Kamis, 03 September 2015

Bukan Hanya

bukan hanya tentang ditinggalkan atau meninggalkan
bukan hanya tentang kesedihan hati
bukan hanya tentang kebecian
juga bukan hanya tentang kehilangan
tapi ini juga bisa berarti perjuangan untuk tumbuh bersama
perkara memilih meninggalkan atau ditinggalkan, itu pilihan
terlepas dari semua itu, perpisahan selalu membawa perubahan suasana hati bagi manusia,
baik untuk sementara atau pun selamanya


Nusa Dua, 25 Agustus 2015

Surat Untuk 21

Haloo
SELAMAT DATANG 21!!
Bagaimana kabarmu?
Sudahkah kau tetapkan mimpimu?
Sudahkah kau tetapkan tujuanmu?
Sudah cukupkah kau membahagiakan orang yang menyayangimu dan kau sayangi?
Sudahkah??

Sulit bukan untuk menjawabnya?
Karena mungkin kamu memang belum punya tujuan

Melangkahlah!!
Beranilah!!
Kegelapan hanya akan tetap gelap sampai adanya cahaya
Buatlah cahaya itu!
Percaya dirilah!
Segala ketakutan dan kekhawatiranmu bisa jadi tidak terbukti
Kalaupun benar adanya, gunakan pengalaman itu untuk belajar dan berlatih lebih baik lagi
Cari segera jati dirimu!
Hari ini, meski terlambat untuk mengetahuinya, tapi belum sangat terlambat
Semoga bunga bijaksana itu benar-benar tubuh semakin baik

Selamat ulang tahun

 Yogyakarta, 31 Agustus 2015


Sabtu, 07 Februari 2015

(Resensi) Negeri di Ujung Tanduk

Judul Buku          : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis                 : Tere Liye
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : Juli 2013
Cetakan               : Ke-3
Tebal Buku         : 359 Halaman

Buku ini merupakan sekuel kedua dari buku Tere Liye sebelumnya yang berjudul Negeri Para Bedebah. Jenis cerita yang disajikan tidak jauh berbeda dari buku sebelumnya. Masih seputar petarungannya melawan birokrasi bobrok negeri bedebah. Namun kali ini Thomas berhadapan dengan lawan yang lebih besar dan kuat. Bahkan Opa, Kadek, dan Maryam, Wartawan yang baru saja dikenalnya turut terseret. Mereka berempat menjadi buronan Kepolisian Hong Kong karena tertangkap basah membawa narkoba di yacht pribadinya. Namun Thomas selalu bisa mengatasi segalanya. Ia menyakini kejadian demi kejadian yang menimpanya, dari adanya narkoba di yacht pribadinya, sampai penangkapan klien politiknya yang akan maju dalam pemilihan presiden tahun depan, direkayasa. Dan ia juga menyadari bahwa pertarungannya di masa lalu belum usai. Sayangnya alih-alih para bedebah yang menempati posisi-posisi penting dan tinggi di negeri tersebut, membuat Thomas harus mengalami jatuh bangun dalam melawan mereka. Ditangkap-lolos-ditangkap-lolos-ditangkap.

Dengan bantuan sekertaris dan karyawannya, Thomas akhirnya mendapatkan petunjuk siapa saja yang harus bertanggung jawab atas segala kekacauan hukum negeri tersebut. Banyak dari mereka adalah pejabat instasi pemerintah, baik pajak, kepolisian maupun hukum. Beberapa lagi adalah para pejabat partai. Konspirasi besar ini yang akhirnya ia sebut sebagai Mafia Hukum. Konspirasi yang melibatkan banyak lembaga hukum, dari Kepolisian, Pengadilan, sampai Mahkamah Konstitusi tersebut semakin menyulitkan Thomas untuk mengumpulkan kekuatan serangan balik. Sampai akhirnya ia menemukan dukungan dari satu-satunya lembaga yang masih bersih dan tidak terkait dengan mafia hukum tersebut. Sayangnya konspirasi besar tersebut terlalu besar dan kuat untuk hanya dilawan oleh opini pakar politik dan satu-satunya institusi yang mendukung Thomas . Institusi apakah yang mendukung Thomas? Mampukah Thomas bertahan menghadapi para mafia hukum tersebut? Juga membongkar satu-satunya dalang dibalik konspirasi besar Negeri di Ujung Tanduk tersebut?

Kisah dalam novel ini sangat dekat dengan cerita perpolitikan negeri kita (Indonesia). Sepertinya Tere Liye terinspirasi dengan perpolitikan Indonesia, kemudian mengadopsi dan tentunya mengimprovisasi berdasarkan imajinasinya. Ia juga cukup banyak menggunakan bahasa politik. Sehingga memaksa pembaca untuk membuka kamus sejenak. Namun bagi pembaca yang suka mengikuti cerita politik negeri ini, maka tidak akan susah dalam memahami penggunaan bahasa politik di novel ini. Bahkan pembaca bisa menerka tokoh dan potongan cerita dalam novel ini terinspirasi dengan siapa dan cerita politik yang mana. Meski novel ini merupakan sekuel dari Negeri Para Bedebah, pembaca yang belum pernah membaca novel sebelumnya tidak akan sulit memahami jalan ceritanya. Karena ada beberapa bagian pada novel sebelumnya, yang Tere Liye jelaskan kembali pada novel ini. Sehingga pembaca akan sering dibawa dengan alur maju-mundur ketika membaca novel ini. Namun tentunya akan lebih seru jika pembaca juga membaca novel sebelumnya.

Selain menyajikan kisah konspirasi besar di negeri tersebut, Tere Liye juga menyematkan pesan moral di akhir cerita. Seperti dalam kebanyakan novelnya, dalam novel ini terdapat tokoh dengan karakteristik arif yang menyampaikan pesan moral melalui dialog dengan tokoh lain. Intisari dari kisah ini adalah betapa negeri ini sudah berada di ujung tanduk karena ketidakpedualian masyarakatnya. Mengutip pesan moral dari novel ini bahwa, kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan.

Selasa, 03 Februari 2015

Bukankah, atau Bukankah

Bukankah,
banyak yang berharap jawaban dari seseorang
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"Jadi, jawaban apa yang harus aku berikan?"

Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"Aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"

Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"Kau menungguku? Sejak kapan?"

Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"Akan kau tambatkan di mana?"

Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak-sajak, surat-surat, tulisan-tulisan
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimana akan membacanya

Aduha, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta-Tere Liye

Bulan Terbelah di Langit Amerika


Judul Buku         : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis                 : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : September, 2014
Cetakan               : Ke-4
Tebal Buku         : 344 Halaman

Perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut dari Wina ke Amerika, dengan tujuan sebenarnya adalah untuk tugas. Hanum ditugaskan oleh Gertrud Robinson, bosnya di harian Heute ist Wunderbar untuk menulis artikel dengan tema “Would the world be better without Islam?” (Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?). Sebuah topik yang sebenarnya sangat mengusik keyakinannya. Pada awalnya ia menolak tawaran Gertrud. Namun ia tidak bisa membiarkan artikel untuk topik tersebut digarap oleh Jacob, teman sesama wartawannya. Karena Jacob jelas akan menjawab ‘Ya’ dan mencari segala informasi dan data untuk ‘mengiyakan’ jawaban artikelnya. Akhirnya ia menerima tawaran Gertrud untuk menulis artikel tersebut. Karena dengan begitu, artikel tersebut memiliki kesempatan untuk menjawab ‘tidak’. Artikel tersebut juga terkait dengan peringatan delapan tahun peristiwa 11 September. Sebuah tragedi kemanusiaan.

 Secara kebetulan di waktu yang sama Rangga diberi kesempatan oleh Profesor Reinhard untuk menghadiri Konferensi di Wasington DC, sekaligus memburu Phillipus Brown demi memintanya mengisi kelas Etika Bisnis di Kampusnya. Dengan segala kebetulan tersebut, Rangga pun dengan cermat merencanakan perjalanan enam harinya bersama Hanum, agar mereka bisa menyelipkan agenda jalan-jalan mereka. Namun Tuhan berkehendak lain. Semua agenda yang telah ia rencanakan gagal. Bahkan mereka harus berpisah untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing. Tidak seperti yang direncakan. Namun pecahan-pecahan peristiwa 11 September 2001 yang belum tuntas, justru terangkai jelas ketika mereka bertemu. Bisa jadi perpisahan mereka adalah untuk mengumpulkan puzle-puzle tragedi 11 September yang belum terangkai jelas, sehingga akan jelas ketika mereka bertemu nanti.

Hanum dan Rangga secara gamblang, menggambarkan bagaimana Muslim di belahan dunia lain berusaha mempertahankan eksistensinya. Dengan permasalahan berbeda, bahkan lebih kompleks, mereka mampu bertahan di tengah mayoritas yang menghujat mereka. Jauh dari Muslim Indonesia yang notabene menduduki mayoritas. Sehingga secara tidak langsung Hanum dan Rangga berusaha mengajak para muslim Indonesia untuk menjadi agen muslim yang rahmatan lil alamin, dengan pemahaman-pemahaman yang berusaha mereka bagikan melalui buku ini. Buku ini sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang mencari motivasi spiritual. Meski setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda, namun tujuan spiritual mereka sama. Kedamaian. Gaya bahasa yang digunakan pun tidak sulit dimengerti, karena dikemas dengan bahasa novel pada umumnya. Bahkan cenderung menggunakan gaya bahasa novel roman.


Bulan Terbelah di Langt Amerika ini agak mirip dengan novel-novel yang ditulis oleh Dan Brown. Tempat, fakta sejarah, dan peristiwa yang dicantumkan tidak jauh dari faktanya. Keduanya juga menggunakan pendekatan sejarah dalam sebagian besar ceritanya. Karena Bulan Terbelah di Langit Amerika ini juga tidak lepas dari rujukannya terhadap mukjizat yang dimiliki Nabi Muhammad. Perpaduan antara fakta sejarah dan ilmiah, drama, perjalanan Hanum dan Rangga, fiksi yang dikemas dalam tragedi 11 September menjadi daya tarik bagi buku ini. Meskipun tidak serta merta buku ini bisa diterima oleh pembaca yang memiliki keyakinan berbeda. Karena perspektif yang digunakan sangat Islami, mengingat penulis (Hanum-Rangga) juga merupakan seorang muslim. Namun bagi mereka yang mau berpikir terbuka, buku ini mampu menambah ruang kebijaksanaannya dalam memahami sesuatu. 

Senin, 17 November 2014

Mengukur Opini Publik

Pemerintahan akan berjalan dengan baik jika program dan sasarannya tepat. Sehingga demi memaksimalkan kinerja, pemerintah wajib untuk memahami public interest. Untuk dapat membaca public interest, pemerintah dapat membacanya dari opini publik. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk cerdas dalam melihat opini publik ditengah maraknya kapitalisme media. Setidaknya masyarakat paham cara mengukur opini publik. Tujuannya adalah untuk mengukur apa yang dipikirkan rakyat. Sehingga kebijakan pemerintah sesuai dengan publik interest.

Opini publik sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Namun pada masa itu opini publik belum menjadi sebuah disiplin ilmiah. Namun mereka sudah mempraktekkan cara untuk mengukur opini publik. Pada masa ini teknik pengukuran opini publik dikategorikan sebagai pra ilmiah, yang diantaranya:
1.       Kelompik Primer
Cara mengukur opini publik pada bagian ini mengacu pada pendapat-pendapat kelompok mayoritas. Seperti jamaat gereja dan perkumpulan sosial lainnya. Cukup dengan bertanya kepada kelompok primer tersebut mengenai pendapat mereka terhadap suatu peristiwa.
2.       Kuping ke Tanah
Teknik ini juga disebut dengan gosip. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat, memperhatikan, bertanya, mendengar dan melihat situasi kaum marjinal. Seperti dengan mendatangi pasar di saat musim hujan saat ini. Dengan begitu kita akan mengetahui keluhan Ibu-Ibu dan Pedagang bahwa harga cabai melonjak drastis. Kemudian dapat dilanjutkan dengan menanyakan hal tersebut kepada pihak yang berwenang.
3.       Analis Crowd
Merupakan teknik dengan melihat komentar khalayak terhadap suatu peristiwa. Contohnya komentar masyarakat mengenai pidato Presiden Jokowi.

Setelah opini publik menjadi sebuah disiplin ilmiah, maka teknik pengukurannya pun dilakukan secara ilmiah pula. Sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan asalkan setiap langkahnya tepat. Pengukuran ilmiah ini meliputi:
1.       Survey
Survey merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam membaca opini publik. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil pendapat sebagian besar orang dengan cara melakukan wawancara kepada sebagian kecil orang. Kunci dari suksesnya survey terdapat dalam menentukan sampel yang tepat dari populasi yang ada.
2.       Analisis Wacana
Teknik ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah kata kunci yang paling sering digunakan dalam menyampaikan pesan. Ketika mendengarkan pidato kepresidenan, kita bisa menghitung kata kunci yang paling banyak dikatakan oleh seorang presiden. Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan program apa yang akan dicangkan presiden.
3.       Analisis Isi
Teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik analisis wacana. Menghitung kata kunci yang paling banyak digunakan. Dalam menganalisis, tidak boleh hanya dilakukan oleh satu peneliti. Minimal dianalisis oleh dua peneliti dengan kesepakatan analisis yang disepakati bersama sebelumnya. Dengan begitu kita dapat mengetahui media pro atau kontra terhadap suatu peristiwa yang dibahas. Jika ada perbedaan antara analisis satu dengan yang lain diatas 20 persen, maka penelitian dianggap gagal.

Opini publik merupakan sesuatu yang sangat rentan dimainkan oleh media saat ini. Karena dibalik meja editor ada tangan-tangan tak terlihat. Mereka berkuasa atas medianya dan memiliki kepentingan terselubung. Sehingga merupakan PR (Pekerjaan Rumah) sebagai seorang akademisi, untuk menjelaskannya kepada masyarakat marjinal. Agar masyarakat pinggiran, tidak semakin terpinggirkan mentalnya.


Public Oppinion Class by Iswandi Syahputra

Jumat, 14 November 2014

Konferensi Nasional Fishum UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta, 14 November 2014 – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora mengadakan Konferensi dan Workshop yang akan diadakan selama dua hari, 14-15 November 2014. Acara ini sekaligus sebagai peringatan dies natalies Fishum ke-9. Sejak tahun 2005 Fishum hadir sebagai salah satu fakultas yang dijadikan syarat untuk merubah IAIN menjadi UIN. Pembukaan acaranya dilaksanakan di Convention Hall dari pukul 08.00 - 11.30 WIB. Pembukaan acara tersebut dihadiri oleh para Dekan, Dosen, baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun Perguruan Tinggi lain. Selain itu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora turut berpartisipasi dalam pembukaan Konferensi tersebut.

Acara dibuka oleh mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Musa Ash-Ari’. Kemudian dijeda dengan hiburan dari kelompok musik mahasiswa Fishum selama kurang lebih tiga puluh menit. Dilanjutkan dengan keynote speechdari Amin Abdullah selaku pencetus Integrasi-Interkoneksi. Kehadiran Amin Abdullah ini juga terkait dengan tema yang diusung dalam konferensi, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial Humaniora.

Amin Abdullah menyampaikan keynote speechnya selama kurang lebih satu setengah jam. Menurut Beliau, Ilmu Pengetahuan saat ini seperti sedang dilanda kejenuhan keilmuan. Keilmuan saat ini seperti berada dalam kotak. Tidak mampu berhubungan dengan keilmuan lain. Padahal menurut Amin Abdullah, komunikasi dengan keilmuan lain sangat diperlukan untuk memberi angin segar dalam keilmuan saat ini. Kebanyakan lembaga sebagai pelaksanaan praktis keilmuan yang seharusnya sebagai Problem Solver, malah menjadi Part of Solver. Sehingga melalui konferensi dan workshop yang berlangsung selama dua hari, diharapkan mampu mengubah paradigma dan cara pandang dosen dan mahasiswa, agar tidak dikotak-kotakkan oleh ilmu-ilmu yang mereka pelajari sendiri.


Acara tersebut diakhiri dengan respon Amin Abdullah terkait dengan dua pertanyaan yang diajukan oleh peserta pembukaan konferensi. Acara akan dilanjutkan dengan workshop yang dilaksanakan di PAU I setelah shalat jumat pukul 13.30 - 17.00 sore ini. Serangkaian acara masih akan berlanjut sampai besok, dari pukul 07.30 – 17.00.

@14112014