Sabtu, 27 Februari 2016

Review Novel Hujan - Tere Liye


Dunia sedang terancam oleh jumlah manusia yang semakin hari semakin membludak. Berbagai cara dicoba oleh ilmuwan untuk mengatasi pembludakan umat manusia. Namun hasilnya nihil. Butuh skala yang sangat mematikan agar rencana tersebut berhasil. Adalah Soke Bahtera salah satu ilmuwan yang ditugaskan untuk mengatasi iklim yang semakin ekstrim di bumi. Dunia memutuskan untuk mengambil alih kendali iklim di bumi. Baginya pengendalian iklim oleh manusia berdampak buruk bagi bumi. Benar saja, suhu bumi menjadi meningkat. Tidak ada lagi awan yang terlihat di langit. Proyek dunia pun direncakan. Sebagai ilmuwan, Soke Bahtera mendapatkan dua tiket untuk masuk dalam daftar manusia yang dievakuasi. Tidak ada pilihan lain. Umat manusia harus pindah ke tempat yang lebih baik, karena tidak setetes pun air langit turun menghujani bumi.

Kabar buruk bagi Lail, karena ia selalu suka hujan. Segala hal penting dalam hidupnya terjadi saat hujan turun. Sayangnya kenangan indahnya saat hujan turun menjadi kenangan yang menyakitkan. Lail tahu bahwa Soke Bahtera lebih mencintai Clara. Tentunya Soke Bahtera akan membawa Clara bersamanya ke dalam daftar manusia yang dievakuasi. Seberapa keras ia berusaha melupakan ingatannya tentang Soke Bahtera, justru ingatan tersebut semakin menyakitinya. Lail memutuskan untuk melupakan segala ingatannya tentang Soke Bahtera. Kecanggihan teknologi medis kala itu sudah sampai pada taraf yang luar biasa. Sehingga dengan kecanggihan tersebut manusia bisa memanipulasi ingatannya, memilih ingatan mana saja yang ingin ia simpan atau lupakan. Sayangnya Lail terlalu naif untuk memutuskan bahwa dengan melupakan, hatinya akan kembali pulih. Bukankah berdamai dengan kenangan, tidak peduli seberapa menyenangkan atau menyakitkan, merupakan cara yang terbaik untuk melupakan?

Apa rencana para ilmuwan untuk menyelamatkan keberlangsungan umat manusia di muka bumi? Akankah keputusan Lail untuk menghapus ingatannya tentang Soke membuat hatinya kembali pulih? Dan siapakah yang Soke Bahtera pilih untuk pergi bersamanya? Semua plot cerita tersebut disatukan oleh Hujan.

Tere Liye kembali menulis buku tentang fiksi-sains. Berbeda dari buku-buku sebelumnya, yang mengangkat economic science, kali ini Penulis membawa plot ceritanya pada tema klimatologi dan geofisika. Penjabaran mengenai ilmu klimatologi dan geofisika pada buku ini kurang detail. Seperti ketika Penulis menjabarkan istilah-istilah ekonomi pada novel Negeri di Ujung tanduk, Negeri Para Bedebah, dan Pulang. Proses bencana alam dan perubahan iklim pada novel ini hanya dijelaskan secara umum, selayaknya perspektif orang awam. Ada banyak plot cerita di dalam buku ini. Percintaan, Persahabatan, Politik, dan Sains. Namun Penulis mampu menyatukan plot tersebut ke dalam satu cerita sehingga koheren.

Tidak seperti biasanya, kali ini tokoh bijaksana yang kerap menyampaikan nasihat ditampilkan pada tokoh yang berusia lebih muda. Penulis seolah ingin mendobrak stigma bahwa tidak hanya orang tua saja yang bisa lebih bijaksana dalam memahami kehidupan. Memang benar bahwa orang tua lebih banyak merasakan pahit ketir kehidupan. Namun usia muda tidak mejadi alasan untuk menjadi lebih bijaksana. Peristiwa-peristiwa berat dalam hidup bisa memaksa seseorang untuk menjadi bijaksana lebih dini.

Selamat membaca J

Yogyakarta, 27 Februari 2016
Sovia Sandhi