Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2014

Gara-Gara Facebook


Bunga membuka akun facebooknya. Kemudian ia membuka akun facebook teman lamanya.

Masih belum dikonfirmasi. Belum ada balesan juga dari orang-orang itu.

Ia membuka tab twitternya. Tidak ada balasan follow dari teman lamanya pula. Ia juga pesimis dengan twitter karena sudah sangat lama, terakhir kali temannya update twit. Sebenarnya sekitar setahun yang lalu ia sudah berusaha mencari teman lamanya tersebut. Beruntung teman lamanya tersebut menggunakan nama asli, sehingga ia dapat menemukannya di facebook. Namun karena lama tidak dikonfirmasi oleh temannya tersebut, Bunga membatalkan permintaan pertemanannya. Namun belakangan ia teringat akan teman lamanya tersebut, dan kembali mengirimkan permintaan pertemanan ke teman lamanya tesebut. Namun respon yang sama seperti setahun yang lalu kembali ia dapatkan.

Nggak dikonfirmasi dari Dika.

Ia pun mengirimi Dika pesan. Namun masih belum berhasil, karena sama sekali tidak dibaca oleh Dika.

Namun ternyata Bunga baru sadar bahwa Dika mengupdate foto profil terbarunya. Akhrinya kini antara setengah kesal, Bunga pun akhirnya berinisiatif mengirimi seseorang yang Dika tautkan sebagai pacarnya di facebook.

Halloo
Sorry, kamu bener pacarnya Tara Dika yang dulu pernah sekolah di Harapan Mulia, Ponorogo?
Kalo boleh aku bisa minta nomor hpnya gak? Soalnya aku inbox di fb gak dibales-bales sama dia. Permintaan pertemananku juga gak dikonfirm sama dia. Minta tolong juga supaya konfirm pertemananku di fb.
Makasih sebelumnya, sorry ngerepotin.

Pesan-pesan serupa juga Bunga kirimkan kepada beberapa teman Dika di Facebook. Tidak ada balasan setelah sehari Bunga mengirimi teman-temannya pesan. Ia mulai kesal karena ini adalah cara terakhir yang bisa ia gunakan selain menunggu. Ia pun membuka galeri foto Dika yang dapat dilihat oleh semua pengguna Facebook. Walaupun hampir enam tahun tidak bertemu, Bunga yakin bahwa itu adalah Dika, teman lamanya. Bayangannya pun melayang menuju enam tahun silam.
Bunga menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali pulang. Ia teringat bagaimana terakhir kali ia bertemu dengan keluarganya.

“Bunga tidur, aja. Biar gak tau Ibu pulang,” kata Ibu Bunga.
“Nggak mau. Pokoknya kalo pulang harus pamit,” rengek Bunga.
“Nanti nangis.”
“Aaah, nggak mau.”
“Iya, iya. Ya udah, sekarang tidur,” ajak Ibu Bunga.
“Tapi nanti kalo Ibu mau pulang, terus Bunga ketiduran, bangunin, ya.”
“Iya.”

Mata Bunga tidak bisa terpejam karena kesedihannya bahwa akan ditinggal oleh keluarganya.

“Kok gak tidur-tidur?” Tanya Ibu Bunga setelah sekian lama menemani di samping Bunga.
“Nggak bisa tidur, Bu.”
“Takut ditinggal, ya.”

Bunga tidak mampu menjawab. Tenggorokannya seperti tersumbat air mata. Jika dipaksakan untuk bicara, suaranya akan bergetar dan air matanya akan keluar. Ayah memberi isyarat kepada Ibu bahwa kedua adik Bunga sudah mulai rewel. Ibu paham.

“Bunga, Ibu sama Ayah pulang dulu, ya. Kata Ayah, Dirga sama Restu udah ribut aja dari tadi,” ujar Ibu dengan berat hati. Intonasi pengucapannya perlahan agar air matanya tidak keluar. Sebenarnya Ibu ingin sekali menangis karena berpisah dari anak sulungnya. Namun Beliau tidak ingin terlihat sedih di mata Bunga. Agar Bunga pun kuat menjalani kehidupannya di asrama puteri tersebut. “Bunga di sini aja. Nggak usah keluar.”

“Bunga ikut nganterin aja, Bu,” rengek Bunga.
Ibu tidak bisa berkata banyak. “Ya udah, ayo.”

Bunga ingin sekali menangis. Namun ia malu dengan Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Bunga tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, karena takut air matanya jatuh.

“Udah, Bunga masuk aja,” kata Ibu karena tidak ingin Bunga melihat kepergian mereka. “Belajar yang baik. Betah-betahin di asrama, ya,” ujar Ibu sambil mengusap pipi Bunga. “Udah, masuk.”
Bunga pun mengikuti perintah Ibunya, berbalik dan masuk.

“Assalamu’alaikum,” salam Ibunya.

Bunga tidak mampu menjawab. Bibirnya terkunci untuk menahan air mata terjatuh.

Tiba-tiba tangisan Bunga terhenti, begitu juga dengan ingatannya tentang keluarganya begitu mendengar pintu kamarnya diketok. Ia segera menyeka air matanya dan berkaca.

“Bunga!” Panggil suara dari luar.

Kenapa tiba-tiba Ibu Pengasuh ke sini, ya?

“Iya, Bu, sebentar.”

Ia menaburkan bedak ke wajahnya agar tidak terlihat habis menangis. Kemudian ia membuka pintu.

“Nah, Bunga, ini Dika. Dia bakal jadi temen kamarmu,” ujar Ibu Pengasuh.

Bunga dan Dika saling melempar senyum.

“Sekarang kamu nggak sendirian lagi,” kata Ibu pengasuh lagi kepada Bunga. “Dika, ini udah semua (barang-barang Dika)?
“Udah, Bu,” jawab Dika yang pada saat itu membawa koper besar dan bantal dan guling.
“Ya udah, kamu tata barang-barangmu. Biar nanti bisa ikut jama’ah di masjid asrama,” kata Ibu Pengasuh lagi. “Bunga, kamu juga jangan lupa ikut jama’ah di masjid asrama.”
“Iya, Bu,” jawab Bunga.

Itu adalah saat pertama Bunga mengenal Dika. Pertama, mereka saling bertukar informasi mengapa mereka dipindahkan di kamar bangsal khusus. Karena siapa pun yang dipindahkan ke bangsal khusus ini, adalah mereka yang memiliki masalah yang cukup serius dengan peraturan asrama. Teman sekamar Bunga sebelumnya adalah seorang perokok berat dan minum-minuman beralkohol. Bahkan di kamar, temannya itu berani menyimpan rokok. Bunga tidak mampu berbuat banyak karena ia adalah senior. Namun beberapa saat setelah dipindahkan ke bangsal khusus, akhirnya seniornya tersebut keluar dari asrama.

Berbeda dengan Bunga yang dipindahkan karena melanggar berbagai peraturan departemen, Dika mengajukan dirinya sendiri untuk dipindahkan ke bangsal khusus ini.

“Kamu ngajuin diri?”
Dika hanya mengangguk.
“Ck..ck..ck..”
“Kalo kamu?”
“Kalo aku karena ngelanggar banyak departemen.”
“Apa aja?”
“Departemen pramuka, karena aku gak pernah ikut pramuka. Departemen bahasa, karena aku gak pernah pake bahasa. Departemen keamanan, karena aku sering ketahuan kabur dari asrama. Departemen ibadah, karena aku jarang ke masjid.”
“Gila!” Sentak Dika.

Setelah itu, banyak hal bodoh dan nakal yang mereka lakukan. Bahkan mungkin lebih sering dan berani dari sebelumnya karena mereka merasa memiliki kekuatan karena bersama. Mereka semakin lama semakin sering membolos pada jam pelajaran untuk pergi bermain ke kampung. Dan beberapa kali mereka kabur ke rumah sanak saudara Bunga yang berada di lain kota. Sehingga kaburnya mereka dapat dikategorikan pelanggaran terberat yang mereka lakukan. Terakhir kali mereka kabur, Dika dipanggil oleh Ibu Konsulat Bangka Belitung. Setiap daerah memiliki konsulat. Bunga pernah diperingati Ibu Konsulatnya ketika ia kabur pertama kali. Namun sepertinya Ibu Konsulatnya tidak peduli lagi terhadapnya.

“Kamu kenapa dipanggil, Dik?” Tanya Bunga, yang ternyata menunggu Dika di depan kantor konsulat.
“Nggak papa,” jawab Dika.
Bunga tidak puas dengan jawaban Dika. Ia merasa Dika menyembunyikan sesuatu darinya.

Mereka pun kembali ke kamar bersama.

“Ng... Dika, mendingan... sekarang kamu... jangan main sama aku lagi,”
“Kenapa?”
“Kayaknya Ibu Konsulat kamu gak suka kamu main sama aku.”
Dika hanya diam.
“Lagian sebentar lagi, kan, UTS. Kamu musti konsen.”
“Ya, kamu juga, dong.”
Bunga hanya mengangguk.
Sejenak tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.
“Hm... Sebenernya... Ibu Konsulatku... nyuruh... aku jauhin kamu.”
Bunga tidak kaget lagi dengan pernyataan itu. Sudah seperti yang ia duga.
“Ibu Konsulatmu bener, sih. Kita udah terlalu jauh nakalnya,” ujar Bunga.
“Aku jadi sedih kalo inget orang tua,” kata Dika.
Bunga mengangguk pelan. Ia jadi merasa bersalah kepada Dika, juga kepada orang tua Dika, terlebih Ayah Ibunya.

“Bunga!”
Bunga terbuyar dari nostalgianya, begitu Ibu memanggilnya.
“Iya, Bu.”
“Sendoknya udah dimasukin koper?”
“Udah, Bu.”

Beberapa hari lagi Bunga akan berangkat ke Surabaya untuk kuliah. Tahun ini merupakan tahun pertama ia kuliah. Sehingga ia harus membawa perlengkapan kos yang bisa dibawa untuk meminimalisir pengeluaran.

Ah, iya!! Bunga teringat sesuatu.

Ia membuka profil Dika.

Semoga bisa dilihat. Nah ini dia!!

Bunga membaca profil Dika yang ternyata tidak di privasi oleh Dika.

Akan banyak cerita ketika kita sudah terhubung nanti.

Bunga menutup laptopnya dan pergi ke kamar mandi untuk persiapan tidur.
Keesokan harinya terdapat satu pesan di Facebooknya. Ia buru-buru membukanya.

Semoga dari salah satu dari orang-orang itu.

Restu Putra:
Ini nomor dika: 082227568817

Bunga terbelalak senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan nomor Dika. Balasan tersebut dari pacar Dika.

Bunga Semesta:
Makasih banyak ya

Bunga mencatat nomor tersebut dan segera mengirimkan SMS ke Dika.

Bunga:
Hallo, ini bener Tara Dika yg dulu pernah sekolah d MTs Harapan Mulia Ponorogo?

Kirim

Muncul tanda centang yang artinya pesan tersebut diterima.

Berarti nomornya masih aktif.

Tidak berapa lama diterima balasan dari kontak bernama Dika.

Dika:
Iya, ini siapa ya?

Bunga senang sekali. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya.

Bunga:
Ini Bunga yg dulu pernah sekamar sama u d bangsal khusus.

Dika:
Ohh iya, yang dulu pernah kabur bareng-bareng, ya. Tapi aku lupa-lupa inget Bung, sama wajahmu.

Bunga:
Iya emang udh lama sih. Aku udah add u d fb dik. Udh dari setaun yg lalu. Tapi kamu lama gak u konfirm. Ya udh aku batalin. Seminggu lalu aku add u lg. Tapi lama gak u konfirm lg. Akhirnya aku kirimin beberapa temen u pesen u/ minta no u. Yg bales cuma pacar u itu.

Dika:
Maaf ya bung. Udah lama banget ya. Aku jadi keinget kisah2 kita dulu J

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget J. Sampe2 kita...

“Bunga, Ibu minta tolong, dong,” belum selesai Bunga mengetikkan pesan, Ibu memanggil dari dapur.
“Iya, Bu. Bentar,” Bunga menghapus beberapa kata karena ia tahu Ibu akan minta tolong dibelikan kopi. Karena ada tamu datang.

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget deh pokoknya J.
Eh dik. Aku dipanggil Ibuku. Next time kita lanjut ya

Bunga meletakkan handphonenya dan beranjak ke dapur. Dan benar saja. Ibu minta tolong untuk dibelikan kopi di warung dekat rumah, sekaligus membuatkan kopi kedua tamu Ayah yang datang, karena Ibu harus segera berangkat pengajian. Bunga pun dengan cekatan meluncur ke warung samping rumah untuk membeli kopi instan dan menyeduhnya untuk kedua tamu Ayah.

Bunga sedikit mencicipi kopi yang ia tuangkan seujung sendok ke telapak tangannya. Pas

Bunga mengantarkan kopi untuk tamu-tamu Ayah. Dan segera kembali ke kamar untuk melihat handphonenya.

Ada balasan dari Dika

Dika:
Oke Bunga

Kemudian muncul pemberitahuan baru bahwa permintaan pertemanannya dikonfirmasi oleh Dika. Beberapa saat kemudian di beranda muncul update dari Dika yang membuat Bunga tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Bunga men-share ulang status dari Dika. dan menambahkan kalimat,
"Pengalaman yang tak terlupakan. Akan ada obrolan yang sangat panjang ketika kami bertemu nanti."

Sabtu, 27 September 2014

Mbah Uti



Tidak ada yang berubah dari rumah itu setelah hampir dua tahun ia tidak mengunjungi rumah itu. Bunga mengintip ke dalam melalui jendela yang gordennya sedikit terbuka. Hanya tatanan ruang tamu saja yang berubah. Sekarang adalah H-14 menjelang Lebaran. Tatanan ruang tamu akan berubah seperti ketika dua tahun lalu ia terakhir ke sini. Bunga mengetuk pintu dan mengucap salam. Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia berjalan ke samping rumah. Dan benar saja. Pintu rumah samping tidak terkunci. Ia membuka pintu perlahan dan masuk sambil mengucap salam. Ketika salam yang ketiga baru ada jawaban dari suara parau. Bunga cukup mengenal suara itu.
Itu suara Mbah Uti. Pikirnya.
Pemilik suara itu keluar kamar. Bunga sudah lama tidak melihat sosoknya. Tidak jauh berbeda dari dua tahun lalu. Bunga menghampiri Mbah Uti dan menyalaminya. Namun Mbah Uti masih terdiam seperti berusaha mengingat–ingat. Pengelihatan Mbah Uti juga berkurang, sehingga sebelum mengingat ia juga harus berusaha mengenali sosok Bunga.
“Ini Bunga, Mbah.”
“Ohh... Bunga... anaknya Surya, ya,” ujar Mbah Uti dengan perlahan. Maklum, ingatan Mbah Uti pun ikut menua mengiringi dirinya.
“Iya Mbah.”
“Ayahnya mana?”
“Ayah masih di rumah Mbah. Bunga ke sini sendirian dari Surabaya. Soalnya kan, kuliahnya udah libur.”
“Ohh iya, ya.”
Bunga dapat melihat kekecewaan di mata Mbah Uti.
“Ya udah, istirahat dulu. Pasti kan capek perjalanan dari Surabaya ke sini. Ntar ya, Mbah siapin kamarnya.”
“Eh, gak usah Mbah. Biar aku aja. Mbah Uti lanjutin aja istirahatnya.”
“Ya udah, itu kasurnya di kibas dulu. Soalnya udah lama gak ditempati,” ujar Mbah Uti sambil kemudian melihat jam dinding. “Udah adzan belum?”
Bunga melihat jam di tangannya. Mungkin Mbah Uti udah gak bisa liat jam lagi.
“Belum asar, kok, Mbah. Bentar lagi.”
Mbah hanya mengangguk pelan, kemudian berjalan ke belakang. Langkahnya sudah mulai melambat. Badannya pun sudah semakin membungkuk. Bunga yang menyaksikan dari belakang kemudian tersenyum kecil.
Bunda pun akan seperti itu.
Bunga masuk ke kamar. Dan benar saja...
Kamar ini memang udah lama gak ditempati. Mbah pasti kesepian.
Tidak butuh waktu lama untuk membersihkan kamar yang sudah rapi itu. Hanya perlu membersihkan sedikit debu-debu yang menempel, menyapu dan mengganti sprei.
“Ini spreinya,” Mbah Uti datang dengan membawa sprei yang masih baru.
“Makasih, Mbah.”
“Bunga puasa?”
“Puasa, kok, Mbah,” jawab Bunga sambil memasang sprei.
“Oh, kalo nggak puasa ada mie di dapur.”
“Iya, Mbah. Oh iya Mbah, Mbah Kung mana, Mbah?”
Belum sempat Mbah Uti menjawab, terdengar suara langkah kaki yang diseret.
“Itu Mbah udah bangun,” jawab Mbah Uti.
Sosok itu keluar dari kamarnya dengan badan bungkung dan langkah yang gemetar. Di tangan kanannya menggenggam kayu panjang. Kayu yang digunakan sebagai tongkat. Langkahnya begitu perlahan. Mungkin hanya tiga langkah per menit. Bunga menghampiri Mbah Kung untuk membantunya menuju kursi terdekat.
Mbah Kung menatap wajah Bunga dengan dahi mengkerut seperti berusaha mengingat-ingat. “Ini siapa?” Tanya Mbah Kung. Pengelihatan Mbah Kung juga sudah sangat berkurang.
“Bunga, Mbah.”
“Bunga siapa?” Dan pastinya begitu pula dengan ingatannya.
“Anaknya Surya,” jawab Mbah Uti.
Mbah Kung terdiam sejenak. Tidak ada respon dari Mbah Kung. Kemudian Mbah Kung melanjutkan langkah kakinya menuju tempat yang biasanya didudukinya. Meski Bunga menggandeng Mbah Kung, itu tidak membantu dalam mempercepat langkah Mbah Kung untuk mencapai kursi yang biasa didudukinya. Namun setidaknya Bunga dapat menjaga langkah Mbah Kung yang sudah gemetar.
Mbah Kung membutuhkan kursi roda.
Setelah lima menit, akhirnya Mbah Kung sampai juga di kursi yang biasa didudukinya. Padahal jika Bunga yang berjalan, hanya butuh satu menit dengan jarak yang sama. Bunga mengambil tempat duduk disamping Mbah Kung. Mbah Kung masih terdiam dengan tongkat di kedua genggaman tangannya yang ditegakkan didepan wajahnya.
“Kamu siapa?” Tanya Mbah Kung lagi. Mata tuanya seperti berusaha menggapai dan mengenali wajah Bunga. Namun rupanya ingatannya sama sekali tidak memberikan jawaban.
“Bunga, Mbah,” jawab Bunga perlahan.
“Anaknya Surya, Mbah,” sahut Mbah Uti yang datang dengan membawa permen.
“Surya?”
“Iya, Surya anak kita,” jawab Mbah Uti untuk memperjelas.
“Sekarang Surya mana?” Tanya Mbah Kung lagi.
“Ayah masih di rumah, Mbah,” jawab Bunga. “Insya Allah lebaran besok ke sini.”
Tidak ada respon dari Mbah Kung.
“Surya masih di rumahnya Kalimantan sana. Insya Allah lebaran ini pulang,” Mbah Uti memperjelas lagi.
Mbah Kung menyandarkan tubuhnya di kursi. Tatapan matanya kosong ke depan. Seperti baru ada harapan yang pergi.
“Ini kasih, Mbah Kung ntar kalo pengen. Mbah Kung udah nggak puasa, nduk,” Mbah Uti menyodorkan pemen kopi. “Mbah shalat dulu, yaa.”
“Iya, Mbah.”
Bunga terdiam menatap Mbah Kung.
“Mbah Kung mau permen?”
Tidak ada jawaban dari Mbah Kung untuk beberapa saat. Namun kemudian Beliau menoleh ke arah Bunga. “Lebaran kapan to?”
Sepertinya Mbah Kung dari tadi memikirkan kapan lebaran akan tiba. Karena saat itu Mbah Kung akan bertemu dengan anak-anaknya. Dan itulah yang paling diharapkan oleh orang tua seperti Mbah Kung.
“Sekarang puasa ke-20, Mbah. Berarti lebarannya sepuluh hari lagi,” jawab Bunga. “Tapi Insya Allah Ayah pulang dua hari sebelum lebaran.”
“Kenapa nggak sekarang aja to?”
“Kalo sekarang, kan, Ayah masih kerja, Mbah,”
Keduanya terdiam sejenak.
“Oh, kapan Ayahmu ke sini?”
Baru saja Bunga menjawab pertanyaan Mbah Kung itu. Tapi sepertinya Mbah Kung sudah lupa. Bunga seperti menghadapi anak kecil. Memang sudah kodratnya ketika manusia semakin menua, maka sifat dan perilakunya akan kembali seperti anak kecil. Bunga berusaha untuk memahaminya.
“Seminggu lagi, Mbah,” jawab Bunga dengan sabar.
“Ha?”
“Seminggu lagi, Mbah,” jawab Bunga dengan nada lebih tinggi. Rupanya pendengaran Mbah sudah sangat berkurang.
“Oalah. Lha, tadi ke sini naik apa?”
“Naik kereta. Terus dari stasiiun ke sini naik becak, Mbah.”
“Hm...,” guman Mbah Kung. “Itu apa?” Mata Mbah Kung tertuju pada permen yang dibawa oleh Bunga. “Itu permen, to?” Rupanya Mbah Kung masih bisa mengenali sesuatu yang sering ditemuinya.
“Iya. Mbah Kung mau?” Tanya Bunga
“He-eh.”
Bunga membukakan permen kopi itu untuk Mbah Kung. Rencananya Ia akan tinggal di sana cukup lama. Sekaligus ayahnya memintanya untuk membantu dan menemani Mbah Kung dan Mbah Uti. Awalnya ia menolak karena ia ingin pulang ke rumah. Namun setelah mendapat tawaran handphone baru, Ia baru menerima tawaran tersebut walaupun dengan berat hati.
Selama Bunga di rumah Kakek-Neneknya, Ia hanya membatu pekerjaan rumah, karena Kakek-Neneknya sudah tidak mampu lagi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat seperti mengepel, mencuci baju, dan menyapu halaman. Selebihnya Ia lebih banyak menemani Mbah Uti dan Mbah Kung dengan mengobrolkan tentang masa lalu. Mbah Uti yang ingatannya masih lebih baik dari pada Mbah Kung, banyak menceritakan tentang sejarah bangsa Indonesia, khususnya apa yang terjadi kepada mereka, juga tentang masa kecil Ayah, Om, dan Tante Bunga.
“Dulu, Om Ragil, tu paling susah disuruh sekolah. Dimasukin pondok, eh malah pulang-pulang terus,” cerita Mbah Uti. “Kalo pulang pasti minta sangu,” cerita Mbah uti sembari tertawa. “Ya makannya itu sekolahnya cuma sampe SMA.”
“Hm... Ya Ampun, Om Ragil,” sahut Bunga. “Tapi malah sekarang yang paling sukses ya, Mbah.
“Semuanya sukses, Nduk.”
“Ya... maksudnya...,” belum sempat Bunga melanjutkan ucapannya Mbah Uti sudah memotong dengan kembali bercerita.
“Ragil itu perhitungan sekali,” ujar Mbah Uti sembari tertawa. “Makannya pinter kalo jualan.”
Banyak kisah kenakalan juga kebanggaan yang diceritakan oleh Mbah Uti. Tidak ada guratan penyesalan di mata Mbah Uti ketika menceritakan kisah kenakalan anak-anaknya. Justru tawa kebahagiaan yang mengiringi ceritanya. Seperti ingin mengulang kembali ke masa itu. Juga tentang bagaimana Mbah Uti dan Mbah Kung berusaha hidup dan menghidupi anak-anaknya ketika zaman penjajahan. Bunga seperti bernostalgia dengan guru sejarahnya. Menurut Mbah Uti, Jepang yang menjajah walaupun hanya selama 3,5 tahun masih lebih kejam dari pada Belanda yang menjajah selama 3.5 abad. Walaupun menjajah Indonesia, Belanda juga membangun sarana pra sarana di Indonesia yang digunakan sampai saat ini, seperti rel kereta api, jalan-jalan, dan gorong-gorong. Bunga hanya tersenyum mendengar pendapat Mbah Uti. Tetap saja tidak ada yang lebih baik. Karena bagaimana pun juga Belanda menyumbangkan cukup besar dalam hal pembangunan mental bangsa.
Di sisi lain Bunga melihat, mungkin Mbah Uti memang membutuhkan teman untuk berbagi bercerita. Mbah Kung sudah tidak lagi bisa mendengarkan cerita Mbah Uti sebagaimana pendengar yang baik. Namun setidaknya mereka adalah teman yang akan menua bersama. Bunga tidak sampai hati jika hal tersebut terjadi kepada kedua orang tuanya. Namun semua orang tua akan mengalaminya. Bahkan mungkin sekarang Ayah dan Bundanya sudah mengalaminya. Ia beserta kakak dan adiknya sudah tinggal jauh dari orang tua. Kakaknya sudah bekerja dan ditempatkan jauh di pedalaman. Sedangkan ia dan adiknya kuliah di luar kota, sehingga mengharuskan mereka untuk kos. Maksimal mereka akan pulang kerumah enam bulan sekali ketika libur semester. Dan belum tentu ketika semua anggota keluarga berkumpul di rumah. Karena libur semester tiap universitas berbeda-beda. Terlebih kakaknya yang sudah bekerja, yang hanya bisa pulang ketika mengambil cuti atau libur lebaran dan akhir tahun. Bunga selalu berpikiran mengapa tidak salah satu dari anak-anak Mbah membawa Mbah Kung dan Mbah Uti untuk tinggal bersama. Lagipula merawat mereka dengan mengajak tinggal bersama tidak akan menghabiskan biaya yang besar.
Hm... Bunga hanya berguman kecil. Mungkin belum saatnya ia mengerti.
*****************************************************************************
Tidak sengaja Bunga mendapati Mbah Uti menatap dalam foto masa lalu anak-anaknya yang sudah sangat kusam dan berdebu.
Mbah Uti pasti lagi kangen anak-anaknya.
“Pasti menyenangkan menjadi seorang Ibu.”
Mbah Uti tersentak karena ucapan Bunga yang tiba-tiba. Kemudian Ia menghela napas panjang.
“Ya, sangat bahagia,” jawab Mbah Uti. “Karena kita...,” semua ucapan itu seperti mengalir begitu saja dari relung hati seorang Ibu. “Nanti kamu akan tau sendiri, Nduk.”
“Mbah Uti nggak kesepian?” Tanya Bunga
“Mbah udah biasa, Nduk.”
“Hm...”
Dan seperti ikut merasakan kebahagiaan Mbah Uti, mata Bunga berkaca-kaca nyaris meneteskan air mata. Dari merasakan bagaimana bahagianya menyambut kelahiran putra-putrinya, mengiringi masa kecil mereka, sampai sedihnya ditinggal karena anak-anaknya telah memiliki kehidupan masing-masing. Apa pun kisah anak-anaknya, tetap air mata haru yang keluar dari mata Mbah Uti yang jelas terlihat keriputnya.
Suara langkah kaki diseret. Rupanya Mbah Kung terjaga dari tidurnya. Mbah Kung ikut berbagi cerita bersama kami. Tapi Beliau lebih banyak mendengarkan dan terkadang sedikit berkomentar untuk sekedar membenarkan apa yang diceritakan oleh Mbah Uti. Bunga tidak dapat menggambarkan perasaan Mbah Kung sebagaimana Bunga seperti juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mbah Uti. Tapi yang jelas ada guratan bahagia juga di wajah Beliau. Semua seperti terangkum dalam satu malam. Namun rangkuman itu belum selesai selama insan yang berperan didalamnya masih ada. Karena masih akan ada kisah-kisah selanjutnya. Dan sayangnya rangkuman ini berakhir pada hari lebaran. Tepat setelah adzan ashar, Mbah Uti tutup usia.
Bagaikan firasat, ketika malam kedua bercerita dengan Bunga, Mbah Uti sempat mengatakan bahwa, Beliau sangat bersyukur karena telah diberkati putra-putri yang sangat ia sayangi. Juga bagaimana dengan bahagianya Mbah Uti menceritakan kisahnya dengan Mbah Kung yang sebenarnya terselip kata terima kasihnya untuk Mbah Kung karena sudah menemaninya menapaki kehidupan bersama. Dan yang paling jelas adalah ketika Mbah Uti mengucapkan terima kasihnya kepada anak-anaknya karena telah terlahir sebagai putra dan putri dari Mbah Kung dan Mbah Uti.
“...klo bisa ngomong, Mbah pengen bilang makasih sama anak-anak Mbah. Soalnya sudah mau lahir jadi anak-anak Mbah...”

Yogyakarta, 11 September 2014
Sovia Sandhi Zahra