Judul Buku : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 2013
Cetakan : Ke-3
Tebal Buku : 359 Halaman
Buku ini merupakan
sekuel kedua dari buku Tere Liye sebelumnya yang berjudul Negeri Para Bedebah.
Jenis cerita yang disajikan tidak jauh berbeda dari buku sebelumnya. Masih
seputar petarungannya melawan birokrasi bobrok negeri bedebah. Namun
kali ini Thomas berhadapan dengan lawan yang lebih besar dan kuat. Bahkan Opa,
Kadek, dan Maryam, Wartawan yang baru saja dikenalnya turut terseret. Mereka
berempat menjadi buronan Kepolisian Hong Kong karena tertangkap basah membawa
narkoba di yacht pribadinya. Namun Thomas selalu bisa mengatasi segalanya.
Ia menyakini kejadian demi kejadian yang menimpanya, dari adanya narkoba di yacht
pribadinya, sampai penangkapan klien politiknya yang akan maju dalam pemilihan
presiden tahun depan, direkayasa. Dan ia juga menyadari bahwa pertarungannya
di masa lalu belum usai. Sayangnya alih-alih para bedebah yang menempati
posisi-posisi penting dan tinggi di negeri tersebut, membuat Thomas harus mengalami
jatuh bangun dalam melawan mereka. Ditangkap-lolos-ditangkap-lolos-ditangkap.
Dengan bantuan
sekertaris dan karyawannya, Thomas akhirnya mendapatkan petunjuk siapa saja
yang harus bertanggung jawab atas segala kekacauan hukum negeri tersebut.
Banyak dari mereka adalah pejabat instasi pemerintah, baik pajak, kepolisian
maupun hukum. Beberapa lagi adalah para pejabat partai. Konspirasi besar ini
yang akhirnya ia sebut sebagai Mafia Hukum. Konspirasi yang melibatkan banyak
lembaga hukum, dari Kepolisian, Pengadilan, sampai Mahkamah Konstitusi tersebut
semakin menyulitkan Thomas untuk mengumpulkan kekuatan serangan balik. Sampai
akhirnya ia menemukan dukungan dari satu-satunya lembaga yang masih bersih dan
tidak terkait dengan mafia hukum tersebut. Sayangnya konspirasi besar tersebut
terlalu besar dan kuat untuk hanya dilawan oleh opini pakar politik dan
satu-satunya institusi yang mendukung Thomas . Institusi apakah yang mendukung
Thomas? Mampukah Thomas bertahan menghadapi para mafia hukum tersebut? Juga
membongkar satu-satunya dalang dibalik konspirasi besar Negeri di Ujung Tanduk
tersebut?
Kisah dalam novel
ini sangat dekat dengan cerita perpolitikan negeri kita (Indonesia). Sepertinya
Tere Liye terinspirasi dengan perpolitikan Indonesia, kemudian mengadopsi dan tentunya
mengimprovisasi berdasarkan imajinasinya. Ia juga cukup banyak menggunakan
bahasa politik. Sehingga memaksa pembaca untuk membuka kamus sejenak. Namun
bagi pembaca yang suka mengikuti cerita politik negeri ini, maka tidak akan
susah dalam memahami penggunaan bahasa politik di novel ini. Bahkan pembaca bisa
menerka tokoh dan potongan cerita dalam novel ini terinspirasi dengan siapa dan
cerita politik yang mana. Meski novel ini merupakan sekuel dari Negeri Para
Bedebah, pembaca yang belum pernah membaca novel sebelumnya tidak akan sulit
memahami jalan ceritanya. Karena ada beberapa bagian pada novel sebelumnya,
yang Tere Liye jelaskan kembali pada novel ini. Sehingga pembaca akan sering
dibawa dengan alur maju-mundur ketika membaca novel ini. Namun tentunya akan
lebih seru jika pembaca juga membaca novel sebelumnya.
Selain menyajikan
kisah konspirasi besar di negeri tersebut, Tere Liye juga menyematkan pesan
moral di akhir cerita. Seperti dalam kebanyakan novelnya, dalam novel ini
terdapat tokoh dengan karakteristik arif yang menyampaikan pesan moral melalui
dialog dengan tokoh lain. Intisari dari kisah ini adalah betapa negeri ini
sudah berada di ujung tanduk karena ketidakpedualian masyarakatnya. Mengutip
pesan moral dari novel ini bahwa, kepedulian kita hari ini akan memberikan
perbedaan berarti pada masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar