Penulis : Tere Liye
Penerbit : Mahaka
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Ke-4
Jim mulanya hanyalah pria buta huruf, yang jatuh cinta kepada
seorang Putri kerajaan negeri seberang. Seperti kebanyakan kisah cinta lainnya,
hubungan cinta mereka jelas ditolak. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Jim
yang pengecut untuk memperjuankan cintanya. Bahkan untuk mengakhiri hidupnya
yang sudah terasa sangat pahit pun, Jim sangat takut. Namun kisah ini menjadi
berbeda ketika Jim terpilih untuk menjalani sebuah dongeng hidupnya. Hanya manusia
terpilihlah yang memiliki kesempatan dari Sang Penandai untuk menuliskan
dongeng hidupnya, hingga sampai pada kita saat ini.
Perjalanan ke Tanah Harapan pun ia tempuh demi menyibukkan diri
dari rasa sakit karena ditinggalkan kekasih hati. Rupanya dalam perjalanan itu
bukan hanya Jim saja yang sedang menjalani dongeng dari Sang Penandai. Siapakah
orang itu? Dongeng apa yang sebenarnya orang itu miliki? Dan mampukah Jim
menyelesaikan dongeng yang diberikan oleh Sang Penandai?
Sekali lagi Tere Liye mampu membawa pembacanya kepada jalan cerita
yang tidak dapat ditebak. Pembaca seperti dituntut untuk membaca hingga selesai
jika ingin mengetahui keseluruhan cerita. Gaya bahasa khas Tere Liye masih
digunakan dalam buku ini, baku cenderung melayu. Ada beberapa kata yang asing dalam
bahasa Indonesia pada umumnya, namun Tere Liye menjelaskan pada bagian footnote,
sehingga pembaca tidak akan bingung dalam memaknai istilah yang digunakan Tere
Liye.
Tidak perlu berpikir keras untuk bisa melogikakan kisah dalam buku
ini. Karena memang kisah yang disuguhkan
dalam buku ini tidak jauh berbeda, dengan dongeng-dongeng yang berkembang dalam
masyarakat. Namun bedanya, jalan cerita dongeng ini lebih kompleks dan panjang.
Pesan moral yang ingin disampaikan oleh buku ini adalah untuk memberikan
kesadaran kepada kita, bahwa tidak semua dongeng yang kita dengar adalah kisah
terbaik yang layak menjadi panutan. Justru sebaliknya. Ada beberapa dongeng
yang sebaiknya menjadi pelajaran saja, tanpa harus menjadi panutan. Ini seperti
sindiran untuk kisah Romeo and Juliet.
Yogyakarta, 10 September 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar