Selasa, 13 Oktober 2015

Fenomena Gajah Terbang

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang Fenomena Gajah Terbang? Ya, mungkin sebagian kita pernah membacanya dari buku Hanum Salsabiela Rais yang judulnya Berjalan Di Atas Cahaya. Salah satu sub judul ceritanya bercerta tentang Fenomena Gajah Terbang. Aku belum tahu pasti dari mana asal cerita ini. Tapi sebenarnya cerita ini hanya analogi yang digunakan untuk menyadarkan kita mengenai fenomena latah yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita.

Fenomena Gajah Terbang ini menganalogikan fenomena latah ini dengan seseorang yang tiba-tiba berteriak, “Lihat!! Ada gajah terbang di langit!”

Kemudian salah satu dari sekian banyak orang yang mendengar mengatakan, “Tidak ada gajah terbang di langit itu!”

Lantas orang yang berseru bahwa ada gajah terbang di langit berkata, “Astaga, apa kalian punya penyakit mata atau bagaimana? Tidakkah kalian melihat gajah sebesar itu terbang di langit?”

Lantas orang akan berseru mempercayainya satu persatu.

“Oh, ya, aku melihatnya! Luar biasa, ia memiliki sayap yang indah!

Kemudian orang lain yang sebenarnya tidak melihat akan ikut berseru juga, “Lihatlah! Ada seseorang yang naik diatasnya.”

Sumber: www.kusukasuka.com

Lantas apa yang akan kita lakukan jika kita berada di dalam keramaian itu?

Dalam hati tentu kita akan mengatakan, bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu. Tapi sanggupkah kita mengatakannya secara lantang bahwa kita memang tidak melihat gajah terbang itu? Atau kita ikut mengatakan bahwa kita melihat gajah terbang tersebut? atau justru kita hanya diam untuk mencari pilihan aman. Jika kita memilih untuk mengatakan bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu, kita harus terima untuk dikatakan memiliki penyakit mata atau bahkan bodoh. Sedangkan jika kita mengatkan bahwa kita melihat gajah terbang itu, tentu kita akan membohongi hati nurani kita sendiri, bahwa kita memang tidak melihat gajah terbang tersebut.

Inilah yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Terlebih di era informasi saat ini, media sangat mudah dalam membentuk persepsi masyarakat, mengingat juga media memiliki agenda-agenda setting media. Sehingga persepsi masyarakat akan menjadi seragam, tergantung agenda setting apa yang sedang media jalankan. Televisi seolah menjadi trendsetter fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Contoh paling kecil saja. Teknologi. Teknologi baru yang digunakan ditelevisi. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Dengan televisi, dalam waktu sepersekian detik, teknologi terbaru tersebut sudah bisa tersebar ke seluruh Indonesia. Perlahan sekelompok masyarakat mulai beranggapan bahwa teknologi yang ada di televisi tersebut patut dimiliki, jika tidak ingin dikatakan jadul. Tidak hanya pada teknologi, hal ini juga terjadi pada fashion, bahasa, gaya hidup, dan pemikiran.

Seperti misalnya, jika kita ke kampus menggunakan gaya pakaian yang berbeda dari kebanyakan teman, mungkin kita akan dikatakan aneh, ekstrem atau apa pun itu. Acuhkan saja. Selama kita tidak melanggar etika dan estetika berpakaian berdasarkan situasi dan kondisi, acuhkan saja. Be different guys!! Be someone who brave to shout out what we see and think. Bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita berbeda. Namun yang terpenting adalah untuk menunjukkan kepada mereka yang masih diam, bahwa mereka memiliki teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar