Pernahkah kalian mendengar
cerita tentang Fenomena Gajah Terbang? Ya, mungkin sebagian kita pernah
membacanya dari buku Hanum Salsabiela Rais yang judulnya Berjalan Di Atas
Cahaya. Salah satu sub judul ceritanya bercerta tentang Fenomena Gajah Terbang.
Aku belum tahu pasti dari mana asal cerita ini. Tapi sebenarnya cerita ini
hanya analogi yang digunakan untuk menyadarkan kita mengenai fenomena latah
yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita.
Fenomena Gajah
Terbang ini menganalogikan fenomena latah ini dengan seseorang yang tiba-tiba
berteriak, “Lihat!! Ada gajah terbang di langit!”
Kemudian salah
satu dari sekian banyak orang yang mendengar mengatakan, “Tidak ada gajah
terbang di langit itu!”
Lantas orang yang
berseru bahwa ada gajah terbang di langit berkata, “Astaga, apa kalian punya
penyakit mata atau bagaimana? Tidakkah kalian melihat gajah sebesar itu terbang
di langit?”
Lantas orang akan
berseru mempercayainya satu persatu.
“Oh, ya, aku
melihatnya! Luar biasa, ia memiliki sayap yang indah!
Kemudian orang
lain yang sebenarnya tidak melihat akan ikut berseru juga, “Lihatlah! Ada
seseorang yang naik diatasnya.”
Lantas apa yang
akan kita lakukan jika kita berada di dalam keramaian itu?
Dalam hati tentu
kita akan mengatakan, bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu. Tapi
sanggupkah kita mengatakannya secara lantang bahwa kita memang tidak melihat
gajah terbang itu? Atau kita ikut mengatakan bahwa kita melihat gajah terbang
tersebut? atau justru kita hanya diam untuk mencari pilihan aman. Jika kita
memilih untuk mengatakan bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu, kita
harus terima untuk dikatakan memiliki penyakit mata atau bahkan bodoh.
Sedangkan jika kita mengatkan bahwa kita melihat gajah terbang itu, tentu kita
akan membohongi hati nurani kita sendiri, bahwa kita memang tidak melihat gajah
terbang tersebut.
Inilah yang
sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Terlebih di era
informasi saat ini, media sangat mudah dalam membentuk persepsi masyarakat,
mengingat juga media memiliki agenda-agenda setting media. Sehingga persepsi
masyarakat akan menjadi seragam, tergantung agenda setting apa yang sedang
media jalankan. Televisi seolah menjadi trendsetter fenomena-fenomena yang
terjadi di masyarakat. Contoh paling kecil saja. Teknologi. Teknologi baru yang
digunakan ditelevisi. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyebarkannya ke
seluruh Indonesia. Dengan televisi, dalam waktu sepersekian detik, teknologi
terbaru tersebut sudah bisa tersebar ke seluruh Indonesia. Perlahan sekelompok
masyarakat mulai beranggapan bahwa teknologi yang ada di televisi tersebut
patut dimiliki, jika tidak ingin dikatakan jadul. Tidak hanya pada teknologi,
hal ini juga terjadi pada fashion, bahasa, gaya hidup, dan pemikiran.
Seperti misalnya,
jika kita ke kampus menggunakan gaya pakaian yang berbeda dari kebanyakan
teman, mungkin kita akan dikatakan aneh, ekstrem atau apa pun itu. Acuhkan
saja. Selama kita tidak melanggar etika dan estetika berpakaian berdasarkan
situasi dan kondisi, acuhkan saja. Be different guys!! Be someone who brave to
shout out what we see and think. Bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita
berbeda. Namun yang terpenting adalah untuk menunjukkan kepada mereka yang
masih diam, bahwa mereka memiliki teman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar