Senin, 17 November 2014

Mengukur Opini Publik

Pemerintahan akan berjalan dengan baik jika program dan sasarannya tepat. Sehingga demi memaksimalkan kinerja, pemerintah wajib untuk memahami public interest. Untuk dapat membaca public interest, pemerintah dapat membacanya dari opini publik. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk cerdas dalam melihat opini publik ditengah maraknya kapitalisme media. Setidaknya masyarakat paham cara mengukur opini publik. Tujuannya adalah untuk mengukur apa yang dipikirkan rakyat. Sehingga kebijakan pemerintah sesuai dengan publik interest.

Opini publik sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Namun pada masa itu opini publik belum menjadi sebuah disiplin ilmiah. Namun mereka sudah mempraktekkan cara untuk mengukur opini publik. Pada masa ini teknik pengukuran opini publik dikategorikan sebagai pra ilmiah, yang diantaranya:
1.       Kelompik Primer
Cara mengukur opini publik pada bagian ini mengacu pada pendapat-pendapat kelompok mayoritas. Seperti jamaat gereja dan perkumpulan sosial lainnya. Cukup dengan bertanya kepada kelompok primer tersebut mengenai pendapat mereka terhadap suatu peristiwa.
2.       Kuping ke Tanah
Teknik ini juga disebut dengan gosip. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat, memperhatikan, bertanya, mendengar dan melihat situasi kaum marjinal. Seperti dengan mendatangi pasar di saat musim hujan saat ini. Dengan begitu kita akan mengetahui keluhan Ibu-Ibu dan Pedagang bahwa harga cabai melonjak drastis. Kemudian dapat dilanjutkan dengan menanyakan hal tersebut kepada pihak yang berwenang.
3.       Analis Crowd
Merupakan teknik dengan melihat komentar khalayak terhadap suatu peristiwa. Contohnya komentar masyarakat mengenai pidato Presiden Jokowi.

Setelah opini publik menjadi sebuah disiplin ilmiah, maka teknik pengukurannya pun dilakukan secara ilmiah pula. Sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan asalkan setiap langkahnya tepat. Pengukuran ilmiah ini meliputi:
1.       Survey
Survey merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam membaca opini publik. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil pendapat sebagian besar orang dengan cara melakukan wawancara kepada sebagian kecil orang. Kunci dari suksesnya survey terdapat dalam menentukan sampel yang tepat dari populasi yang ada.
2.       Analisis Wacana
Teknik ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah kata kunci yang paling sering digunakan dalam menyampaikan pesan. Ketika mendengarkan pidato kepresidenan, kita bisa menghitung kata kunci yang paling banyak dikatakan oleh seorang presiden. Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan program apa yang akan dicangkan presiden.
3.       Analisis Isi
Teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik analisis wacana. Menghitung kata kunci yang paling banyak digunakan. Dalam menganalisis, tidak boleh hanya dilakukan oleh satu peneliti. Minimal dianalisis oleh dua peneliti dengan kesepakatan analisis yang disepakati bersama sebelumnya. Dengan begitu kita dapat mengetahui media pro atau kontra terhadap suatu peristiwa yang dibahas. Jika ada perbedaan antara analisis satu dengan yang lain diatas 20 persen, maka penelitian dianggap gagal.

Opini publik merupakan sesuatu yang sangat rentan dimainkan oleh media saat ini. Karena dibalik meja editor ada tangan-tangan tak terlihat. Mereka berkuasa atas medianya dan memiliki kepentingan terselubung. Sehingga merupakan PR (Pekerjaan Rumah) sebagai seorang akademisi, untuk menjelaskannya kepada masyarakat marjinal. Agar masyarakat pinggiran, tidak semakin terpinggirkan mentalnya.


Public Oppinion Class by Iswandi Syahputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar