Selasa, 15 September 2015

Berjalan Di Atas Cahaya

Judul Buku    : Berjalan DI Atas Cahaya
Penulis            : Hanum Salsabiela Rais, dkk
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku    : 210 halaman

Kisah perjalanan Hanum tidak cukup berhenti di 99 Cahaya di Langit Eropa. Kini Hanum kembali menceritakan perjalanannya di Eropa, setelah mendapatkan pena dari seorang misterius ketika haji wada’. Jadilah Hamun ditakdirkan menuliskan kembali perjalanan hidup yang ia lalui di Benua Biru, Eropa. Dari perjalanan tentang misi tak mungkin, karena hanya diberi anggaran tiga ribu dollar untuk tiga orang selama delapan belas hari hidup di Eropa. Hingga anggaran yang kecil tersebut justru mempertemukannya dengan pembuat jam. Siapa sangka jam-jam bermerek terkenal dunia, seperti Rolex, Swisswatch, Hublet, Omega, Calvin Klein (CK) dan sederet merek dunia lainnya, ternyata lahir dari sebuah kota kecil. Bahkan nyaris seperti kota mati ketika hari libur.

Akan ada beragam kisah yang akan disuguhkan di dalam buku ini, karena buku ini merupakan kumpulan kisah nyata penulis-penulisnya. Kisah-kisah perjalanan dalam buku ini akan membawa kita berkeliling Eropa sejenak, dengan beragam kisah kehidupan muslim di Eropa. Namun tidak sekedar jalan-jalan. Karena akan ada pelajaran yang dapat dipetik di dalam buku ini. Kisah-kisah di dalam buku ini seperti magnet yang akan menarik keinginan kita untuk mengunjungi, bahkan tinggal di Eropa dengan segala keteraturan kehidupan masyarakatnya. Bahwa apa pun yang bukan milik mereka, mereka tidak berani menyentuhnya. Semua berjalan menyesuaikan sistem. Sungguh merupakan kehidupan yang sangat didambakan!

Bahasa yang digunakan di dalam buku ini sangat mudah dipahami, persis seperti seseorang yang sedang bercerita. Foto-foto yang ada di dalam buku ini juga sangat menunjang imajinasi pembaca. Sehingga pembaca tidak akan kesulitan untuk memvisualkan cerita-cerita yang di dalam buku ini. Singkatnya buku ini memberikan beragam kisah untuk menjadi agen muslim yang baik. Kita perlu merubah persepsi dunia tentang Islam seperti yang digembar-gemborkan oleh media saat ini. Karena setiap muslim adalah Public Relation (PR) bagi Islam. Bagi Hanum, apa pun yang manusia dengar, lihat, dan rasakan adalah cahaya dari-Nya. Itulah mengapa, manusia perlu menyadari bahwa ia selalu berjalan diatas cahaya-Nya.

Yogyakarta, 15 September 2015
Sovia Sandhi

Kamis, 10 September 2015

Kisah Sang Penandai

Judul Buku    : Kisah Sang Penandai
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : Mahaka
Tahun Terbit : 2014
Cetakan          : Ke-4

Jim mulanya hanyalah pria buta huruf, yang jatuh cinta kepada seorang Putri kerajaan negeri seberang. Seperti kebanyakan kisah cinta lainnya, hubungan cinta mereka jelas ditolak. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Jim yang pengecut untuk memperjuankan cintanya. Bahkan untuk mengakhiri hidupnya yang sudah terasa sangat pahit pun, Jim sangat takut. Namun kisah ini menjadi berbeda ketika Jim terpilih untuk menjalani sebuah dongeng hidupnya. Hanya manusia terpilihlah yang memiliki kesempatan dari Sang Penandai untuk menuliskan dongeng hidupnya, hingga sampai pada kita saat ini.

Perjalanan ke Tanah Harapan pun ia tempuh demi menyibukkan diri dari rasa sakit karena ditinggalkan kekasih hati. Rupanya dalam perjalanan itu bukan hanya Jim saja yang sedang menjalani dongeng dari Sang Penandai. Siapakah orang itu? Dongeng apa yang sebenarnya orang itu miliki? Dan mampukah Jim menyelesaikan dongeng yang diberikan oleh Sang Penandai?

Sekali lagi Tere Liye mampu membawa pembacanya kepada jalan cerita yang tidak dapat ditebak. Pembaca seperti dituntut untuk membaca hingga selesai jika ingin mengetahui keseluruhan cerita. Gaya bahasa khas Tere Liye masih digunakan dalam buku ini, baku cenderung melayu. Ada beberapa kata yang asing dalam bahasa Indonesia pada umumnya, namun Tere Liye menjelaskan pada bagian footnote, sehingga pembaca tidak akan bingung dalam memaknai istilah yang digunakan Tere Liye.

Tidak perlu berpikir keras untuk bisa melogikakan kisah dalam buku ini. Karena  memang kisah yang disuguhkan dalam buku ini tidak jauh berbeda, dengan dongeng-dongeng yang berkembang dalam masyarakat. Namun bedanya, jalan cerita dongeng ini lebih kompleks dan panjang. Pesan moral yang ingin disampaikan oleh buku ini adalah untuk memberikan kesadaran kepada kita, bahwa tidak semua dongeng yang kita dengar adalah kisah terbaik yang layak menjadi panutan. Justru sebaliknya. Ada beberapa dongeng yang sebaiknya menjadi pelajaran saja, tanpa harus menjadi panutan. Ini seperti sindiran untuk kisah Romeo and Juliet.

Yogyakarta, 10 September 2015

Kamis, 03 September 2015

Islam Gak Liberal

Judul Buku    : Islam Gak Liberal
Penulis            : Zaky Ahmad Rivai
Penerbit          : Gema Insani
Tahun Terbit : Januari 2015
Tebal Buku    : 140 Halaman; 23 cm


Ilmu pengetahuan yang berkembang sangat pesat membuat situasi dunia saat ini sedang berada pada masa perang pemikiran. Saat ini bukan lagi masanya untuk berperang dengan cara angkat senjata ,ataupun imperialisme dengan cara militer. Berperang melalui pola pikir dirasa lebih efektif dan efisien untuk menguasai dunia. Inilah salah satu yang dilakukan Zaky Ahmad Rivai untuk menyuarakan pendapatnya melalui tulisan. Dari judul buku tersebut pembaca sudah dapat menebak garis besar pembahasan buku ini.

Kebebasan yang marak digaungkan, membuat setiap orang bebas berpendapat. Bagi orang awam dalam bidang agama atau pun akademisi, akan sulit memahami secara tepat apa itu Islam Liberal. Di dalam buku ini penulis menjelaskan pengertian Islam Liberal secara lebih sederhana, dengan analogi-analogi yang dekat dengan keseharian manusia. Islam secara bahasa adalah berserah diri. Sedangkan liberal identik dengan kebebasan. Dengan menggabungkan dua kata tersebut, maka akan terjadi tumpang tindih dalam memahami istilah tersebut. Inilah yang penulis jelaskan dalam buku ini. Selain di dalam buku ini juga akan dijelaskan mengenai faktor-faktor kemunculan paham ini, yang juga akan terkait dengan paham sekulerisme, pluralisme, relativisme, dan liberalisme.

Di dalam buku ini juga dijabarkan fenomena-fenomena realistis yang mendukung, untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami buku ini. Penulis pun secara gamblang mengkritisi tokoh-tokoh dan perguruan tinggi, yang berlawanan dengan pemahaman penulis. Beberapa ayat Al-Qur’an juga disematkan untuk mendukung pernyataan-pernyataan penulis.

Gaya bahasa sederhana bahkan cenderung gaul ini, sangat memudahkan pembaca dalam memahami topik yang sebenarnya cukup berat untuk dipahami. Layout dan visual yang ada pada setiap bab cukup membantu untuk memberikan kesan santai pada buku ini. Sehingga buku yang memuat topik mengenai berbagai ideologi dan konspirasi dibelakang Islam Liberal ini akan lebih mudah dipahami. Buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami konspirasi di balik Islam Liberal secara sederhana. Mengingat buku ini ditulis dalam satu perspektif, maka pembaca dirasa perlu mencari referensi lain untuk menyeimbangkan dan melengkapi pemahaman mengenai Islam.

Yogyakarta, 3 September 2015

Yogyakarta, I'm Fall in Love

Ada nasihat mengatakan, untuk mengetahui seberapa besar kecintaanmu pada sesuatu, maka cobalah untuk pergi sejauh-jauhnya. Seberapa besar kerinduanmu kelak, maka sebesar itulah kecintaanmu pada sesuatu itu.

Aku pikir aku tidak akan pernah merindukannya. Aku pikir aku tidak akan punya kenangan di sana. Tapi rupanya kini aku begitu merindukannya. Tentang kehidupannya. Budayanya. Masyarakatnya. Semuanya. Dulu aku berpikir untuk mempercepat studiku agar segera dapat kembali ke hometown-ku. Aku pikir satu-satunya rumahku adalah daerah asalku. Tapi rupanya tidak lagi.

Aku Jatuh Cinta pada Yogyakarta. Tidak peduli dengan segala kemacetan dan polusi jalanan kota, bahkan kriminalitas yang lebih parah dibandingkan hometown-ku, Yogyakarta membuatku jatuh cinta dalam sekejap. Yogyakarta telah menjadi my second hometown. Rumah. Tidak peduli dimana pun kamu berada, jika kau merasa nyaman menjadi diri sendiri dengan segenap orang-orang yang menyayangimu dan kamu sayangi. Itulah rumahmu.

Suatu saat aku pasti akan sangat berat untuk meninggalkan Yogyakarta. Bahkan kelak aku pasti akan menangis karena meninggalkan Yogyakarta.

Nusa Dua, 22 Juni 2015

Bukan Hanya

bukan hanya tentang ditinggalkan atau meninggalkan
bukan hanya tentang kesedihan hati
bukan hanya tentang kebecian
juga bukan hanya tentang kehilangan
tapi ini juga bisa berarti perjuangan untuk tumbuh bersama
perkara memilih meninggalkan atau ditinggalkan, itu pilihan
terlepas dari semua itu, perpisahan selalu membawa perubahan suasana hati bagi manusia,
baik untuk sementara atau pun selamanya


Nusa Dua, 25 Agustus 2015

Surat Untuk 21

Haloo
SELAMAT DATANG 21!!
Bagaimana kabarmu?
Sudahkah kau tetapkan mimpimu?
Sudahkah kau tetapkan tujuanmu?
Sudah cukupkah kau membahagiakan orang yang menyayangimu dan kau sayangi?
Sudahkah??

Sulit bukan untuk menjawabnya?
Karena mungkin kamu memang belum punya tujuan

Melangkahlah!!
Beranilah!!
Kegelapan hanya akan tetap gelap sampai adanya cahaya
Buatlah cahaya itu!
Percaya dirilah!
Segala ketakutan dan kekhawatiranmu bisa jadi tidak terbukti
Kalaupun benar adanya, gunakan pengalaman itu untuk belajar dan berlatih lebih baik lagi
Cari segera jati dirimu!
Hari ini, meski terlambat untuk mengetahuinya, tapi belum sangat terlambat
Semoga bunga bijaksana itu benar-benar tubuh semakin baik

Selamat ulang tahun

 Yogyakarta, 31 Agustus 2015