Tidak ada yang berubah dari rumah itu setelah hampir dua tahun ia
tidak mengunjungi rumah itu. Bunga mengintip ke dalam melalui jendela yang
gordennya sedikit terbuka. Hanya tatanan ruang tamu saja yang berubah. Sekarang
adalah H-14 menjelang Lebaran. Tatanan ruang tamu akan berubah seperti ketika
dua tahun lalu ia terakhir ke sini. Bunga mengetuk pintu dan mengucap salam.
Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia
berjalan ke samping rumah. Dan benar saja. Pintu rumah samping tidak terkunci.
Ia membuka pintu perlahan dan masuk sambil mengucap salam. Ketika salam yang
ketiga baru ada jawaban dari suara parau. Bunga cukup mengenal suara itu.
Itu suara Mbah Uti. Pikirnya.
Pemilik suara itu keluar kamar. Bunga sudah lama tidak melihat
sosoknya. Tidak jauh berbeda dari dua tahun lalu. Bunga menghampiri Mbah Uti
dan menyalaminya. Namun Mbah Uti masih terdiam seperti berusaha
mengingat–ingat. Pengelihatan Mbah Uti juga berkurang, sehingga sebelum
mengingat ia juga harus berusaha mengenali sosok Bunga.
“Ini Bunga, Mbah.”
“Ohh... Bunga... anaknya Surya, ya,” ujar Mbah Uti dengan perlahan.
Maklum, ingatan Mbah Uti pun ikut menua mengiringi dirinya.
“Iya Mbah.”
“Ayahnya mana?”
“Ayah masih di rumah Mbah. Bunga ke sini sendirian dari Surabaya.
Soalnya kan, kuliahnya udah libur.”
“Ohh iya, ya.”
Bunga dapat melihat kekecewaan di mata Mbah Uti.
“Ya udah, istirahat dulu. Pasti kan capek perjalanan dari Surabaya
ke sini. Ntar ya, Mbah siapin kamarnya.”
“Eh, gak usah Mbah. Biar aku aja. Mbah Uti lanjutin aja
istirahatnya.”
“Ya udah, itu kasurnya di kibas dulu. Soalnya udah lama gak
ditempati,” ujar Mbah Uti sambil kemudian melihat jam dinding. “Udah adzan
belum?”
Bunga melihat jam di tangannya. Mungkin Mbah Uti udah gak bisa
liat jam lagi.
“Belum asar, kok, Mbah. Bentar lagi.”
Mbah hanya mengangguk pelan, kemudian berjalan ke belakang.
Langkahnya sudah mulai melambat. Badannya pun sudah semakin membungkuk. Bunga
yang menyaksikan dari belakang kemudian tersenyum kecil.
Bunda pun akan seperti itu.
Bunga masuk ke kamar. Dan benar saja...
Kamar ini memang udah lama gak ditempati. Mbah pasti kesepian.
Tidak butuh waktu lama untuk membersihkan kamar yang sudah rapi
itu. Hanya perlu membersihkan sedikit debu-debu yang menempel, menyapu dan mengganti
sprei.
“Ini spreinya,” Mbah Uti datang dengan membawa sprei yang masih
baru.
“Makasih, Mbah.”
“Bunga puasa?”
“Puasa, kok, Mbah,” jawab Bunga sambil memasang sprei.
“Oh, kalo nggak puasa ada mie di dapur.”
“Iya, Mbah. Oh iya Mbah, Mbah Kung mana, Mbah?”
Belum sempat Mbah Uti menjawab, terdengar suara langkah kaki yang
diseret.
“Itu Mbah udah bangun,” jawab Mbah Uti.
Sosok itu keluar dari kamarnya dengan badan bungkung dan langkah
yang gemetar. Di tangan kanannya menggenggam kayu panjang. Kayu yang digunakan
sebagai tongkat. Langkahnya begitu perlahan. Mungkin hanya tiga langkah per
menit. Bunga menghampiri Mbah Kung untuk membantunya menuju kursi terdekat.
Mbah Kung menatap wajah Bunga dengan dahi mengkerut seperti
berusaha mengingat-ingat. “Ini siapa?” Tanya Mbah Kung. Pengelihatan Mbah Kung
juga sudah sangat berkurang.
“Bunga, Mbah.”
“Bunga siapa?” Dan pastinya begitu pula dengan ingatannya.
“Anaknya Surya,” jawab Mbah Uti.
Mbah Kung terdiam sejenak. Tidak ada respon dari Mbah Kung.
Kemudian Mbah Kung melanjutkan langkah kakinya menuju tempat yang biasanya
didudukinya. Meski Bunga menggandeng Mbah Kung, itu tidak membantu dalam
mempercepat langkah Mbah Kung untuk mencapai kursi yang biasa didudukinya.
Namun setidaknya Bunga dapat menjaga langkah Mbah Kung yang sudah gemetar.
Mbah Kung membutuhkan kursi roda.
Setelah lima menit, akhirnya Mbah Kung sampai juga di kursi yang
biasa didudukinya. Padahal jika Bunga yang berjalan, hanya butuh satu menit
dengan jarak yang sama. Bunga mengambil tempat duduk disamping Mbah Kung. Mbah
Kung masih terdiam dengan tongkat di kedua genggaman tangannya yang ditegakkan
didepan wajahnya.
“Kamu siapa?” Tanya Mbah Kung lagi. Mata tuanya seperti berusaha
menggapai dan mengenali wajah Bunga. Namun rupanya ingatannya sama sekali tidak
memberikan jawaban.
“Bunga, Mbah,” jawab Bunga perlahan.
“Anaknya Surya, Mbah,” sahut Mbah Uti yang datang dengan membawa
permen.
“Surya?”
“Iya, Surya anak kita,” jawab Mbah Uti untuk memperjelas.
“Sekarang Surya mana?” Tanya Mbah Kung lagi.
“Ayah masih di rumah, Mbah,” jawab Bunga. “Insya Allah lebaran
besok ke sini.”
Tidak ada respon dari Mbah Kung.
“Surya masih di rumahnya Kalimantan sana. Insya Allah lebaran ini
pulang,” Mbah Uti memperjelas lagi.
Mbah Kung menyandarkan tubuhnya di kursi. Tatapan matanya kosong ke
depan. Seperti baru ada harapan yang pergi.
“Ini kasih, Mbah Kung ntar kalo pengen. Mbah Kung udah nggak puasa,
nduk,” Mbah Uti menyodorkan pemen kopi. “Mbah shalat dulu, yaa.”
“Iya, Mbah.”
Bunga terdiam menatap Mbah Kung.
“Mbah Kung mau permen?”
Tidak ada jawaban dari Mbah Kung untuk beberapa saat. Namun
kemudian Beliau menoleh ke arah Bunga. “Lebaran kapan to?”
Sepertinya Mbah Kung dari tadi memikirkan kapan lebaran akan tiba.
Karena saat itu Mbah Kung akan bertemu dengan anak-anaknya. Dan itulah yang
paling diharapkan oleh orang tua seperti Mbah Kung.
“Sekarang puasa ke-20, Mbah. Berarti lebarannya sepuluh hari lagi,”
jawab Bunga. “Tapi Insya Allah Ayah pulang dua hari sebelum lebaran.”
“Kenapa nggak sekarang aja to?”
“Kalo sekarang, kan, Ayah masih kerja, Mbah,”
Keduanya terdiam sejenak.
“Oh, kapan Ayahmu ke sini?”
Baru saja Bunga menjawab pertanyaan Mbah Kung itu. Tapi sepertinya
Mbah Kung sudah lupa. Bunga seperti menghadapi anak kecil. Memang sudah
kodratnya ketika manusia semakin menua, maka sifat dan perilakunya akan kembali
seperti anak kecil. Bunga berusaha untuk memahaminya.
“Seminggu lagi, Mbah,” jawab Bunga dengan sabar.
“Ha?”
“Seminggu lagi, Mbah,” jawab Bunga dengan nada lebih tinggi.
Rupanya pendengaran Mbah sudah sangat berkurang.
“Oalah. Lha, tadi ke sini naik apa?”
“Naik kereta. Terus dari stasiiun ke sini naik becak, Mbah.”
“Hm...,” guman Mbah Kung. “Itu apa?” Mata Mbah Kung tertuju pada
permen yang dibawa oleh Bunga. “Itu permen, to?” Rupanya Mbah Kung masih bisa
mengenali sesuatu yang sering ditemuinya.
“Iya. Mbah Kung mau?” Tanya Bunga
“He-eh.”
Bunga membukakan permen kopi itu untuk Mbah Kung. Rencananya Ia
akan tinggal di sana cukup lama. Sekaligus ayahnya memintanya untuk membantu
dan menemani Mbah Kung dan Mbah Uti. Awalnya ia menolak karena ia ingin pulang
ke rumah. Namun setelah mendapat tawaran handphone baru, Ia baru menerima
tawaran tersebut walaupun dengan berat hati.
Selama Bunga di rumah Kakek-Neneknya, Ia hanya membatu pekerjaan
rumah, karena Kakek-Neneknya sudah tidak mampu lagi untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan berat seperti mengepel, mencuci baju, dan menyapu halaman.
Selebihnya Ia lebih banyak menemani Mbah Uti dan Mbah Kung dengan mengobrolkan
tentang masa lalu. Mbah Uti yang ingatannya masih lebih baik dari pada Mbah
Kung, banyak menceritakan tentang sejarah bangsa Indonesia, khususnya apa yang
terjadi kepada mereka, juga tentang masa kecil Ayah, Om, dan Tante Bunga.
“Dulu, Om Ragil, tu paling susah disuruh sekolah. Dimasukin pondok,
eh malah pulang-pulang terus,” cerita Mbah Uti. “Kalo pulang pasti minta
sangu,” cerita Mbah uti sembari tertawa. “Ya makannya itu sekolahnya cuma sampe
SMA.”
“Hm... Ya Ampun, Om Ragil,” sahut Bunga. “Tapi malah sekarang yang
paling sukses ya, Mbah.
“Semuanya sukses, Nduk.”
“Ya... maksudnya...,” belum sempat Bunga melanjutkan ucapannya Mbah
Uti sudah memotong dengan kembali bercerita.
“Ragil itu perhitungan sekali,” ujar Mbah Uti sembari tertawa.
“Makannya pinter kalo jualan.”
Banyak kisah kenakalan juga kebanggaan yang diceritakan oleh Mbah
Uti. Tidak ada guratan penyesalan di mata Mbah Uti ketika menceritakan kisah
kenakalan anak-anaknya. Justru tawa kebahagiaan yang mengiringi ceritanya.
Seperti ingin mengulang kembali ke masa itu. Juga tentang bagaimana Mbah Uti
dan Mbah Kung berusaha hidup dan menghidupi anak-anaknya ketika zaman
penjajahan. Bunga seperti bernostalgia dengan guru sejarahnya. Menurut Mbah
Uti, Jepang yang menjajah walaupun hanya selama 3,5 tahun masih lebih kejam
dari pada Belanda yang menjajah selama 3.5 abad. Walaupun menjajah Indonesia,
Belanda juga membangun sarana pra sarana di Indonesia yang digunakan sampai
saat ini, seperti rel kereta api, jalan-jalan, dan gorong-gorong. Bunga hanya
tersenyum mendengar pendapat Mbah Uti. Tetap saja tidak ada yang lebih baik.
Karena bagaimana pun juga Belanda menyumbangkan cukup besar dalam hal
pembangunan mental bangsa.
Di sisi lain Bunga melihat, mungkin Mbah Uti memang membutuhkan
teman untuk berbagi bercerita. Mbah Kung sudah tidak lagi bisa mendengarkan
cerita Mbah Uti sebagaimana pendengar yang baik. Namun setidaknya mereka adalah
teman yang akan menua bersama. Bunga tidak sampai hati jika hal tersebut
terjadi kepada kedua orang tuanya. Namun semua orang tua akan mengalaminya.
Bahkan mungkin sekarang Ayah dan Bundanya sudah mengalaminya. Ia beserta kakak
dan adiknya sudah tinggal jauh dari orang tua. Kakaknya sudah bekerja dan
ditempatkan jauh di pedalaman. Sedangkan ia dan adiknya kuliah di luar kota, sehingga
mengharuskan mereka untuk kos. Maksimal mereka akan pulang kerumah enam bulan
sekali ketika libur semester. Dan belum tentu ketika semua anggota keluarga
berkumpul di rumah. Karena libur semester tiap universitas berbeda-beda. Terlebih
kakaknya yang sudah bekerja, yang hanya bisa pulang ketika mengambil cuti atau
libur lebaran dan akhir tahun. Bunga selalu berpikiran mengapa tidak salah satu
dari anak-anak Mbah membawa Mbah Kung dan Mbah Uti untuk tinggal bersama.
Lagipula merawat mereka dengan mengajak tinggal bersama tidak akan menghabiskan
biaya yang besar.
Hm... Bunga hanya
berguman kecil. Mungkin belum saatnya ia mengerti.
*****************************************************************************
*****************************************************************************
Tidak sengaja Bunga mendapati Mbah Uti menatap dalam foto masa lalu
anak-anaknya yang sudah sangat kusam dan berdebu.
Mbah Uti pasti lagi kangen anak-anaknya.
“Pasti menyenangkan menjadi seorang Ibu.”
Mbah Uti tersentak karena ucapan Bunga yang tiba-tiba. Kemudian Ia
menghela napas panjang.
“Ya, sangat bahagia,” jawab Mbah Uti. “Karena kita...,” semua
ucapan itu seperti mengalir begitu saja dari relung hati seorang Ibu. “Nanti
kamu akan tau sendiri, Nduk.”
“Mbah Uti nggak kesepian?” Tanya Bunga
“Mbah udah biasa, Nduk.”
“Hm...”
Dan seperti ikut merasakan kebahagiaan Mbah Uti, mata Bunga
berkaca-kaca nyaris meneteskan air mata. Dari merasakan bagaimana bahagianya
menyambut kelahiran putra-putrinya, mengiringi masa kecil mereka, sampai sedihnya
ditinggal karena anak-anaknya telah memiliki kehidupan masing-masing. Apa pun
kisah anak-anaknya, tetap air mata haru yang keluar dari mata Mbah Uti yang
jelas terlihat keriputnya.
Suara langkah kaki diseret. Rupanya Mbah Kung terjaga dari
tidurnya. Mbah Kung ikut berbagi cerita bersama kami. Tapi Beliau lebih banyak
mendengarkan dan terkadang sedikit berkomentar untuk sekedar membenarkan apa
yang diceritakan oleh Mbah Uti. Bunga tidak dapat menggambarkan perasaan Mbah
Kung sebagaimana Bunga seperti juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mbah
Uti. Tapi yang jelas ada guratan bahagia juga di wajah Beliau. Semua seperti
terangkum dalam satu malam. Namun rangkuman itu belum selesai selama insan yang
berperan didalamnya masih ada. Karena masih akan ada kisah-kisah selanjutnya.
Dan sayangnya rangkuman ini berakhir pada hari lebaran. Tepat setelah adzan
ashar, Mbah Uti tutup usia.
Bagaikan firasat, ketika malam kedua bercerita dengan Bunga, Mbah
Uti sempat mengatakan bahwa, Beliau sangat bersyukur karena telah diberkati
putra-putri yang sangat ia sayangi. Juga bagaimana dengan bahagianya Mbah Uti
menceritakan kisahnya dengan Mbah Kung yang sebenarnya terselip kata terima
kasihnya untuk Mbah Kung karena sudah menemaninya menapaki kehidupan bersama.
Dan yang paling jelas adalah ketika Mbah Uti mengucapkan terima kasihnya kepada
anak-anaknya karena telah terlahir sebagai putra dan putri dari Mbah Kung dan
Mbah Uti.
“...klo bisa ngomong, Mbah pengen bilang makasih sama anak-anak
Mbah. Soalnya sudah mau lahir jadi anak-anak Mbah...”
Yogyakarta, 11 September 2014
Sovia Sandhi Zahra
