Jumat, 14 November 2014

Resum Seminar Dies Natalies Fishum Ke-9

   
      Terkait dengan dies natalies Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) ke-9, Fishum mengadakan Konferensi Nasional dengan tema, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora. Acara yang akan berlangsung selama dua hari dari 14-15 November 2014 tersebut terkait dengan workshop. Workshop tersebut dapat diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi agama islam di seluruh Indonesia. Menteri Agama RI yang direncanakan datang sebagai pembicara, tidak dapat menghadiri pembukaan konferensi nasional tersebut. Acara dibuka oleh mantan rektor, Musa Asy-Ari’ di Convention Hall. Kemudian diisi dengan keynote speech dari  Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah selaku penggagas integrasi-interkoneksi. Mengingat bahwa Fishum merupkan sebagian kecil dari syarat merubah nama IAIN menjadi UIN.

Amin Abdullah menganggap bahwa ilmu pengetahuan saat ini sedang mengalami masa kejenuhan keilmuan. Dimana pola pikiran ilmuan dikotak-kotakkan oleh ilmu yang dipelajarinya sendiri. Di sinilah integrasi-interkoneksi hadir sebagai pencair kebekuan keilmuan di islamic studies. Beliau mengibaratkan bahwa agama tanpa ilmu adalah buta. Sedangkan ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Ian G. Barbour mengklasifikasikan empat corak hubungan agama dengan ilmu, yakni:

1.       Konflik.
2.       Indenpendensi.
3.       Dialog.
4.       Integrasi.

Amin Abdullah mencontohkan beberapa skripsi mahasiswa yang menunjukkan bahwa paradigma berpikir mahasiswa telah dikotak-kotakkan oleh ilmu yang telah ia pelajarinya sendiri. Kemudian Beliau mencontohkan secara terbuka beberapa kasus yang terjadi di negeri ini terkait dengan corak hubungan agama dengan ilmu. Pertama, terkait penolakan Peradilan Agama atas gugatan hak perdataan anak hasil pernikahan sirri antara almarhum Moerdiono, mantan Mensekneg dengan Machica Mochtar. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa almarhum Moerdiono adalah ayah biologis dari M. Iqbal Ramadhan, sebagai anak hasil perkawinan sirri dengan Machica Mochtar berdasarkan bukti berupa DNA (Ilmu Pengetahuan). Dari kasus tersebut saja dapat dengan jelas menggambarkan bahwa terjadi konflik (pertentangan) antara agama dan ilmu. Padahal jika agama dan ilmu dapat diintegrasi-interkoneksikan, maka antara sistem bidang satu dengan bidang lainnya dapat saling melengkapi.

Kedua, masih terkait dengan kasus pertama bahwa jika lembaga-lembaga tersebut masih bersifat indenpendensi (berdiri sendiri) dengan otoritas dan legalitasnya, maka akan sulit menyempurnakan sistem yang ada di Indonesia ini. Seandainya hakim agama mau berdialog dan menyesuaikan sedikit dengan keputusan Mahkamah Konstitusi itu, maka akan lebih memudahkan anak dan wanita korban nikah sirri. Sehingga dialog dan integrasi antara agama dan ilmu sangat diperlukan demi memberi angin segar bagi keilmuan saat ini. Terdapat tiga kata kunci yang dapat menggambarkan hubungan agama dengan ilmu yang bercorak dialogis dan integratif, yakni:
1.       Semipermiable.
Kata kunci ini menggambarkan bahwa hubungan antara agama dan ilmu tidak ada tembok. Sehingga bisa saling menembus dan merembes. Amin Abdullah menggambarkannya seperti jaring laba-laba. Ada yang luput dari pengelihatan dengan mata telanjang manusia bahwa pada jaring laba-laba, antara sekat satu dengan sekat lainnya memiliki pori-pori. Jika ruang tersebut dianalogikan sebagai masing-masing bidang keilmuan, maka pori-pori ini dianalogikan sebagai jendela atau pintu. Sehingga antara keilmuan satu dengan keilmuan lainnya dapat saling berbagi dan berdialog. Jendela dan pintu itu jugalah yang akan memberikan angin segar bagi bidang keilmuan lain.
2.       Intersubjective Testability.
Data yang pengamat dapatkan dilapangan tidak bisa lepas sama sekali dari subjektifitas pengamat. Karena keilmuan turut mengintervensi objektifitas pengamat dalam menyimpulkan data yang ia dapatkan. Sehingga perlu kacamata keilmuan lain untuk sama-sama menguji tingkat kebenaran data yang didapatkan di lapangan.
3.       Creative Imagination.
Sudah saatnya ilmuan untuk berimajinasi kreatif dalam menciptakan teori yang baru. Amin Abdullah menulis bahwa, Teori baru seringkali muncul dari keberanian seorang ilmuan dan peneliti untuk mengkombinasikan berbagai ide-ide yang telah ada sebelumnya, namun ide-ide tersebut terisolasi dari yang satu dan lainnya. Sehingga disinilah peran integrasi-interkoneksi dalam gambaran Creative Imagination. Kasus di Sampang-Syiah yang telah menelan banyak korban jiwa, juga persoalan abadi mengenai penentuan 1 Syawal, merupakan gambaran bahwa tidak adanya Creative Imagination. Contoh Newton yang menghubungkan jatuhnya buah apel dengan gerak edar rotasi bulan menunjukkan bahwa runtuhnya tembok isolasi keilmuan dalam paradigma Newton. Karena jika tidak mau berpikir kreatif, agama, khususnya Islam, akan tertinggal. Karena hukum-hukum dalam agama tidak akan pernah berubah. Yang berubah adalah permasalahannya. Sehingga dibutuhkan Creative Imagination dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang semakin kompleks.

Tidak ada yang bisa disalahkan atas pengkotak-kotakan pola berpikir manusia masa kini. Karena guru dan dosen yang mengajarkan murid dan mahasiswa juga merupakan produk dari pengkotak-kotakan pola berpikir guru dan dosennya. Sehingga untuk merubah sejarah generasi tersebut, kita perlu untuk merubah pola berpikir diri sendiri. Meruntuhkan tembok-tembok isolasi antara sekat keilmuan. Maka akan tercetak manusia-manusia yang mampu membawa masa ini, menuju puncak peradaban yang jauh lebih jaya dari peradaban Yunani, yang bertahan selama 700 tahun.

@14112014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar