Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menggelar Kuliah Umum tahunan yang
diadakan di Ruang Intraktif Centre (IC) pada hari Senin, 3 November 2014. Pembicara
pada Kuliah Umum kali ini adalah Hanafi Rais. Beliau adalah Anggota DPR dari
Fraksi (Partai Amanat Nasional) PAN.
Tema Kuliah Umum Prodi Ilmu
Komunikasi tahun ini adalah Membangun Komunikasi Politik yang Etis dan
Humanis menuju demokrasi Indonesia yang Hebat. Secara garis besar Hanafi
ingin memperbaiki pandangan publik mengenai politik yang jahat dan korupsi,
tanpa terkecuali di level manapun. Saat ini, baik secara sadar maupun tidak
sadar, masyarakat sedang diajak untuk membenci politik. Sasarannya bisa DPR,
Partai Politik, Menteri, Lembaga Hukum, Pejabat-Pejabat Daerah, bahkan sampai
Lurah. Jika dibiarkan berkesinambungan, maka Indonesia akan menjadi negeri yang
krisis demokrasi. Segala kebijakan dan retorika politik tidak akan memiliki
makna dan nilai di mata masyarakat. Sehingga komunikasi politik yang etis dan humanis
dipandang sebagai jalan dalam membangun politik demokrasi yang sehat. Untuk
merealisasikan komunikasi politik yang etis dan humanis, setidaknya tiga dasar
berikut ini harus dijalankan.
1. Nir Kekerasan
Kekerasan tidak
saja diartikan sebagai kekerasan fisik, namun juga kekerasan verbal. Kekerasan
verbal merupakan kekerasan yang menyakiti lawannya dengan kata-kata. Melempar
opini ke masyarakat dengan menjelek-jelekkan target nir kekerasan juga dapat
dikatakan sebagai nir kekerasan. Terlebih saat ini merupakan era media. Setiap
orang dapat dengan bebas melontarkan komentarnya tanpa sensor. Seringkali
komentar-komentar ini bersifat nir kekerasan. Komentar-komentar tertentu ini
akan menjadi tranding topic, yang kemudian berpotensi untuk menjadi
opini publik. Opini publik yang termediasi berpotensi untuk mengubah kebijakan
pemerintah. Seperti yang terjadi pada fenomena #ShameOnYouSBY terkait Pilkada
Tidak Langsung. Topik ini dengan cepat menyebar, menjadi tranding toping, dan
akhirnya menjadi topik hangat di harian nasional. Padahal perbandingan warga
Indonesia yang memiliki media sosial dengan yang tidak memiliki media sosial,
masih lebih banyak yang tidak memiliki media sosial. Yang memiliki media sosial
tersebut pun, tidak semuanya aktif di media sosial tersebut. Jadi sebenarnya
masih banyak warga Indonesia yang sebenarnya menyetujui Pilkada Tidak Langsung.
Hanya saja mereka merupakan silent majority (mayoritas yang diam).
Sedangkan mereka yang memasang #ShameOnYouSBY tidak semuanya sadar dengan yang
dilakukannya atau hanya ikut-ikutan. Kembali ke topik awal, jika nir kekerasan
ini terus berlanjut, maka akan membentuk sikap yang tidak kreatif dan
demokratis.
Persepsi
mengenai sesuatu seringkali mengkotak-kotakkan pandangan kita terhadap suatu
hal (Framing). Sehingga demi terciptanya komunikasi politik yang etis dan
humanis, kita perlu untuk melakukan reframing terhadap politik di Indonesia.
Bahwa keburukan-keburukan yang diumbar di media merupakan ulah oknum-oknum.
Menurut hipotesis Hanafi bahwa anggota DPR yang sering muncul di media dengan
aksi melontarkan kata-kata pedas ke rekan kerjanya dengan nada tinggi,
merupakan aktor terbaik. Ketika selesai sidang, mereka akan dengan mudah
berjabat tangan dan berangkulan. Namun media membiarkan masyarakat disuguhkan
dengan kejadian awal, yang menggambarkan Anggota DPR saling menghina. Penyampaian
yang tidak keseluruhan inilah yang kemudian mencitrakan DPR yang buruk.
Memahami pandangan publik khususnya mahasiswa, bahwa DPR sebagai lembaga terkorup dan paling bermasalah, Hanafi Rais tidak menampik. Bahkan Hanafi selaku Anggota DPR mengakui bahwa mengontrol kabinet (menteri) lebih mudah dibandingkan mengontrol DPR. Ini mengindikasikan bahwa dalam satu lembaga pemerintahan saja, banyak kepentingan-kepentingan yang meminta untuk dikedepankan. Sedangkan politik adalah untuk jutaan warga Indonesia, dari aparat pemerintahan, sampai rakyat biasa. Namun Hanafi juga berpendapat bahwa yang media citrakan terkait DPR tidaklah sepenuhnya benar. Karena media adalah lembaga bisnis yang memiliki kepentingan bisnis atas kemapanan medianya. Lanjut menurut hipotesis Beliau bahwa, baik buruknya suatu berita berpengaruh terhadap harga Indeks Harga Saham gabungan (IHSG).
Selain itu perekonomian Indonesia saat ini berada pada Kebijakan Ekonomi Neo-Liberalisme, dimana semua lembaga perekonomian swasta mengajak masyarakatnya untuk emoh politik. Dengan memanfaatkan public concern, swasta akan mudah memengaruhi kebijakan pemerintah demi kepentingan bisnisnya. Maka dari itu sangat penting membangun komunikasi yang etis dan humanis antara pemerintah dengan masyarakat, agar mampu melahirkan legitimasi yang sesuai dengan kehendak masyarakat.
Maka dari itu mulailah
untuk mencoba berpikir politik dari sisi yang positif. Ini akan lebih
bermanfaat dalam segala tindakan kita yang terkait dengan kehidupan berpolitik,
dibanding ketika kita masih memiliki persepsi negatif mengenai politik. Karena prasangka-prasangka
berlebihan akan menghalangi kita dalam bertindak baik terkait kehidupan
politik. Karena sudut pandang kita saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sudut
pandang media.
3. Problem Solving
Tujuan akhir dari
komunikasi sebagai proses pertukaran makna tetap pada problem-solving
(pemecahan masalah). Manusia selalu hidup dalam konflik adalah sebuah
keniscayaan. Terlebih dalam dunia politik yang membawa jutaan kepentingan, baik
individu maupun kolektif, baik kepentingan rakyat, maupn bisnis. Sehingga akan
banyak konflik-konflik diakibatkan perbedaan kepentingan ini. Karena dalam
politik, kepentingan akan selalu ada. Yang berubah adalah objek dari
kepentingan tersebut.
Kekecewaan mengenai politk
Indonesia tidak cukup hanya dengan dikeluh-kesahkan. Kita harus bergerak untuk
mengubahnya dengan harapan, inspirasi dan realisasi. Memilih untuk diam dan
membiarkan bukanlah pilihan bijak. Karena ketika negeri ini semakin menua, maka
kita akan berdosa kepada anak-cucu bangsa ini. Keyakinan bahwa politik yang
etis dan humanis akan bisa diubah dengan tangan-tangan agent of change (agen
perubahan), harus ditanamkan sejak dini. Karena mahasiswa merupakan agent of
change yang memegang masa depan bangsa ini.
Memahami pandangan publik khususnya mahasiswa, bahwa DPR sebagai lembaga terkorup dan paling bermasalah, Hanafi Rais tidak menampik. Bahkan Hanafi selaku Anggota DPR mengakui bahwa mengontrol kabinet (menteri) lebih mudah dibandingkan mengontrol DPR. Ini mengindikasikan bahwa dalam satu lembaga pemerintahan saja, banyak kepentingan-kepentingan yang meminta untuk dikedepankan. Sedangkan politik adalah untuk jutaan warga Indonesia, dari aparat pemerintahan, sampai rakyat biasa. Namun Hanafi juga berpendapat bahwa yang media citrakan terkait DPR tidaklah sepenuhnya benar. Karena media adalah lembaga bisnis yang memiliki kepentingan bisnis atas kemapanan medianya. Lanjut menurut hipotesis Beliau bahwa, baik buruknya suatu berita berpengaruh terhadap harga Indeks Harga Saham gabungan (IHSG).
Selain itu perekonomian Indonesia saat ini berada pada Kebijakan Ekonomi Neo-Liberalisme, dimana semua lembaga perekonomian swasta mengajak masyarakatnya untuk emoh politik. Dengan memanfaatkan public concern, swasta akan mudah memengaruhi kebijakan pemerintah demi kepentingan bisnisnya. Maka dari itu sangat penting membangun komunikasi yang etis dan humanis antara pemerintah dengan masyarakat, agar mampu melahirkan legitimasi yang sesuai dengan kehendak masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar