Sabtu, 11 Oktober 2014

Gara-Gara Facebook


Bunga membuka akun facebooknya. Kemudian ia membuka akun facebook teman lamanya.

Masih belum dikonfirmasi. Belum ada balesan juga dari orang-orang itu.

Ia membuka tab twitternya. Tidak ada balasan follow dari teman lamanya pula. Ia juga pesimis dengan twitter karena sudah sangat lama, terakhir kali temannya update twit. Sebenarnya sekitar setahun yang lalu ia sudah berusaha mencari teman lamanya tersebut. Beruntung teman lamanya tersebut menggunakan nama asli, sehingga ia dapat menemukannya di facebook. Namun karena lama tidak dikonfirmasi oleh temannya tersebut, Bunga membatalkan permintaan pertemanannya. Namun belakangan ia teringat akan teman lamanya tersebut, dan kembali mengirimkan permintaan pertemanan ke teman lamanya tesebut. Namun respon yang sama seperti setahun yang lalu kembali ia dapatkan.

Nggak dikonfirmasi dari Dika.

Ia pun mengirimi Dika pesan. Namun masih belum berhasil, karena sama sekali tidak dibaca oleh Dika.

Namun ternyata Bunga baru sadar bahwa Dika mengupdate foto profil terbarunya. Akhrinya kini antara setengah kesal, Bunga pun akhirnya berinisiatif mengirimi seseorang yang Dika tautkan sebagai pacarnya di facebook.

Halloo
Sorry, kamu bener pacarnya Tara Dika yang dulu pernah sekolah di Harapan Mulia, Ponorogo?
Kalo boleh aku bisa minta nomor hpnya gak? Soalnya aku inbox di fb gak dibales-bales sama dia. Permintaan pertemananku juga gak dikonfirm sama dia. Minta tolong juga supaya konfirm pertemananku di fb.
Makasih sebelumnya, sorry ngerepotin.

Pesan-pesan serupa juga Bunga kirimkan kepada beberapa teman Dika di Facebook. Tidak ada balasan setelah sehari Bunga mengirimi teman-temannya pesan. Ia mulai kesal karena ini adalah cara terakhir yang bisa ia gunakan selain menunggu. Ia pun membuka galeri foto Dika yang dapat dilihat oleh semua pengguna Facebook. Walaupun hampir enam tahun tidak bertemu, Bunga yakin bahwa itu adalah Dika, teman lamanya. Bayangannya pun melayang menuju enam tahun silam.
Bunga menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali pulang. Ia teringat bagaimana terakhir kali ia bertemu dengan keluarganya.

“Bunga tidur, aja. Biar gak tau Ibu pulang,” kata Ibu Bunga.
“Nggak mau. Pokoknya kalo pulang harus pamit,” rengek Bunga.
“Nanti nangis.”
“Aaah, nggak mau.”
“Iya, iya. Ya udah, sekarang tidur,” ajak Ibu Bunga.
“Tapi nanti kalo Ibu mau pulang, terus Bunga ketiduran, bangunin, ya.”
“Iya.”

Mata Bunga tidak bisa terpejam karena kesedihannya bahwa akan ditinggal oleh keluarganya.

“Kok gak tidur-tidur?” Tanya Ibu Bunga setelah sekian lama menemani di samping Bunga.
“Nggak bisa tidur, Bu.”
“Takut ditinggal, ya.”

Bunga tidak mampu menjawab. Tenggorokannya seperti tersumbat air mata. Jika dipaksakan untuk bicara, suaranya akan bergetar dan air matanya akan keluar. Ayah memberi isyarat kepada Ibu bahwa kedua adik Bunga sudah mulai rewel. Ibu paham.

“Bunga, Ibu sama Ayah pulang dulu, ya. Kata Ayah, Dirga sama Restu udah ribut aja dari tadi,” ujar Ibu dengan berat hati. Intonasi pengucapannya perlahan agar air matanya tidak keluar. Sebenarnya Ibu ingin sekali menangis karena berpisah dari anak sulungnya. Namun Beliau tidak ingin terlihat sedih di mata Bunga. Agar Bunga pun kuat menjalani kehidupannya di asrama puteri tersebut. “Bunga di sini aja. Nggak usah keluar.”

“Bunga ikut nganterin aja, Bu,” rengek Bunga.
Ibu tidak bisa berkata banyak. “Ya udah, ayo.”

Bunga ingin sekali menangis. Namun ia malu dengan Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Bunga tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, karena takut air matanya jatuh.

“Udah, Bunga masuk aja,” kata Ibu karena tidak ingin Bunga melihat kepergian mereka. “Belajar yang baik. Betah-betahin di asrama, ya,” ujar Ibu sambil mengusap pipi Bunga. “Udah, masuk.”
Bunga pun mengikuti perintah Ibunya, berbalik dan masuk.

“Assalamu’alaikum,” salam Ibunya.

Bunga tidak mampu menjawab. Bibirnya terkunci untuk menahan air mata terjatuh.

Tiba-tiba tangisan Bunga terhenti, begitu juga dengan ingatannya tentang keluarganya begitu mendengar pintu kamarnya diketok. Ia segera menyeka air matanya dan berkaca.

“Bunga!” Panggil suara dari luar.

Kenapa tiba-tiba Ibu Pengasuh ke sini, ya?

“Iya, Bu, sebentar.”

Ia menaburkan bedak ke wajahnya agar tidak terlihat habis menangis. Kemudian ia membuka pintu.

“Nah, Bunga, ini Dika. Dia bakal jadi temen kamarmu,” ujar Ibu Pengasuh.

Bunga dan Dika saling melempar senyum.

“Sekarang kamu nggak sendirian lagi,” kata Ibu pengasuh lagi kepada Bunga. “Dika, ini udah semua (barang-barang Dika)?
“Udah, Bu,” jawab Dika yang pada saat itu membawa koper besar dan bantal dan guling.
“Ya udah, kamu tata barang-barangmu. Biar nanti bisa ikut jama’ah di masjid asrama,” kata Ibu Pengasuh lagi. “Bunga, kamu juga jangan lupa ikut jama’ah di masjid asrama.”
“Iya, Bu,” jawab Bunga.

Itu adalah saat pertama Bunga mengenal Dika. Pertama, mereka saling bertukar informasi mengapa mereka dipindahkan di kamar bangsal khusus. Karena siapa pun yang dipindahkan ke bangsal khusus ini, adalah mereka yang memiliki masalah yang cukup serius dengan peraturan asrama. Teman sekamar Bunga sebelumnya adalah seorang perokok berat dan minum-minuman beralkohol. Bahkan di kamar, temannya itu berani menyimpan rokok. Bunga tidak mampu berbuat banyak karena ia adalah senior. Namun beberapa saat setelah dipindahkan ke bangsal khusus, akhirnya seniornya tersebut keluar dari asrama.

Berbeda dengan Bunga yang dipindahkan karena melanggar berbagai peraturan departemen, Dika mengajukan dirinya sendiri untuk dipindahkan ke bangsal khusus ini.

“Kamu ngajuin diri?”
Dika hanya mengangguk.
“Ck..ck..ck..”
“Kalo kamu?”
“Kalo aku karena ngelanggar banyak departemen.”
“Apa aja?”
“Departemen pramuka, karena aku gak pernah ikut pramuka. Departemen bahasa, karena aku gak pernah pake bahasa. Departemen keamanan, karena aku sering ketahuan kabur dari asrama. Departemen ibadah, karena aku jarang ke masjid.”
“Gila!” Sentak Dika.

Setelah itu, banyak hal bodoh dan nakal yang mereka lakukan. Bahkan mungkin lebih sering dan berani dari sebelumnya karena mereka merasa memiliki kekuatan karena bersama. Mereka semakin lama semakin sering membolos pada jam pelajaran untuk pergi bermain ke kampung. Dan beberapa kali mereka kabur ke rumah sanak saudara Bunga yang berada di lain kota. Sehingga kaburnya mereka dapat dikategorikan pelanggaran terberat yang mereka lakukan. Terakhir kali mereka kabur, Dika dipanggil oleh Ibu Konsulat Bangka Belitung. Setiap daerah memiliki konsulat. Bunga pernah diperingati Ibu Konsulatnya ketika ia kabur pertama kali. Namun sepertinya Ibu Konsulatnya tidak peduli lagi terhadapnya.

“Kamu kenapa dipanggil, Dik?” Tanya Bunga, yang ternyata menunggu Dika di depan kantor konsulat.
“Nggak papa,” jawab Dika.
Bunga tidak puas dengan jawaban Dika. Ia merasa Dika menyembunyikan sesuatu darinya.

Mereka pun kembali ke kamar bersama.

“Ng... Dika, mendingan... sekarang kamu... jangan main sama aku lagi,”
“Kenapa?”
“Kayaknya Ibu Konsulat kamu gak suka kamu main sama aku.”
Dika hanya diam.
“Lagian sebentar lagi, kan, UTS. Kamu musti konsen.”
“Ya, kamu juga, dong.”
Bunga hanya mengangguk.
Sejenak tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.
“Hm... Sebenernya... Ibu Konsulatku... nyuruh... aku jauhin kamu.”
Bunga tidak kaget lagi dengan pernyataan itu. Sudah seperti yang ia duga.
“Ibu Konsulatmu bener, sih. Kita udah terlalu jauh nakalnya,” ujar Bunga.
“Aku jadi sedih kalo inget orang tua,” kata Dika.
Bunga mengangguk pelan. Ia jadi merasa bersalah kepada Dika, juga kepada orang tua Dika, terlebih Ayah Ibunya.

“Bunga!”
Bunga terbuyar dari nostalgianya, begitu Ibu memanggilnya.
“Iya, Bu.”
“Sendoknya udah dimasukin koper?”
“Udah, Bu.”

Beberapa hari lagi Bunga akan berangkat ke Surabaya untuk kuliah. Tahun ini merupakan tahun pertama ia kuliah. Sehingga ia harus membawa perlengkapan kos yang bisa dibawa untuk meminimalisir pengeluaran.

Ah, iya!! Bunga teringat sesuatu.

Ia membuka profil Dika.

Semoga bisa dilihat. Nah ini dia!!

Bunga membaca profil Dika yang ternyata tidak di privasi oleh Dika.

Akan banyak cerita ketika kita sudah terhubung nanti.

Bunga menutup laptopnya dan pergi ke kamar mandi untuk persiapan tidur.
Keesokan harinya terdapat satu pesan di Facebooknya. Ia buru-buru membukanya.

Semoga dari salah satu dari orang-orang itu.

Restu Putra:
Ini nomor dika: 082227568817

Bunga terbelalak senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan nomor Dika. Balasan tersebut dari pacar Dika.

Bunga Semesta:
Makasih banyak ya

Bunga mencatat nomor tersebut dan segera mengirimkan SMS ke Dika.

Bunga:
Hallo, ini bener Tara Dika yg dulu pernah sekolah d MTs Harapan Mulia Ponorogo?

Kirim

Muncul tanda centang yang artinya pesan tersebut diterima.

Berarti nomornya masih aktif.

Tidak berapa lama diterima balasan dari kontak bernama Dika.

Dika:
Iya, ini siapa ya?

Bunga senang sekali. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya.

Bunga:
Ini Bunga yg dulu pernah sekamar sama u d bangsal khusus.

Dika:
Ohh iya, yang dulu pernah kabur bareng-bareng, ya. Tapi aku lupa-lupa inget Bung, sama wajahmu.

Bunga:
Iya emang udh lama sih. Aku udah add u d fb dik. Udh dari setaun yg lalu. Tapi kamu lama gak u konfirm. Ya udh aku batalin. Seminggu lalu aku add u lg. Tapi lama gak u konfirm lg. Akhirnya aku kirimin beberapa temen u pesen u/ minta no u. Yg bales cuma pacar u itu.

Dika:
Maaf ya bung. Udah lama banget ya. Aku jadi keinget kisah2 kita dulu J

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget J. Sampe2 kita...

“Bunga, Ibu minta tolong, dong,” belum selesai Bunga mengetikkan pesan, Ibu memanggil dari dapur.
“Iya, Bu. Bentar,” Bunga menghapus beberapa kata karena ia tahu Ibu akan minta tolong dibelikan kopi. Karena ada tamu datang.

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget deh pokoknya J.
Eh dik. Aku dipanggil Ibuku. Next time kita lanjut ya

Bunga meletakkan handphonenya dan beranjak ke dapur. Dan benar saja. Ibu minta tolong untuk dibelikan kopi di warung dekat rumah, sekaligus membuatkan kopi kedua tamu Ayah yang datang, karena Ibu harus segera berangkat pengajian. Bunga pun dengan cekatan meluncur ke warung samping rumah untuk membeli kopi instan dan menyeduhnya untuk kedua tamu Ayah.

Bunga sedikit mencicipi kopi yang ia tuangkan seujung sendok ke telapak tangannya. Pas

Bunga mengantarkan kopi untuk tamu-tamu Ayah. Dan segera kembali ke kamar untuk melihat handphonenya.

Ada balasan dari Dika

Dika:
Oke Bunga

Kemudian muncul pemberitahuan baru bahwa permintaan pertemanannya dikonfirmasi oleh Dika. Beberapa saat kemudian di beranda muncul update dari Dika yang membuat Bunga tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Bunga men-share ulang status dari Dika. dan menambahkan kalimat,
"Pengalaman yang tak terlupakan. Akan ada obrolan yang sangat panjang ketika kami bertemu nanti."