yang dievakuasi.
Tidak ada pilihan lain. Umat manusia harus pindah ke tempat yang lebih baik, karena
tidak setetes pun air langit turun menghujani bumi.
Kabar buruk bagi Lail, karena ia selalu suka hujan. Segala hal
penting dalam hidupnya terjadi saat hujan turun. Sayangnya kenangan indahnya
saat hujan turun menjadi kenangan yang menyakitkan. Lail tahu bahwa Soke
Bahtera lebih mencintai Clara. Tentunya Soke Bahtera akan membawa Clara
bersamanya ke dalam daftar manusia yang dievakuasi. Seberapa keras ia berusaha
melupakan ingatannya tentang Soke Bahtera, justru ingatan tersebut semakin
menyakitinya. Lail memutuskan untuk melupakan segala ingatannya tentang Soke
Bahtera. Kecanggihan teknologi medis kala itu sudah sampai pada taraf yang luar
biasa. Sehingga dengan kecanggihan tersebut manusia bisa memanipulasi
ingatannya, memilih ingatan mana saja yang ingin ia simpan atau lupakan.
Sayangnya Lail terlalu naif untuk memutuskan bahwa dengan melupakan, hatinya
akan kembali pulih. Bukankah berdamai dengan kenangan, tidak peduli seberapa
menyenangkan atau menyakitkan, merupakan cara yang terbaik untuk melupakan?
Apa rencana para ilmuwan untuk menyelamatkan keberlangsungan umat
manusia di muka bumi? Akankah keputusan Lail untuk menghapus ingatannya tentang
Soke membuat hatinya kembali pulih? Dan siapakah yang Soke Bahtera pilih untuk
pergi bersamanya? Semua plot cerita tersebut disatukan oleh Hujan.
Tere Liye kembali menulis buku tentang fiksi-sains. Berbeda dari
buku-buku sebelumnya, yang mengangkat economic science, kali ini Penulis
membawa plot ceritanya pada tema klimatologi dan geofisika. Penjabaran mengenai
ilmu klimatologi dan geofisika pada buku ini kurang detail. Seperti ketika
Penulis menjabarkan istilah-istilah ekonomi pada novel Negeri di Ujung tanduk,
Negeri Para Bedebah, dan Pulang. Proses bencana alam dan perubahan iklim pada
novel ini hanya dijelaskan secara umum, selayaknya perspektif orang awam. Ada banyak
plot cerita di dalam buku ini. Percintaan, Persahabatan, Politik, dan Sains. Namun
Penulis mampu menyatukan plot tersebut ke dalam satu cerita sehingga koheren.
Tidak seperti biasanya, kali ini tokoh bijaksana yang kerap
menyampaikan nasihat ditampilkan pada tokoh yang berusia lebih muda. Penulis
seolah ingin mendobrak stigma bahwa tidak hanya orang tua saja yang bisa lebih
bijaksana dalam memahami kehidupan. Memang benar bahwa orang tua lebih banyak
merasakan pahit ketir kehidupan. Namun usia muda tidak mejadi alasan untuk
menjadi lebih bijaksana. Peristiwa-peristiwa berat dalam hidup bisa memaksa seseorang
untuk menjadi bijaksana lebih dini.
Selamat membaca J
Yogyakarta, 27 Februari 2016
Sovia Sandhi