Pemerintahan
akan berjalan dengan baik jika program dan sasarannya tepat. Sehingga demi
memaksimalkan kinerja, pemerintah wajib untuk memahami public interest.
Untuk dapat membaca public interest, pemerintah dapat membacanya dari
opini publik. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk cerdas
dalam melihat opini publik ditengah maraknya kapitalisme media. Setidaknya
masyarakat paham cara mengukur opini publik. Tujuannya adalah untuk mengukur
apa yang dipikirkan rakyat. Sehingga kebijakan pemerintah sesuai dengan publik
interest.
Opini publik
sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Namun pada masa itu opini publik
belum menjadi sebuah disiplin ilmiah. Namun mereka sudah mempraktekkan cara
untuk mengukur opini publik. Pada masa ini teknik pengukuran opini publik
dikategorikan sebagai pra ilmiah, yang diantaranya:
1. Kelompik Primer
Cara mengukur
opini publik pada bagian ini mengacu pada pendapat-pendapat kelompok mayoritas.
Seperti jamaat gereja dan perkumpulan sosial lainnya. Cukup dengan bertanya
kepada kelompok primer tersebut mengenai pendapat mereka terhadap suatu
peristiwa.
2. Kuping ke Tanah
Teknik ini juga
disebut dengan gosip. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat, memperhatikan,
bertanya, mendengar dan melihat situasi kaum marjinal. Seperti dengan
mendatangi pasar di saat musim hujan saat ini. Dengan begitu kita akan
mengetahui keluhan Ibu-Ibu dan Pedagang bahwa harga cabai melonjak drastis.
Kemudian dapat dilanjutkan dengan menanyakan hal tersebut kepada pihak yang
berwenang.
3. Analis Crowd
Merupakan teknik
dengan melihat komentar khalayak terhadap suatu peristiwa. Contohnya komentar
masyarakat mengenai pidato Presiden Jokowi.
Setelah opini publik menjadi
sebuah disiplin ilmiah, maka teknik pengukurannya pun dilakukan secara ilmiah
pula. Sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan asalkan setiap langkahnya
tepat. Pengukuran ilmiah ini meliputi:
1. Survey
Survey merupakan
cara yang paling banyak digunakan dalam membaca opini publik. Teknik ini
dilakukan dengan cara mengambil pendapat sebagian besar orang dengan cara
melakukan wawancara kepada sebagian kecil orang. Kunci dari suksesnya survey
terdapat dalam menentukan sampel yang tepat dari populasi yang ada.
2. Analisis Wacana
Teknik ini
dilakukan dengan cara menghitung jumlah kata kunci yang paling sering digunakan
dalam menyampaikan pesan. Ketika mendengarkan pidato kepresidenan, kita bisa
menghitung kata kunci yang paling banyak dikatakan oleh seorang presiden.
Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan program apa yang akan dicangkan
presiden.
3. Analisis Isi
Teknik ini tidak
jauh berbeda dengan teknik analisis wacana. Menghitung kata kunci yang paling
banyak digunakan. Dalam menganalisis, tidak boleh hanya dilakukan oleh satu
peneliti. Minimal dianalisis oleh dua peneliti dengan kesepakatan analisis yang
disepakati bersama sebelumnya. Dengan begitu kita dapat mengetahui media pro
atau kontra terhadap suatu peristiwa yang dibahas. Jika ada perbedaan antara
analisis satu dengan yang lain diatas 20 persen, maka penelitian dianggap
gagal.
Opini publik merupakan
sesuatu yang sangat rentan dimainkan oleh media saat ini. Karena dibalik meja
editor ada tangan-tangan tak terlihat. Mereka berkuasa atas medianya dan
memiliki kepentingan terselubung. Sehingga merupakan PR (Pekerjaan Rumah) sebagai
seorang akademisi, untuk menjelaskannya kepada masyarakat marjinal. Agar
masyarakat pinggiran, tidak semakin terpinggirkan mentalnya.
Public Oppinion Class
by Iswandi Syahputra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar