Senin, 17 November 2014

Mengukur Opini Publik

Pemerintahan akan berjalan dengan baik jika program dan sasarannya tepat. Sehingga demi memaksimalkan kinerja, pemerintah wajib untuk memahami public interest. Untuk dapat membaca public interest, pemerintah dapat membacanya dari opini publik. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk cerdas dalam melihat opini publik ditengah maraknya kapitalisme media. Setidaknya masyarakat paham cara mengukur opini publik. Tujuannya adalah untuk mengukur apa yang dipikirkan rakyat. Sehingga kebijakan pemerintah sesuai dengan publik interest.

Opini publik sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Namun pada masa itu opini publik belum menjadi sebuah disiplin ilmiah. Namun mereka sudah mempraktekkan cara untuk mengukur opini publik. Pada masa ini teknik pengukuran opini publik dikategorikan sebagai pra ilmiah, yang diantaranya:
1.       Kelompik Primer
Cara mengukur opini publik pada bagian ini mengacu pada pendapat-pendapat kelompok mayoritas. Seperti jamaat gereja dan perkumpulan sosial lainnya. Cukup dengan bertanya kepada kelompok primer tersebut mengenai pendapat mereka terhadap suatu peristiwa.
2.       Kuping ke Tanah
Teknik ini juga disebut dengan gosip. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat, memperhatikan, bertanya, mendengar dan melihat situasi kaum marjinal. Seperti dengan mendatangi pasar di saat musim hujan saat ini. Dengan begitu kita akan mengetahui keluhan Ibu-Ibu dan Pedagang bahwa harga cabai melonjak drastis. Kemudian dapat dilanjutkan dengan menanyakan hal tersebut kepada pihak yang berwenang.
3.       Analis Crowd
Merupakan teknik dengan melihat komentar khalayak terhadap suatu peristiwa. Contohnya komentar masyarakat mengenai pidato Presiden Jokowi.

Setelah opini publik menjadi sebuah disiplin ilmiah, maka teknik pengukurannya pun dilakukan secara ilmiah pula. Sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan asalkan setiap langkahnya tepat. Pengukuran ilmiah ini meliputi:
1.       Survey
Survey merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam membaca opini publik. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil pendapat sebagian besar orang dengan cara melakukan wawancara kepada sebagian kecil orang. Kunci dari suksesnya survey terdapat dalam menentukan sampel yang tepat dari populasi yang ada.
2.       Analisis Wacana
Teknik ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah kata kunci yang paling sering digunakan dalam menyampaikan pesan. Ketika mendengarkan pidato kepresidenan, kita bisa menghitung kata kunci yang paling banyak dikatakan oleh seorang presiden. Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan program apa yang akan dicangkan presiden.
3.       Analisis Isi
Teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik analisis wacana. Menghitung kata kunci yang paling banyak digunakan. Dalam menganalisis, tidak boleh hanya dilakukan oleh satu peneliti. Minimal dianalisis oleh dua peneliti dengan kesepakatan analisis yang disepakati bersama sebelumnya. Dengan begitu kita dapat mengetahui media pro atau kontra terhadap suatu peristiwa yang dibahas. Jika ada perbedaan antara analisis satu dengan yang lain diatas 20 persen, maka penelitian dianggap gagal.

Opini publik merupakan sesuatu yang sangat rentan dimainkan oleh media saat ini. Karena dibalik meja editor ada tangan-tangan tak terlihat. Mereka berkuasa atas medianya dan memiliki kepentingan terselubung. Sehingga merupakan PR (Pekerjaan Rumah) sebagai seorang akademisi, untuk menjelaskannya kepada masyarakat marjinal. Agar masyarakat pinggiran, tidak semakin terpinggirkan mentalnya.


Public Oppinion Class by Iswandi Syahputra

Jumat, 14 November 2014

Konferensi Nasional Fishum UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta, 14 November 2014 – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora mengadakan Konferensi dan Workshop yang akan diadakan selama dua hari, 14-15 November 2014. Acara ini sekaligus sebagai peringatan dies natalies Fishum ke-9. Sejak tahun 2005 Fishum hadir sebagai salah satu fakultas yang dijadikan syarat untuk merubah IAIN menjadi UIN. Pembukaan acaranya dilaksanakan di Convention Hall dari pukul 08.00 - 11.30 WIB. Pembukaan acara tersebut dihadiri oleh para Dekan, Dosen, baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun Perguruan Tinggi lain. Selain itu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora turut berpartisipasi dalam pembukaan Konferensi tersebut.

Acara dibuka oleh mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Musa Ash-Ari’. Kemudian dijeda dengan hiburan dari kelompok musik mahasiswa Fishum selama kurang lebih tiga puluh menit. Dilanjutkan dengan keynote speechdari Amin Abdullah selaku pencetus Integrasi-Interkoneksi. Kehadiran Amin Abdullah ini juga terkait dengan tema yang diusung dalam konferensi, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial Humaniora.

Amin Abdullah menyampaikan keynote speechnya selama kurang lebih satu setengah jam. Menurut Beliau, Ilmu Pengetahuan saat ini seperti sedang dilanda kejenuhan keilmuan. Keilmuan saat ini seperti berada dalam kotak. Tidak mampu berhubungan dengan keilmuan lain. Padahal menurut Amin Abdullah, komunikasi dengan keilmuan lain sangat diperlukan untuk memberi angin segar dalam keilmuan saat ini. Kebanyakan lembaga sebagai pelaksanaan praktis keilmuan yang seharusnya sebagai Problem Solver, malah menjadi Part of Solver. Sehingga melalui konferensi dan workshop yang berlangsung selama dua hari, diharapkan mampu mengubah paradigma dan cara pandang dosen dan mahasiswa, agar tidak dikotak-kotakkan oleh ilmu-ilmu yang mereka pelajari sendiri.


Acara tersebut diakhiri dengan respon Amin Abdullah terkait dengan dua pertanyaan yang diajukan oleh peserta pembukaan konferensi. Acara akan dilanjutkan dengan workshop yang dilaksanakan di PAU I setelah shalat jumat pukul 13.30 - 17.00 sore ini. Serangkaian acara masih akan berlanjut sampai besok, dari pukul 07.30 – 17.00.

@14112014

Resum Seminar Dies Natalies Fishum Ke-9

   
      Terkait dengan dies natalies Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) ke-9, Fishum mengadakan Konferensi Nasional dengan tema, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora. Acara yang akan berlangsung selama dua hari dari 14-15 November 2014 tersebut terkait dengan workshop. Workshop tersebut dapat diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi agama islam di seluruh Indonesia. Menteri Agama RI yang direncanakan datang sebagai pembicara, tidak dapat menghadiri pembukaan konferensi nasional tersebut. Acara dibuka oleh mantan rektor, Musa Asy-Ari’ di Convention Hall. Kemudian diisi dengan keynote speech dari  Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah selaku penggagas integrasi-interkoneksi. Mengingat bahwa Fishum merupkan sebagian kecil dari syarat merubah nama IAIN menjadi UIN.

Amin Abdullah menganggap bahwa ilmu pengetahuan saat ini sedang mengalami masa kejenuhan keilmuan. Dimana pola pikiran ilmuan dikotak-kotakkan oleh ilmu yang dipelajarinya sendiri. Di sinilah integrasi-interkoneksi hadir sebagai pencair kebekuan keilmuan di islamic studies. Beliau mengibaratkan bahwa agama tanpa ilmu adalah buta. Sedangkan ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Ian G. Barbour mengklasifikasikan empat corak hubungan agama dengan ilmu, yakni:

1.       Konflik.
2.       Indenpendensi.
3.       Dialog.
4.       Integrasi.

Amin Abdullah mencontohkan beberapa skripsi mahasiswa yang menunjukkan bahwa paradigma berpikir mahasiswa telah dikotak-kotakkan oleh ilmu yang telah ia pelajarinya sendiri. Kemudian Beliau mencontohkan secara terbuka beberapa kasus yang terjadi di negeri ini terkait dengan corak hubungan agama dengan ilmu. Pertama, terkait penolakan Peradilan Agama atas gugatan hak perdataan anak hasil pernikahan sirri antara almarhum Moerdiono, mantan Mensekneg dengan Machica Mochtar. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa almarhum Moerdiono adalah ayah biologis dari M. Iqbal Ramadhan, sebagai anak hasil perkawinan sirri dengan Machica Mochtar berdasarkan bukti berupa DNA (Ilmu Pengetahuan). Dari kasus tersebut saja dapat dengan jelas menggambarkan bahwa terjadi konflik (pertentangan) antara agama dan ilmu. Padahal jika agama dan ilmu dapat diintegrasi-interkoneksikan, maka antara sistem bidang satu dengan bidang lainnya dapat saling melengkapi.

Kedua, masih terkait dengan kasus pertama bahwa jika lembaga-lembaga tersebut masih bersifat indenpendensi (berdiri sendiri) dengan otoritas dan legalitasnya, maka akan sulit menyempurnakan sistem yang ada di Indonesia ini. Seandainya hakim agama mau berdialog dan menyesuaikan sedikit dengan keputusan Mahkamah Konstitusi itu, maka akan lebih memudahkan anak dan wanita korban nikah sirri. Sehingga dialog dan integrasi antara agama dan ilmu sangat diperlukan demi memberi angin segar bagi keilmuan saat ini. Terdapat tiga kata kunci yang dapat menggambarkan hubungan agama dengan ilmu yang bercorak dialogis dan integratif, yakni:
1.       Semipermiable.
Kata kunci ini menggambarkan bahwa hubungan antara agama dan ilmu tidak ada tembok. Sehingga bisa saling menembus dan merembes. Amin Abdullah menggambarkannya seperti jaring laba-laba. Ada yang luput dari pengelihatan dengan mata telanjang manusia bahwa pada jaring laba-laba, antara sekat satu dengan sekat lainnya memiliki pori-pori. Jika ruang tersebut dianalogikan sebagai masing-masing bidang keilmuan, maka pori-pori ini dianalogikan sebagai jendela atau pintu. Sehingga antara keilmuan satu dengan keilmuan lainnya dapat saling berbagi dan berdialog. Jendela dan pintu itu jugalah yang akan memberikan angin segar bagi bidang keilmuan lain.
2.       Intersubjective Testability.
Data yang pengamat dapatkan dilapangan tidak bisa lepas sama sekali dari subjektifitas pengamat. Karena keilmuan turut mengintervensi objektifitas pengamat dalam menyimpulkan data yang ia dapatkan. Sehingga perlu kacamata keilmuan lain untuk sama-sama menguji tingkat kebenaran data yang didapatkan di lapangan.
3.       Creative Imagination.
Sudah saatnya ilmuan untuk berimajinasi kreatif dalam menciptakan teori yang baru. Amin Abdullah menulis bahwa, Teori baru seringkali muncul dari keberanian seorang ilmuan dan peneliti untuk mengkombinasikan berbagai ide-ide yang telah ada sebelumnya, namun ide-ide tersebut terisolasi dari yang satu dan lainnya. Sehingga disinilah peran integrasi-interkoneksi dalam gambaran Creative Imagination. Kasus di Sampang-Syiah yang telah menelan banyak korban jiwa, juga persoalan abadi mengenai penentuan 1 Syawal, merupakan gambaran bahwa tidak adanya Creative Imagination. Contoh Newton yang menghubungkan jatuhnya buah apel dengan gerak edar rotasi bulan menunjukkan bahwa runtuhnya tembok isolasi keilmuan dalam paradigma Newton. Karena jika tidak mau berpikir kreatif, agama, khususnya Islam, akan tertinggal. Karena hukum-hukum dalam agama tidak akan pernah berubah. Yang berubah adalah permasalahannya. Sehingga dibutuhkan Creative Imagination dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang semakin kompleks.

Tidak ada yang bisa disalahkan atas pengkotak-kotakan pola berpikir manusia masa kini. Karena guru dan dosen yang mengajarkan murid dan mahasiswa juga merupakan produk dari pengkotak-kotakan pola berpikir guru dan dosennya. Sehingga untuk merubah sejarah generasi tersebut, kita perlu untuk merubah pola berpikir diri sendiri. Meruntuhkan tembok-tembok isolasi antara sekat keilmuan. Maka akan tercetak manusia-manusia yang mampu membawa masa ini, menuju puncak peradaban yang jauh lebih jaya dari peradaban Yunani, yang bertahan selama 700 tahun.

@14112014

Charlie Bone and The Time Twister

Judul: Charlie Bone and The Time Twister
Penulis: Jenny Nimmo
Penerjemah: Iryani Syahrir
Penerbit: UFUK FICTION
Tahun Terbit: 2011
Tebal Buku: 410 Halaman

Di tengah kebosanannya dalam menjalani hari-hari di asrama Bloor’s Academy, Charlie Bone tiba-tiba kedatangan seorang anak laki-laki dari mesin waktu di musim dingin tahun 1916. Anak itu sangat mirip dengan dirinya. Setelah sejenak mengingat kejadian aneh yang terjadi padanya sebelumnya, ia pun dapat menyimpulkan bahwa anak laki-laki itu adalah sepupunya. Atau tepatnya paman buyutnya. Charlie dapat menyimpulkan bahwa anak itu merupakan paman buyutnya, karena ia merupakan anak yang diberkati (memiliki kemampuan lebih). Ia dapat mendengar suara-suara orang yang ada dalam foto hanya dengan melihat fotonya. Anak itu bernama Henry Yewbeam. Ia datang dari mesin waktu berbentuk kelereng karena dikirim oleh sepupunya Ezekiel Bloor (Zake) yang tidak mengharapkan kehadirannya. Charlie menangkap firasat buruk jika kehadiran Henry sampai diketahui oleh beberapa orang di masa lalu.

Charlie memikirkan berbagai cara untuk bisa membebaskan Henry. Pertama dengan membiarkan Henry di dalam kulkas. Mereka menganggap jika Henry bisa mendapatkan temperatur yang sama dengan temperatur ketika di tahun 1916, maka Henry bisa kembali ke masa lalu. Karena Henry bisa sampai datang ke masa Charlie juga karena temperatur suhunya sama. Namun Henry malah pingsan kedinginan di dalam kulkas. Juru Masak yang kebetulan saat itu memergoki Charlie berkeliaran ketika jam tidur, akhirnya tidak jadi memarahi Charlie dan membantu mengeluarkan Henry dari dalam kulkas. Diluar dugaan, ternyata Juru Masak mau membantu menyembunyikan Henry untuk beberapa saat.

Namun beberapa masalah mengganggu misi penyelamatan mereka. Billy Raven yang merupakan anak yang diberkati juga, memiliki kemampuan dapat berbicara dengan hewan. Sehingga ia dimanfaatkan oleh Zake untuk mengartikan bahasa Blassed, anjing piaraannya karena Zake sadar bahwa hal ini kemungkinan akan terjadi. Selain Billy, Zake juga memanfaatkan Manfred dan Asa yang juga merupakan anak yang diberkati. Manfred yang merupakan ketua murid di Bloor’s Academiy sekaligus anak dari pemilik Akademi tersebut, memiliki kemampuan untuk menghipnotis. Sedangkan Asa memiliki kemampuan untuk merubah diri menjadi binatang buas.

Charlie sadar ia tidak dapat bekerja sendiri untuk membawa Henry ke tempat yang aman. Sehingga ia meminta bantuan beberapa temannya dan ‘Paman Kakek’ yang lebih senang ia panggil ‘Paman’. Paman Paton paham betul dengan situasinya, sehingga Charlie merasa perlu untuk berkonsultasi setiap akan mengambil langkah untuk menyelamatkan Henry. Paman Paton pun juga merasa bertanggung jawab atas anak dari masa lalu tersebut (Henry). Karena Ayah Paman Paton, James, merupakan adik laki-laki bungsu Henry yang tiba-tiba menjadi anak tunggal sepeninggalnya Henry.

Henry yang dilindungi sekaligus diincar oleh banyak orang, justru membuat kekacauan ketika berusaha untuk mendapatkan mesin waktu yang disembunyikan oleh Juru Masak . juru masak menyembunyikannya karena mesin waktu itu sangat berbahaya. Mesin waktu tersebut menggelinding entah kemana. Bersamaan dengan hilangnya mesin waktu itu, Henry juga ditangkap oleh Manfred dan kawan-kawannya. Ia dibawa ke ruang Zake, sepupu yang telah mengirimnya ke masa depan. Henry tidak gentar ketika berhadapan dengan Zake. Bahkan ketika Zake menatapnya dengan kebencian yang luar biasa. Setelah merasa cukup bertemu dengan sepupunya, Zake memerintahkan Manfred dan kawan-kawannya untuk mengurung Henry di ruang bawah tanah. Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia terkurung di sana.

Henry dibantu teman-temannya berusaha mencari tahu keberadaan Henry. Namun mereka gagal menemukannya. Ditengah usaha mereka mencari Henry, Paman Paton mengalami kecelakaan tabrak lari. Ia sadar bahwa tabrak lari tersebut merupakan ulah saudara-saudara perempuannya yang bekerja pada Zake. Namun Paman Paton masih bisa memandu Charlie untuk misi penyelamatan Henry. Olivia, teman Charlie yang tidak diberkati, menemukan Henry di lubang bawah tanah. Namun ia tidak dapat mengeluarkan Henry. Charlie pun dipandu oleh Paman Paton untuk mempelajari Bahasa Welas. Karena tongkat sihir yang akan mereka gunakan untuk mengeluarkan Henry, hanya bisa digunakan dengan Bahasa Welas. Setelah belajar mantra untuk menggunakan tongkat tersebut dari Paman Paton, Charlie akhirnya dapat mengeluarkan Henry dari lubang bawah tanah tersebut. Namun ternyata para kaki tangan Zake bertebaran di mana-mana. Membuat ruang gerak Henry semakin sempit. Sehingga dengan terpaksa Henry harus bersembunyi lagi.

Persembunyian Henry kali ini digagalkan oleh aksi Dorothy yang berusaha lari dari Anaknya, Manfred dan Suaminya, Dr. Bloor. Henry yang kebetulan berada di tempat perseembunyian yang sama dengan Dorothy, akhirnya juga ikut menjadi buronan Ayah dan Anak tersebut. Setelah sampai di loteng, Dorothy mengeluarkan mesin waktu yang hilang tersebut. Ternyata mesin waktu tersebut tidak hanya diinginkan oleh Zake dan Henry. Diam-diam Dorothy juga berharap terhadap mesin waktu itu. Ia berharap bisa pergi ke masa lalu demi mengulang sejarahnya ketika ia masih bisa bermain biola. Di masanya saat ini ia tidak dapat bermain biola. Tidak ada satu pun yang ingin mendengarkan permainan biolanya. Bahkan anaknya, Manfred si Hipnotis akan marah jika mendengar Ibunya bermain biola.

Gabriel yang juga berpikiran sama, setelah mendengar kisah pilu Dorothy dari Juru Masak, memberikan mesin waktu yang sebelumnya dicari-cari tersebut ke Dorothy. Gabriel yang memiliki kemampuan merasakan dan mengetahui adegan dengan hanya memegang baju orang lain, sangat bisa memahami perasaan Dorothy. Karena sebelumnya ia menggunakan sarung tangan Dorothy hingga sangat kesakitan.

Tidak banyak waktu yang mereka miliki. Anak dan Ayah itu akan segera mendapatkan mereka jika mereka tidak segera pergi dengan mesin waktu tersebut. Dorothy mengajak Henry untuk pergi bersamanya. Namun Henry sudah mulai terbiasa dengan dunia barunya. Ia pun berusaha keras melepaskan jubahnya sampai ia terhempas ke cerobong asap. Bertepatan dengan itu, Ayah dan Anak itu masuk. Namun mereka hanya mendapati jubah Henry. Mereka mengira Henry sudah pergi bersama Dorothy.

Ketika Henry mencari cara untuk pergi dari akademi itu tanpa diketahui, seekor burung sangat besar mendekatinya. Burung yang sangat ramah itu sama sekali tidak membuat Henry takut. Justru burung itu membawa Henry ke rumah Charlie dengan selamat. Paman Paton tertegun ketika berhadapan langsung dengan Henry yang sebenarnya adalah pamannya. Malam harinya Paman Paton dan Charlie mengantar Henry ke suatu tempat yang aman baginya. Tempat dimana Henry akan memulai dan melanjutkan kehidupan barunya. Sebuah rumah di dekat laut. Rumah ayah Paman Paton, James, sekaligus adik Henry.


Setibanya di rumah tersebut, kakak-beradk tersebut tidak dapat menahan haru atas pertemuan mereka. Henry masih dapat mengenali sorot mata James meskipun sudah jauh menua dari dirinya. James mengeluarkan kantong kelereng yang ditingkalkan oleh Henry ketika ia menghilang secara tiba-tiba. Henry sebelum menghilang sempat berjanji akan mengajaknya bermain Ring Taw. Setelah membiarkan kakak-beradik tersebut saling melepas kangen, mereka membahas rencana kehidupan Henry selanjutnya. Henry berencana tinggal bersama James dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kecil di daerah itu. Dan Charlie akan mengunjunginya seminggu sekali, bersamaan dengan Paman Paton mengunjungi Ayahnya. James.

@13102014

Kamis, 06 November 2014

ESQ (Emotional Spiritual Qoutient)

Data Buku
Judul:  ESQ (Emotional Spiritual Quotient)
Penulis:  Ary Ginanjar Agustian
Editor:  Dyah Utami Ariyanti dan Yudhistira ANM
Penerbit:  ARGA Publishing
Tahun terbit:  Desember, 2007
Tebal:  305 halaman
Beragam pengalaman disertai pola pikir kritis Ary Ginanjar Agustian, membuatnya mampu menyimpulkan sebab-akibat paradigma berpikir pada manusia. Sepotong kaliamat atau suatu kejadian kecil saja mampu mengubah paradigma berpikir seseorang, yang selanjutnya menghasilkan sikap yang merugikan atau menguntungkan. Padahal manusia telah dikaruniai jiwa, sehingga ia bebas menentukan pilihan reaksi terhadap kehidupannya. Bereaksi positif atau negatif. Paradigma berpikir dapat ditimbulkan dari prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding, dan fanatisme. Belenggu-belenggu tersebut harus dijernihkan dari hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang telah jernih dari belenggu-belenggu pikiran, dapat mulai membangun kecerdasan emosi (EQ) berdasarkan enam prinsip, yakni: prinsip bintang yang menghargai diri sendiri, prinsip malaikat yang memiliki komitmen kuat dalam amanah, prinsip kepemimpinan yang berlandaskan kefitrahan suara hati, prinsip pembelajaran yang memiliki kebiasaan membaca situasi dan selalu berpikir kritis, prinsip masa depan yang berorientasi pada tujuan akhir, dan prinsip keteraturan yang berorientasi pada pembentukan sistem.
Seseorang yang telah memiliki enam prinsip diatas, akan memiliki ketangguhan pribadi yang diwujudkan dalam penetapan misi, pembangunan karakter diri, dan kemampuan pengendalian diri. Syahadat adalah salah satu aplikasi dalam penetapan misi. Sholat pun merupakan salah satu aplikasi pembangunan karakter diri. Sedangkan puasa adalah realisasi dari kemampuan pengendalian diri. Hasilnya, akan terbentuk pribadi yang kuat, memiliki prinsip dan integritas tinggi. Sebagai makhluk sosial tidak hanya ketangguhan pribadi yang dibutuhkan. Namun juga dibutuhkan ketangguhan sosial yang Ary ginanjar Agustian bagi dalam dua aplikasi. Pertama sinergi yang berlandaskan sikap empati, kepercayaan, sikap kooperatif, keterbukaan, serta kredibilitas, yang dapat direalisasikan dalam bentuk zakat. Kedua, aplikasi total dalam hal persiapan fisik dan mental untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Inilah langkah akhir untuk mencapai kecerdasan emosi dan spiritual.

Konsep-konsep berpikir Ary yang kemudian ia tuangkan dalam buku ini hampir semuanya dilatarbelakangi oleh keyakinannya sebagai seorang muslim. Sehingga meski secara konsep yang dituangkannya bersifat universal, pembaca yang tidak memiliki paradigma baik mengenai Islam, akan sulit menerima konsep Ary ini. Bahkan ketika sekilas membaca buku tersebut, pembaca akan beranggapan bahwa ini adalah buku ESQ ini diperuntukkan bagi yang beragama Islam. Namun terlepas dari siapa dan apa latar belakang penulis, ada baiknya melihat isi dari buku tersebut. karena konsep yang ditawarkan Ary sangat membangun bagi kualitas kehidupan manusia, yang bukan hanya makhluk materi, namun juga makhluk sosial dan spiritual.  

Selasa, 04 November 2014

Membangun Komunikasi Politik yang Etis dan Humanis

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menggelar Kuliah Umum tahunan yang diadakan di Ruang Intraktif Centre (IC) pada hari Senin, 3 November 2014. Pembicara pada Kuliah Umum kali ini adalah Hanafi Rais. Beliau adalah Anggota DPR dari Fraksi (Partai Amanat Nasional) PAN.

Tema Kuliah Umum Prodi Ilmu Komunikasi tahun ini adalah Membangun Komunikasi Politik yang Etis dan Humanis menuju demokrasi Indonesia yang Hebat. Secara garis besar Hanafi ingin memperbaiki pandangan publik mengenai politik yang jahat dan korupsi, tanpa terkecuali di level manapun. Saat ini, baik secara sadar maupun tidak sadar, masyarakat sedang diajak untuk membenci politik. Sasarannya bisa DPR, Partai Politik, Menteri, Lembaga Hukum, Pejabat-Pejabat Daerah, bahkan sampai Lurah. Jika dibiarkan berkesinambungan, maka Indonesia akan menjadi negeri yang krisis demokrasi. Segala kebijakan dan retorika politik tidak akan memiliki makna dan nilai di mata masyarakat. Sehingga komunikasi politik yang etis dan humanis dipandang sebagai jalan dalam membangun politik demokrasi yang sehat. Untuk merealisasikan komunikasi politik yang etis dan humanis, setidaknya tiga dasar berikut ini harus dijalankan.

1. Nir Kekerasan

Kekerasan tidak saja diartikan sebagai kekerasan fisik, namun juga kekerasan verbal. Kekerasan verbal merupakan kekerasan yang menyakiti lawannya dengan kata-kata. Melempar opini ke masyarakat dengan menjelek-jelekkan target nir kekerasan juga dapat dikatakan sebagai nir kekerasan. Terlebih saat ini merupakan era media. Setiap orang dapat dengan bebas melontarkan komentarnya tanpa sensor. Seringkali komentar-komentar ini bersifat nir kekerasan. Komentar-komentar tertentu ini akan menjadi tranding topic, yang kemudian berpotensi untuk menjadi opini publik. Opini publik yang termediasi berpotensi untuk mengubah kebijakan pemerintah. Seperti yang terjadi pada fenomena #ShameOnYouSBY terkait Pilkada Tidak Langsung. Topik ini dengan cepat menyebar, menjadi tranding toping, dan akhirnya menjadi topik hangat di harian nasional. Padahal perbandingan warga Indonesia yang memiliki media sosial dengan yang tidak memiliki media sosial, masih lebih banyak yang tidak memiliki media sosial. Yang memiliki media sosial tersebut pun, tidak semuanya aktif di media sosial tersebut. Jadi sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang sebenarnya menyetujui Pilkada Tidak Langsung. Hanya saja mereka merupakan silent majority (mayoritas yang diam). Sedangkan mereka yang memasang #ShameOnYouSBY tidak semuanya sadar dengan yang dilakukannya atau hanya ikut-ikutan. Kembali ke topik awal, jika nir kekerasan ini terus berlanjut, maka akan membentuk sikap yang tidak kreatif dan demokratis.

2. Reframing


Persepsi mengenai sesuatu seringkali mengkotak-kotakkan pandangan kita terhadap suatu hal (Framing). Sehingga demi terciptanya komunikasi politik yang etis dan humanis, kita perlu untuk melakukan reframing terhadap politik di Indonesia. Bahwa keburukan-keburukan yang diumbar di media merupakan ulah oknum-oknum. Menurut hipotesis Hanafi bahwa anggota DPR yang sering muncul di media dengan aksi melontarkan kata-kata pedas ke rekan kerjanya dengan nada tinggi, merupakan aktor terbaik. Ketika selesai sidang, mereka akan dengan mudah berjabat tangan dan berangkulan. Namun media membiarkan masyarakat disuguhkan dengan kejadian awal, yang menggambarkan Anggota DPR saling menghina. Penyampaian yang tidak keseluruhan inilah yang kemudian mencitrakan DPR yang buruk.

Maka dari itu mulailah untuk mencoba berpikir politik dari sisi yang positif. Ini akan lebih bermanfaat dalam segala tindakan kita yang terkait dengan kehidupan berpolitik, dibanding ketika kita masih memiliki persepsi negatif mengenai politik. Karena prasangka-prasangka berlebihan akan menghalangi kita dalam bertindak baik terkait kehidupan politik. Karena sudut pandang kita saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sudut pandang media.

3. Problem Solving

Tujuan akhir dari komunikasi sebagai proses pertukaran makna tetap pada problem-solving (pemecahan masalah). Manusia selalu hidup dalam konflik adalah sebuah keniscayaan. Terlebih dalam dunia politik yang membawa jutaan kepentingan, baik individu maupun kolektif, baik kepentingan rakyat, maupn bisnis. Sehingga akan banyak konflik-konflik diakibatkan perbedaan kepentingan ini. Karena dalam politik, kepentingan akan selalu ada. Yang berubah adalah objek dari kepentingan tersebut.

Kekecewaan mengenai politk Indonesia tidak cukup hanya dengan dikeluh-kesahkan. Kita harus bergerak untuk mengubahnya dengan harapan, inspirasi dan realisasi. Memilih untuk diam dan membiarkan bukanlah pilihan bijak. Karena ketika negeri ini semakin menua, maka kita akan berdosa kepada anak-cucu bangsa ini. Keyakinan bahwa politik yang etis dan humanis akan bisa diubah dengan tangan-tangan agent of change (agen perubahan), harus ditanamkan sejak dini. Karena mahasiswa merupakan agent of change yang memegang masa depan bangsa ini.


Memahami pandangan publik khususnya mahasiswa, bahwa DPR sebagai lembaga terkorup dan paling bermasalah, Hanafi Rais tidak menampik. Bahkan Hanafi selaku Anggota DPR mengakui bahwa mengontrol kabinet (menteri) lebih mudah dibandingkan mengontrol DPR. Ini mengindikasikan bahwa dalam satu lembaga pemerintahan saja, banyak kepentingan-kepentingan yang meminta untuk dikedepankan. Sedangkan politik adalah untuk jutaan warga Indonesia, dari aparat pemerintahan, sampai rakyat biasa. Namun Hanafi juga berpendapat bahwa yang media citrakan terkait DPR tidaklah sepenuhnya benar. Karena media adalah lembaga bisnis yang memiliki kepentingan bisnis atas kemapanan medianya. Lanjut menurut hipotesis Beliau bahwa, baik buruknya suatu berita berpengaruh terhadap harga Indeks Harga Saham gabungan (IHSG).

Selain itu perekonomian Indonesia saat ini berada pada Kebijakan Ekonomi Neo-Liberalisme, dimana semua lembaga perekonomian swasta mengajak masyarakatnya untuk emoh politik. Dengan memanfaatkan public concern, swasta akan mudah memengaruhi kebijakan pemerintah demi kepentingan bisnisnya. Maka dari itu sangat penting membangun komunikasi yang etis dan humanis antara pemerintah dengan masyarakat, agar mampu melahirkan legitimasi yang sesuai dengan kehendak masyarakat.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Gara-Gara Facebook


Bunga membuka akun facebooknya. Kemudian ia membuka akun facebook teman lamanya.

Masih belum dikonfirmasi. Belum ada balesan juga dari orang-orang itu.

Ia membuka tab twitternya. Tidak ada balasan follow dari teman lamanya pula. Ia juga pesimis dengan twitter karena sudah sangat lama, terakhir kali temannya update twit. Sebenarnya sekitar setahun yang lalu ia sudah berusaha mencari teman lamanya tersebut. Beruntung teman lamanya tersebut menggunakan nama asli, sehingga ia dapat menemukannya di facebook. Namun karena lama tidak dikonfirmasi oleh temannya tersebut, Bunga membatalkan permintaan pertemanannya. Namun belakangan ia teringat akan teman lamanya tersebut, dan kembali mengirimkan permintaan pertemanan ke teman lamanya tesebut. Namun respon yang sama seperti setahun yang lalu kembali ia dapatkan.

Nggak dikonfirmasi dari Dika.

Ia pun mengirimi Dika pesan. Namun masih belum berhasil, karena sama sekali tidak dibaca oleh Dika.

Namun ternyata Bunga baru sadar bahwa Dika mengupdate foto profil terbarunya. Akhrinya kini antara setengah kesal, Bunga pun akhirnya berinisiatif mengirimi seseorang yang Dika tautkan sebagai pacarnya di facebook.

Halloo
Sorry, kamu bener pacarnya Tara Dika yang dulu pernah sekolah di Harapan Mulia, Ponorogo?
Kalo boleh aku bisa minta nomor hpnya gak? Soalnya aku inbox di fb gak dibales-bales sama dia. Permintaan pertemananku juga gak dikonfirm sama dia. Minta tolong juga supaya konfirm pertemananku di fb.
Makasih sebelumnya, sorry ngerepotin.

Pesan-pesan serupa juga Bunga kirimkan kepada beberapa teman Dika di Facebook. Tidak ada balasan setelah sehari Bunga mengirimi teman-temannya pesan. Ia mulai kesal karena ini adalah cara terakhir yang bisa ia gunakan selain menunggu. Ia pun membuka galeri foto Dika yang dapat dilihat oleh semua pengguna Facebook. Walaupun hampir enam tahun tidak bertemu, Bunga yakin bahwa itu adalah Dika, teman lamanya. Bayangannya pun melayang menuju enam tahun silam.
Bunga menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali pulang. Ia teringat bagaimana terakhir kali ia bertemu dengan keluarganya.

“Bunga tidur, aja. Biar gak tau Ibu pulang,” kata Ibu Bunga.
“Nggak mau. Pokoknya kalo pulang harus pamit,” rengek Bunga.
“Nanti nangis.”
“Aaah, nggak mau.”
“Iya, iya. Ya udah, sekarang tidur,” ajak Ibu Bunga.
“Tapi nanti kalo Ibu mau pulang, terus Bunga ketiduran, bangunin, ya.”
“Iya.”

Mata Bunga tidak bisa terpejam karena kesedihannya bahwa akan ditinggal oleh keluarganya.

“Kok gak tidur-tidur?” Tanya Ibu Bunga setelah sekian lama menemani di samping Bunga.
“Nggak bisa tidur, Bu.”
“Takut ditinggal, ya.”

Bunga tidak mampu menjawab. Tenggorokannya seperti tersumbat air mata. Jika dipaksakan untuk bicara, suaranya akan bergetar dan air matanya akan keluar. Ayah memberi isyarat kepada Ibu bahwa kedua adik Bunga sudah mulai rewel. Ibu paham.

“Bunga, Ibu sama Ayah pulang dulu, ya. Kata Ayah, Dirga sama Restu udah ribut aja dari tadi,” ujar Ibu dengan berat hati. Intonasi pengucapannya perlahan agar air matanya tidak keluar. Sebenarnya Ibu ingin sekali menangis karena berpisah dari anak sulungnya. Namun Beliau tidak ingin terlihat sedih di mata Bunga. Agar Bunga pun kuat menjalani kehidupannya di asrama puteri tersebut. “Bunga di sini aja. Nggak usah keluar.”

“Bunga ikut nganterin aja, Bu,” rengek Bunga.
Ibu tidak bisa berkata banyak. “Ya udah, ayo.”

Bunga ingin sekali menangis. Namun ia malu dengan Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Bunga tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka, karena takut air matanya jatuh.

“Udah, Bunga masuk aja,” kata Ibu karena tidak ingin Bunga melihat kepergian mereka. “Belajar yang baik. Betah-betahin di asrama, ya,” ujar Ibu sambil mengusap pipi Bunga. “Udah, masuk.”
Bunga pun mengikuti perintah Ibunya, berbalik dan masuk.

“Assalamu’alaikum,” salam Ibunya.

Bunga tidak mampu menjawab. Bibirnya terkunci untuk menahan air mata terjatuh.

Tiba-tiba tangisan Bunga terhenti, begitu juga dengan ingatannya tentang keluarganya begitu mendengar pintu kamarnya diketok. Ia segera menyeka air matanya dan berkaca.

“Bunga!” Panggil suara dari luar.

Kenapa tiba-tiba Ibu Pengasuh ke sini, ya?

“Iya, Bu, sebentar.”

Ia menaburkan bedak ke wajahnya agar tidak terlihat habis menangis. Kemudian ia membuka pintu.

“Nah, Bunga, ini Dika. Dia bakal jadi temen kamarmu,” ujar Ibu Pengasuh.

Bunga dan Dika saling melempar senyum.

“Sekarang kamu nggak sendirian lagi,” kata Ibu pengasuh lagi kepada Bunga. “Dika, ini udah semua (barang-barang Dika)?
“Udah, Bu,” jawab Dika yang pada saat itu membawa koper besar dan bantal dan guling.
“Ya udah, kamu tata barang-barangmu. Biar nanti bisa ikut jama’ah di masjid asrama,” kata Ibu Pengasuh lagi. “Bunga, kamu juga jangan lupa ikut jama’ah di masjid asrama.”
“Iya, Bu,” jawab Bunga.

Itu adalah saat pertama Bunga mengenal Dika. Pertama, mereka saling bertukar informasi mengapa mereka dipindahkan di kamar bangsal khusus. Karena siapa pun yang dipindahkan ke bangsal khusus ini, adalah mereka yang memiliki masalah yang cukup serius dengan peraturan asrama. Teman sekamar Bunga sebelumnya adalah seorang perokok berat dan minum-minuman beralkohol. Bahkan di kamar, temannya itu berani menyimpan rokok. Bunga tidak mampu berbuat banyak karena ia adalah senior. Namun beberapa saat setelah dipindahkan ke bangsal khusus, akhirnya seniornya tersebut keluar dari asrama.

Berbeda dengan Bunga yang dipindahkan karena melanggar berbagai peraturan departemen, Dika mengajukan dirinya sendiri untuk dipindahkan ke bangsal khusus ini.

“Kamu ngajuin diri?”
Dika hanya mengangguk.
“Ck..ck..ck..”
“Kalo kamu?”
“Kalo aku karena ngelanggar banyak departemen.”
“Apa aja?”
“Departemen pramuka, karena aku gak pernah ikut pramuka. Departemen bahasa, karena aku gak pernah pake bahasa. Departemen keamanan, karena aku sering ketahuan kabur dari asrama. Departemen ibadah, karena aku jarang ke masjid.”
“Gila!” Sentak Dika.

Setelah itu, banyak hal bodoh dan nakal yang mereka lakukan. Bahkan mungkin lebih sering dan berani dari sebelumnya karena mereka merasa memiliki kekuatan karena bersama. Mereka semakin lama semakin sering membolos pada jam pelajaran untuk pergi bermain ke kampung. Dan beberapa kali mereka kabur ke rumah sanak saudara Bunga yang berada di lain kota. Sehingga kaburnya mereka dapat dikategorikan pelanggaran terberat yang mereka lakukan. Terakhir kali mereka kabur, Dika dipanggil oleh Ibu Konsulat Bangka Belitung. Setiap daerah memiliki konsulat. Bunga pernah diperingati Ibu Konsulatnya ketika ia kabur pertama kali. Namun sepertinya Ibu Konsulatnya tidak peduli lagi terhadapnya.

“Kamu kenapa dipanggil, Dik?” Tanya Bunga, yang ternyata menunggu Dika di depan kantor konsulat.
“Nggak papa,” jawab Dika.
Bunga tidak puas dengan jawaban Dika. Ia merasa Dika menyembunyikan sesuatu darinya.

Mereka pun kembali ke kamar bersama.

“Ng... Dika, mendingan... sekarang kamu... jangan main sama aku lagi,”
“Kenapa?”
“Kayaknya Ibu Konsulat kamu gak suka kamu main sama aku.”
Dika hanya diam.
“Lagian sebentar lagi, kan, UTS. Kamu musti konsen.”
“Ya, kamu juga, dong.”
Bunga hanya mengangguk.
Sejenak tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua.
“Hm... Sebenernya... Ibu Konsulatku... nyuruh... aku jauhin kamu.”
Bunga tidak kaget lagi dengan pernyataan itu. Sudah seperti yang ia duga.
“Ibu Konsulatmu bener, sih. Kita udah terlalu jauh nakalnya,” ujar Bunga.
“Aku jadi sedih kalo inget orang tua,” kata Dika.
Bunga mengangguk pelan. Ia jadi merasa bersalah kepada Dika, juga kepada orang tua Dika, terlebih Ayah Ibunya.

“Bunga!”
Bunga terbuyar dari nostalgianya, begitu Ibu memanggilnya.
“Iya, Bu.”
“Sendoknya udah dimasukin koper?”
“Udah, Bu.”

Beberapa hari lagi Bunga akan berangkat ke Surabaya untuk kuliah. Tahun ini merupakan tahun pertama ia kuliah. Sehingga ia harus membawa perlengkapan kos yang bisa dibawa untuk meminimalisir pengeluaran.

Ah, iya!! Bunga teringat sesuatu.

Ia membuka profil Dika.

Semoga bisa dilihat. Nah ini dia!!

Bunga membaca profil Dika yang ternyata tidak di privasi oleh Dika.

Akan banyak cerita ketika kita sudah terhubung nanti.

Bunga menutup laptopnya dan pergi ke kamar mandi untuk persiapan tidur.
Keesokan harinya terdapat satu pesan di Facebooknya. Ia buru-buru membukanya.

Semoga dari salah satu dari orang-orang itu.

Restu Putra:
Ini nomor dika: 082227568817

Bunga terbelalak senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan nomor Dika. Balasan tersebut dari pacar Dika.

Bunga Semesta:
Makasih banyak ya

Bunga mencatat nomor tersebut dan segera mengirimkan SMS ke Dika.

Bunga:
Hallo, ini bener Tara Dika yg dulu pernah sekolah d MTs Harapan Mulia Ponorogo?

Kirim

Muncul tanda centang yang artinya pesan tersebut diterima.

Berarti nomornya masih aktif.

Tidak berapa lama diterima balasan dari kontak bernama Dika.

Dika:
Iya, ini siapa ya?

Bunga senang sekali. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya.

Bunga:
Ini Bunga yg dulu pernah sekamar sama u d bangsal khusus.

Dika:
Ohh iya, yang dulu pernah kabur bareng-bareng, ya. Tapi aku lupa-lupa inget Bung, sama wajahmu.

Bunga:
Iya emang udh lama sih. Aku udah add u d fb dik. Udh dari setaun yg lalu. Tapi kamu lama gak u konfirm. Ya udh aku batalin. Seminggu lalu aku add u lg. Tapi lama gak u konfirm lg. Akhirnya aku kirimin beberapa temen u pesen u/ minta no u. Yg bales cuma pacar u itu.

Dika:
Maaf ya bung. Udah lama banget ya. Aku jadi keinget kisah2 kita dulu J

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget J. Sampe2 kita...

“Bunga, Ibu minta tolong, dong,” belum selesai Bunga mengetikkan pesan, Ibu memanggil dari dapur.
“Iya, Bu. Bentar,” Bunga menghapus beberapa kata karena ia tahu Ibu akan minta tolong dibelikan kopi. Karena ada tamu datang.

Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget deh pokoknya J.
Eh dik. Aku dipanggil Ibuku. Next time kita lanjut ya

Bunga meletakkan handphonenya dan beranjak ke dapur. Dan benar saja. Ibu minta tolong untuk dibelikan kopi di warung dekat rumah, sekaligus membuatkan kopi kedua tamu Ayah yang datang, karena Ibu harus segera berangkat pengajian. Bunga pun dengan cekatan meluncur ke warung samping rumah untuk membeli kopi instan dan menyeduhnya untuk kedua tamu Ayah.

Bunga sedikit mencicipi kopi yang ia tuangkan seujung sendok ke telapak tangannya. Pas

Bunga mengantarkan kopi untuk tamu-tamu Ayah. Dan segera kembali ke kamar untuk melihat handphonenya.

Ada balasan dari Dika

Dika:
Oke Bunga

Kemudian muncul pemberitahuan baru bahwa permintaan pertemanannya dikonfirmasi oleh Dika. Beberapa saat kemudian di beranda muncul update dari Dika yang membuat Bunga tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Bunga men-share ulang status dari Dika. dan menambahkan kalimat,
"Pengalaman yang tak terlupakan. Akan ada obrolan yang sangat panjang ketika kami bertemu nanti."