Tampilkan postingan dengan label Press Release. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Press Release. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

Konferensi Nasional Fishum UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta, 14 November 2014 – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora mengadakan Konferensi dan Workshop yang akan diadakan selama dua hari, 14-15 November 2014. Acara ini sekaligus sebagai peringatan dies natalies Fishum ke-9. Sejak tahun 2005 Fishum hadir sebagai salah satu fakultas yang dijadikan syarat untuk merubah IAIN menjadi UIN. Pembukaan acaranya dilaksanakan di Convention Hall dari pukul 08.00 - 11.30 WIB. Pembukaan acara tersebut dihadiri oleh para Dekan, Dosen, baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun Perguruan Tinggi lain. Selain itu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora turut berpartisipasi dalam pembukaan Konferensi tersebut.

Acara dibuka oleh mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Musa Ash-Ari’. Kemudian dijeda dengan hiburan dari kelompok musik mahasiswa Fishum selama kurang lebih tiga puluh menit. Dilanjutkan dengan keynote speechdari Amin Abdullah selaku pencetus Integrasi-Interkoneksi. Kehadiran Amin Abdullah ini juga terkait dengan tema yang diusung dalam konferensi, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial Humaniora.

Amin Abdullah menyampaikan keynote speechnya selama kurang lebih satu setengah jam. Menurut Beliau, Ilmu Pengetahuan saat ini seperti sedang dilanda kejenuhan keilmuan. Keilmuan saat ini seperti berada dalam kotak. Tidak mampu berhubungan dengan keilmuan lain. Padahal menurut Amin Abdullah, komunikasi dengan keilmuan lain sangat diperlukan untuk memberi angin segar dalam keilmuan saat ini. Kebanyakan lembaga sebagai pelaksanaan praktis keilmuan yang seharusnya sebagai Problem Solver, malah menjadi Part of Solver. Sehingga melalui konferensi dan workshop yang berlangsung selama dua hari, diharapkan mampu mengubah paradigma dan cara pandang dosen dan mahasiswa, agar tidak dikotak-kotakkan oleh ilmu-ilmu yang mereka pelajari sendiri.


Acara tersebut diakhiri dengan respon Amin Abdullah terkait dengan dua pertanyaan yang diajukan oleh peserta pembukaan konferensi. Acara akan dilanjutkan dengan workshop yang dilaksanakan di PAU I setelah shalat jumat pukul 13.30 - 17.00 sore ini. Serangkaian acara masih akan berlanjut sampai besok, dari pukul 07.30 – 17.00.

@14112014

Resum Seminar Dies Natalies Fishum Ke-9

   
      Terkait dengan dies natalies Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) ke-9, Fishum mengadakan Konferensi Nasional dengan tema, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora. Acara yang akan berlangsung selama dua hari dari 14-15 November 2014 tersebut terkait dengan workshop. Workshop tersebut dapat diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi agama islam di seluruh Indonesia. Menteri Agama RI yang direncanakan datang sebagai pembicara, tidak dapat menghadiri pembukaan konferensi nasional tersebut. Acara dibuka oleh mantan rektor, Musa Asy-Ari’ di Convention Hall. Kemudian diisi dengan keynote speech dari  Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah selaku penggagas integrasi-interkoneksi. Mengingat bahwa Fishum merupkan sebagian kecil dari syarat merubah nama IAIN menjadi UIN.

Amin Abdullah menganggap bahwa ilmu pengetahuan saat ini sedang mengalami masa kejenuhan keilmuan. Dimana pola pikiran ilmuan dikotak-kotakkan oleh ilmu yang dipelajarinya sendiri. Di sinilah integrasi-interkoneksi hadir sebagai pencair kebekuan keilmuan di islamic studies. Beliau mengibaratkan bahwa agama tanpa ilmu adalah buta. Sedangkan ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Ian G. Barbour mengklasifikasikan empat corak hubungan agama dengan ilmu, yakni:

1.       Konflik.
2.       Indenpendensi.
3.       Dialog.
4.       Integrasi.

Amin Abdullah mencontohkan beberapa skripsi mahasiswa yang menunjukkan bahwa paradigma berpikir mahasiswa telah dikotak-kotakkan oleh ilmu yang telah ia pelajarinya sendiri. Kemudian Beliau mencontohkan secara terbuka beberapa kasus yang terjadi di negeri ini terkait dengan corak hubungan agama dengan ilmu. Pertama, terkait penolakan Peradilan Agama atas gugatan hak perdataan anak hasil pernikahan sirri antara almarhum Moerdiono, mantan Mensekneg dengan Machica Mochtar. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa almarhum Moerdiono adalah ayah biologis dari M. Iqbal Ramadhan, sebagai anak hasil perkawinan sirri dengan Machica Mochtar berdasarkan bukti berupa DNA (Ilmu Pengetahuan). Dari kasus tersebut saja dapat dengan jelas menggambarkan bahwa terjadi konflik (pertentangan) antara agama dan ilmu. Padahal jika agama dan ilmu dapat diintegrasi-interkoneksikan, maka antara sistem bidang satu dengan bidang lainnya dapat saling melengkapi.

Kedua, masih terkait dengan kasus pertama bahwa jika lembaga-lembaga tersebut masih bersifat indenpendensi (berdiri sendiri) dengan otoritas dan legalitasnya, maka akan sulit menyempurnakan sistem yang ada di Indonesia ini. Seandainya hakim agama mau berdialog dan menyesuaikan sedikit dengan keputusan Mahkamah Konstitusi itu, maka akan lebih memudahkan anak dan wanita korban nikah sirri. Sehingga dialog dan integrasi antara agama dan ilmu sangat diperlukan demi memberi angin segar bagi keilmuan saat ini. Terdapat tiga kata kunci yang dapat menggambarkan hubungan agama dengan ilmu yang bercorak dialogis dan integratif, yakni:
1.       Semipermiable.
Kata kunci ini menggambarkan bahwa hubungan antara agama dan ilmu tidak ada tembok. Sehingga bisa saling menembus dan merembes. Amin Abdullah menggambarkannya seperti jaring laba-laba. Ada yang luput dari pengelihatan dengan mata telanjang manusia bahwa pada jaring laba-laba, antara sekat satu dengan sekat lainnya memiliki pori-pori. Jika ruang tersebut dianalogikan sebagai masing-masing bidang keilmuan, maka pori-pori ini dianalogikan sebagai jendela atau pintu. Sehingga antara keilmuan satu dengan keilmuan lainnya dapat saling berbagi dan berdialog. Jendela dan pintu itu jugalah yang akan memberikan angin segar bagi bidang keilmuan lain.
2.       Intersubjective Testability.
Data yang pengamat dapatkan dilapangan tidak bisa lepas sama sekali dari subjektifitas pengamat. Karena keilmuan turut mengintervensi objektifitas pengamat dalam menyimpulkan data yang ia dapatkan. Sehingga perlu kacamata keilmuan lain untuk sama-sama menguji tingkat kebenaran data yang didapatkan di lapangan.
3.       Creative Imagination.
Sudah saatnya ilmuan untuk berimajinasi kreatif dalam menciptakan teori yang baru. Amin Abdullah menulis bahwa, Teori baru seringkali muncul dari keberanian seorang ilmuan dan peneliti untuk mengkombinasikan berbagai ide-ide yang telah ada sebelumnya, namun ide-ide tersebut terisolasi dari yang satu dan lainnya. Sehingga disinilah peran integrasi-interkoneksi dalam gambaran Creative Imagination. Kasus di Sampang-Syiah yang telah menelan banyak korban jiwa, juga persoalan abadi mengenai penentuan 1 Syawal, merupakan gambaran bahwa tidak adanya Creative Imagination. Contoh Newton yang menghubungkan jatuhnya buah apel dengan gerak edar rotasi bulan menunjukkan bahwa runtuhnya tembok isolasi keilmuan dalam paradigma Newton. Karena jika tidak mau berpikir kreatif, agama, khususnya Islam, akan tertinggal. Karena hukum-hukum dalam agama tidak akan pernah berubah. Yang berubah adalah permasalahannya. Sehingga dibutuhkan Creative Imagination dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang semakin kompleks.

Tidak ada yang bisa disalahkan atas pengkotak-kotakan pola berpikir manusia masa kini. Karena guru dan dosen yang mengajarkan murid dan mahasiswa juga merupakan produk dari pengkotak-kotakan pola berpikir guru dan dosennya. Sehingga untuk merubah sejarah generasi tersebut, kita perlu untuk merubah pola berpikir diri sendiri. Meruntuhkan tembok-tembok isolasi antara sekat keilmuan. Maka akan tercetak manusia-manusia yang mampu membawa masa ini, menuju puncak peradaban yang jauh lebih jaya dari peradaban Yunani, yang bertahan selama 700 tahun.

@14112014

Selasa, 04 November 2014

Membangun Komunikasi Politik yang Etis dan Humanis

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menggelar Kuliah Umum tahunan yang diadakan di Ruang Intraktif Centre (IC) pada hari Senin, 3 November 2014. Pembicara pada Kuliah Umum kali ini adalah Hanafi Rais. Beliau adalah Anggota DPR dari Fraksi (Partai Amanat Nasional) PAN.

Tema Kuliah Umum Prodi Ilmu Komunikasi tahun ini adalah Membangun Komunikasi Politik yang Etis dan Humanis menuju demokrasi Indonesia yang Hebat. Secara garis besar Hanafi ingin memperbaiki pandangan publik mengenai politik yang jahat dan korupsi, tanpa terkecuali di level manapun. Saat ini, baik secara sadar maupun tidak sadar, masyarakat sedang diajak untuk membenci politik. Sasarannya bisa DPR, Partai Politik, Menteri, Lembaga Hukum, Pejabat-Pejabat Daerah, bahkan sampai Lurah. Jika dibiarkan berkesinambungan, maka Indonesia akan menjadi negeri yang krisis demokrasi. Segala kebijakan dan retorika politik tidak akan memiliki makna dan nilai di mata masyarakat. Sehingga komunikasi politik yang etis dan humanis dipandang sebagai jalan dalam membangun politik demokrasi yang sehat. Untuk merealisasikan komunikasi politik yang etis dan humanis, setidaknya tiga dasar berikut ini harus dijalankan.

1. Nir Kekerasan

Kekerasan tidak saja diartikan sebagai kekerasan fisik, namun juga kekerasan verbal. Kekerasan verbal merupakan kekerasan yang menyakiti lawannya dengan kata-kata. Melempar opini ke masyarakat dengan menjelek-jelekkan target nir kekerasan juga dapat dikatakan sebagai nir kekerasan. Terlebih saat ini merupakan era media. Setiap orang dapat dengan bebas melontarkan komentarnya tanpa sensor. Seringkali komentar-komentar ini bersifat nir kekerasan. Komentar-komentar tertentu ini akan menjadi tranding topic, yang kemudian berpotensi untuk menjadi opini publik. Opini publik yang termediasi berpotensi untuk mengubah kebijakan pemerintah. Seperti yang terjadi pada fenomena #ShameOnYouSBY terkait Pilkada Tidak Langsung. Topik ini dengan cepat menyebar, menjadi tranding toping, dan akhirnya menjadi topik hangat di harian nasional. Padahal perbandingan warga Indonesia yang memiliki media sosial dengan yang tidak memiliki media sosial, masih lebih banyak yang tidak memiliki media sosial. Yang memiliki media sosial tersebut pun, tidak semuanya aktif di media sosial tersebut. Jadi sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang sebenarnya menyetujui Pilkada Tidak Langsung. Hanya saja mereka merupakan silent majority (mayoritas yang diam). Sedangkan mereka yang memasang #ShameOnYouSBY tidak semuanya sadar dengan yang dilakukannya atau hanya ikut-ikutan. Kembali ke topik awal, jika nir kekerasan ini terus berlanjut, maka akan membentuk sikap yang tidak kreatif dan demokratis.

2. Reframing


Persepsi mengenai sesuatu seringkali mengkotak-kotakkan pandangan kita terhadap suatu hal (Framing). Sehingga demi terciptanya komunikasi politik yang etis dan humanis, kita perlu untuk melakukan reframing terhadap politik di Indonesia. Bahwa keburukan-keburukan yang diumbar di media merupakan ulah oknum-oknum. Menurut hipotesis Hanafi bahwa anggota DPR yang sering muncul di media dengan aksi melontarkan kata-kata pedas ke rekan kerjanya dengan nada tinggi, merupakan aktor terbaik. Ketika selesai sidang, mereka akan dengan mudah berjabat tangan dan berangkulan. Namun media membiarkan masyarakat disuguhkan dengan kejadian awal, yang menggambarkan Anggota DPR saling menghina. Penyampaian yang tidak keseluruhan inilah yang kemudian mencitrakan DPR yang buruk.

Maka dari itu mulailah untuk mencoba berpikir politik dari sisi yang positif. Ini akan lebih bermanfaat dalam segala tindakan kita yang terkait dengan kehidupan berpolitik, dibanding ketika kita masih memiliki persepsi negatif mengenai politik. Karena prasangka-prasangka berlebihan akan menghalangi kita dalam bertindak baik terkait kehidupan politik. Karena sudut pandang kita saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sudut pandang media.

3. Problem Solving

Tujuan akhir dari komunikasi sebagai proses pertukaran makna tetap pada problem-solving (pemecahan masalah). Manusia selalu hidup dalam konflik adalah sebuah keniscayaan. Terlebih dalam dunia politik yang membawa jutaan kepentingan, baik individu maupun kolektif, baik kepentingan rakyat, maupn bisnis. Sehingga akan banyak konflik-konflik diakibatkan perbedaan kepentingan ini. Karena dalam politik, kepentingan akan selalu ada. Yang berubah adalah objek dari kepentingan tersebut.

Kekecewaan mengenai politk Indonesia tidak cukup hanya dengan dikeluh-kesahkan. Kita harus bergerak untuk mengubahnya dengan harapan, inspirasi dan realisasi. Memilih untuk diam dan membiarkan bukanlah pilihan bijak. Karena ketika negeri ini semakin menua, maka kita akan berdosa kepada anak-cucu bangsa ini. Keyakinan bahwa politik yang etis dan humanis akan bisa diubah dengan tangan-tangan agent of change (agen perubahan), harus ditanamkan sejak dini. Karena mahasiswa merupakan agent of change yang memegang masa depan bangsa ini.


Memahami pandangan publik khususnya mahasiswa, bahwa DPR sebagai lembaga terkorup dan paling bermasalah, Hanafi Rais tidak menampik. Bahkan Hanafi selaku Anggota DPR mengakui bahwa mengontrol kabinet (menteri) lebih mudah dibandingkan mengontrol DPR. Ini mengindikasikan bahwa dalam satu lembaga pemerintahan saja, banyak kepentingan-kepentingan yang meminta untuk dikedepankan. Sedangkan politik adalah untuk jutaan warga Indonesia, dari aparat pemerintahan, sampai rakyat biasa. Namun Hanafi juga berpendapat bahwa yang media citrakan terkait DPR tidaklah sepenuhnya benar. Karena media adalah lembaga bisnis yang memiliki kepentingan bisnis atas kemapanan medianya. Lanjut menurut hipotesis Beliau bahwa, baik buruknya suatu berita berpengaruh terhadap harga Indeks Harga Saham gabungan (IHSG).

Selain itu perekonomian Indonesia saat ini berada pada Kebijakan Ekonomi Neo-Liberalisme, dimana semua lembaga perekonomian swasta mengajak masyarakatnya untuk emoh politik. Dengan memanfaatkan public concern, swasta akan mudah memengaruhi kebijakan pemerintah demi kepentingan bisnisnya. Maka dari itu sangat penting membangun komunikasi yang etis dan humanis antara pemerintah dengan masyarakat, agar mampu melahirkan legitimasi yang sesuai dengan kehendak masyarakat.