Bunga
membuka akun facebooknya. Kemudian ia membuka akun facebook teman lamanya.
Masih
belum dikonfirmasi. Belum ada balesan juga dari orang-orang itu.
Ia
membuka tab twitternya. Tidak ada balasan follow dari teman lamanya pula. Ia
juga pesimis dengan twitter karena sudah sangat lama, terakhir kali temannya
update twit. Sebenarnya sekitar setahun yang lalu ia sudah berusaha mencari
teman lamanya tersebut. Beruntung teman lamanya tersebut menggunakan nama asli,
sehingga ia dapat menemukannya di facebook. Namun karena lama tidak
dikonfirmasi oleh temannya tersebut, Bunga membatalkan permintaan
pertemanannya. Namun belakangan ia teringat akan teman lamanya tersebut, dan
kembali mengirimkan permintaan pertemanan ke teman lamanya tesebut. Namun
respon yang sama seperti setahun yang lalu kembali ia dapatkan.
Nggak dikonfirmasi dari Dika.
Ia
pun mengirimi Dika pesan. Namun masih belum berhasil, karena sama sekali tidak
dibaca oleh Dika.
Namun
ternyata Bunga baru sadar bahwa Dika mengupdate foto profil terbarunya. Akhrinya
kini antara setengah kesal, Bunga pun akhirnya berinisiatif mengirimi seseorang
yang Dika tautkan sebagai pacarnya di facebook.
Halloo
Sorry, kamu bener pacarnya
Tara Dika yang dulu pernah sekolah di Harapan Mulia, Ponorogo?
Kalo boleh aku bisa minta
nomor hpnya gak? Soalnya aku inbox di fb gak dibales-bales sama dia. Permintaan
pertemananku juga gak dikonfirm sama dia. Minta tolong juga supaya konfirm
pertemananku di fb.
Makasih sebelumnya, sorry
ngerepotin.
Pesan-pesan serupa juga Bunga kirimkan kepada beberapa
teman Dika di Facebook. Tidak ada balasan setelah sehari Bunga mengirimi
teman-temannya pesan. Ia mulai kesal karena ini adalah cara terakhir yang bisa
ia gunakan selain menunggu. Ia pun membuka galeri foto Dika yang dapat dilihat
oleh semua pengguna Facebook. Walaupun hampir enam tahun tidak bertemu, Bunga
yakin bahwa itu adalah Dika, teman lamanya. Bayangannya pun melayang menuju
enam tahun silam.
Bunga menangis sejadi-jadinya. Ia ingin sekali
pulang. Ia teringat bagaimana terakhir kali ia bertemu dengan keluarganya.
“Bunga tidur, aja. Biar gak tau Ibu pulang,”
kata Ibu Bunga.
“Nggak mau. Pokoknya kalo pulang harus pamit,”
rengek Bunga.
“Nanti nangis.”
“Aaah, nggak mau.”
“Iya, iya. Ya udah, sekarang tidur,” ajak Ibu
Bunga.
“Tapi nanti kalo Ibu mau pulang, terus Bunga
ketiduran, bangunin, ya.”
“Iya.”
Mata Bunga tidak bisa terpejam karena
kesedihannya bahwa akan ditinggal oleh keluarganya.
“Kok gak tidur-tidur?” Tanya Ibu Bunga setelah
sekian lama menemani di samping Bunga.
“Nggak bisa tidur, Bu.”
“Takut ditinggal, ya.”
Bunga tidak mampu menjawab. Tenggorokannya
seperti tersumbat air mata. Jika dipaksakan untuk bicara, suaranya akan
bergetar dan air matanya akan keluar. Ayah memberi isyarat kepada Ibu bahwa kedua
adik Bunga sudah mulai rewel. Ibu paham.
“Bunga, Ibu sama Ayah pulang dulu, ya. Kata
Ayah, Dirga sama Restu udah ribut aja dari tadi,” ujar Ibu dengan berat hati.
Intonasi pengucapannya perlahan agar air matanya tidak keluar. Sebenarnya Ibu
ingin sekali menangis karena berpisah dari anak sulungnya. Namun Beliau tidak
ingin terlihat sedih di mata Bunga. Agar Bunga pun kuat menjalani kehidupannya
di asrama puteri tersebut. “Bunga di sini aja. Nggak usah keluar.”
“Bunga ikut nganterin aja, Bu,” rengek Bunga.
Ibu tidak bisa berkata banyak. “Ya udah, ayo.”
Bunga ingin sekali menangis. Namun ia malu
dengan Ayah, Ibu, dan adik-adiknya. Bunga tidak mampu mengucapkan sepatah kata
pun kepada mereka, karena takut air matanya jatuh.
“Udah, Bunga masuk aja,” kata Ibu karena tidak
ingin Bunga melihat kepergian mereka. “Belajar yang baik. Betah-betahin di
asrama, ya,” ujar Ibu sambil mengusap pipi Bunga. “Udah, masuk.”
Bunga pun mengikuti perintah Ibunya, berbalik
dan masuk.
“Assalamu’alaikum,” salam Ibunya.
Bunga tidak mampu menjawab. Bibirnya terkunci
untuk menahan air mata terjatuh.
Tiba-tiba tangisan Bunga terhenti, begitu juga
dengan ingatannya tentang keluarganya begitu mendengar pintu kamarnya diketok.
Ia segera menyeka air matanya dan berkaca.
“Bunga!” Panggil suara dari luar.
Kenapa tiba-tiba Ibu Pengasuh ke sini, ya?
“Iya, Bu, sebentar.”
Ia menaburkan bedak ke wajahnya agar tidak
terlihat habis menangis. Kemudian ia membuka pintu.
“Nah, Bunga, ini Dika. Dia bakal jadi temen
kamarmu,” ujar Ibu Pengasuh.
Bunga dan Dika saling melempar senyum.
“Sekarang kamu nggak sendirian lagi,” kata Ibu
pengasuh lagi kepada Bunga. “Dika, ini udah semua (barang-barang Dika)?
“Udah, Bu,” jawab Dika yang pada saat itu
membawa koper besar dan bantal dan guling.
“Ya udah, kamu tata barang-barangmu. Biar
nanti bisa ikut jama’ah di masjid asrama,” kata Ibu Pengasuh lagi. “Bunga, kamu
juga jangan lupa ikut jama’ah di masjid asrama.”
“Iya, Bu,” jawab Bunga.
Itu adalah saat pertama Bunga mengenal Dika.
Pertama, mereka saling bertukar informasi mengapa mereka dipindahkan di kamar
bangsal khusus. Karena siapa pun yang dipindahkan ke bangsal khusus ini, adalah
mereka yang memiliki masalah yang cukup serius dengan peraturan asrama. Teman
sekamar Bunga sebelumnya adalah seorang perokok berat dan minum-minuman
beralkohol. Bahkan di kamar, temannya itu berani menyimpan rokok. Bunga tidak
mampu berbuat banyak karena ia adalah senior. Namun beberapa saat setelah
dipindahkan ke bangsal khusus, akhirnya seniornya tersebut keluar dari asrama.
Berbeda dengan Bunga yang dipindahkan karena
melanggar berbagai peraturan departemen, Dika mengajukan dirinya sendiri untuk
dipindahkan ke bangsal khusus ini.
“Kamu ngajuin diri?”
Dika hanya mengangguk.
“Ck..ck..ck..”
“Kalo kamu?”
“Kalo aku karena ngelanggar banyak
departemen.”
“Apa aja?”
“Departemen pramuka, karena aku gak pernah
ikut pramuka. Departemen bahasa, karena aku gak pernah pake bahasa. Departemen
keamanan, karena aku sering ketahuan kabur dari asrama. Departemen ibadah,
karena aku jarang ke masjid.”
“Gila!” Sentak Dika.
Setelah itu, banyak hal bodoh dan nakal yang
mereka lakukan. Bahkan mungkin lebih sering dan berani dari sebelumnya karena
mereka merasa memiliki kekuatan karena bersama. Mereka semakin lama semakin
sering membolos pada jam pelajaran untuk pergi bermain ke kampung. Dan beberapa
kali mereka kabur ke rumah sanak saudara Bunga yang berada di lain kota.
Sehingga kaburnya mereka dapat dikategorikan pelanggaran terberat yang mereka
lakukan. Terakhir kali mereka kabur, Dika dipanggil oleh Ibu Konsulat Bangka
Belitung. Setiap daerah memiliki konsulat. Bunga pernah diperingati Ibu
Konsulatnya ketika ia kabur pertama kali. Namun sepertinya Ibu Konsulatnya
tidak peduli lagi terhadapnya.
“Kamu kenapa dipanggil, Dik?” Tanya Bunga,
yang ternyata menunggu Dika di depan kantor konsulat.
“Nggak papa,” jawab Dika.
Bunga tidak puas dengan jawaban Dika. Ia
merasa Dika menyembunyikan sesuatu darinya.
Mereka pun kembali ke kamar bersama.
“Ng... Dika, mendingan... sekarang kamu...
jangan main sama aku lagi,”
“Kenapa?”
“Kayaknya Ibu Konsulat kamu gak suka kamu main
sama aku.”
Dika hanya diam.
“Lagian sebentar lagi, kan, UTS. Kamu musti
konsen.”
“Ya, kamu juga, dong.”
Bunga hanya mengangguk.
Sejenak tidak ada pembicaraan diantara mereka
berdua.
“Hm... Sebenernya... Ibu Konsulatku...
nyuruh... aku jauhin kamu.”
Bunga tidak kaget lagi dengan pernyataan itu.
Sudah seperti yang ia duga.
“Ibu Konsulatmu bener, sih. Kita udah terlalu
jauh nakalnya,” ujar Bunga.
“Aku jadi sedih kalo inget orang tua,” kata
Dika.
Bunga mengangguk pelan. Ia jadi merasa
bersalah kepada Dika, juga kepada orang tua Dika, terlebih Ayah Ibunya.
“Bunga!”
Bunga terbuyar dari nostalgianya, begitu Ibu
memanggilnya.
“Iya, Bu.”
“Sendoknya udah dimasukin koper?”
“Udah, Bu.”
Beberapa hari lagi Bunga akan berangkat ke
Surabaya untuk kuliah. Tahun ini merupakan tahun pertama ia kuliah. Sehingga ia
harus membawa perlengkapan kos yang bisa dibawa untuk meminimalisir
pengeluaran.
Ah, iya!! Bunga
teringat sesuatu.
Ia membuka profil Dika.
Semoga bisa dilihat. Nah ini dia!!
Bunga membaca profil Dika yang ternyata tidak di privasi oleh
Dika.
Akan banyak cerita ketika kita sudah terhubung
nanti.
Bunga
menutup laptopnya dan pergi ke kamar mandi untuk persiapan tidur.
Keesokan harinya terdapat satu pesan di Facebooknya. Ia buru-buru
membukanya.
Semoga dari salah satu dari orang-orang itu.
Restu Putra:
Ini nomor dika: 082227568817
Bunga terbelalak senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan nomor Dika.
Balasan tersebut dari pacar Dika.
Bunga Semesta:
Makasih banyak ya
Bunga mencatat nomor tersebut dan segera mengirimkan SMS ke Dika.
Bunga:
Hallo, ini bener Tara Dika yg dulu
pernah sekolah d MTs Harapan Mulia Ponorogo?
Kirim
Muncul tanda centang yang artinya pesan tersebut diterima.
Berarti nomornya masih aktif.
Tidak berapa lama diterima balasan dari kontak bernama Dika.
Dika:
Iya, ini siapa ya?
Bunga senang sekali. Ingin rasanya ia berteriak
sekencang-kencangnya.
Bunga:
Ini Bunga yg dulu pernah sekamar sama
u d bangsal khusus.
Dika:
Ohh iya, yang dulu pernah kabur
bareng-bareng, ya. Tapi aku lupa-lupa inget Bung, sama wajahmu.
Bunga:
Iya emang udh lama sih. Aku udah add
u d fb dik. Udh dari setaun yg lalu. Tapi kamu lama gak u konfirm. Ya udh aku
batalin. Seminggu lalu aku add u lg. Tapi lama gak u konfirm lg. Akhirnya aku
kirimin beberapa temen u pesen u/ minta no u. Yg bales cuma pacar u itu.
Dika:
Maaf ya bung. Udah lama banget ya. Aku
jadi keinget kisah2 kita dulu J
Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget J. Sampe2 kita...
“Bunga, Ibu minta tolong, dong,” belum selesai Bunga mengetikkan
pesan, Ibu memanggil dari dapur.
“Iya, Bu. Bentar,” Bunga menghapus beberapa kata karena ia tahu
Ibu akan minta tolong dibelikan kopi. Karena ada tamu datang.
Bunga:
Haha iya dik. Konyol banget deh
pokoknya J.
Eh dik. Aku dipanggil Ibuku. Next time
kita lanjut ya
Bunga meletakkan handphonenya dan beranjak ke dapur. Dan benar
saja. Ibu minta tolong untuk dibelikan kopi di warung dekat rumah, sekaligus
membuatkan kopi kedua tamu Ayah yang datang, karena Ibu harus segera berangkat pengajian.
Bunga pun dengan cekatan meluncur ke warung samping rumah untuk membeli kopi
instan dan menyeduhnya untuk kedua tamu Ayah.
Bunga sedikit mencicipi kopi yang ia tuangkan seujung sendok ke telapak tangannya. Pas
Bunga mengantarkan kopi untuk tamu-tamu Ayah. Dan segera kembali
ke kamar untuk melihat handphonenya.
Ada balasan dari Dika
Dika:
Oke Bunga
Kemudian muncul pemberitahuan baru bahwa permintaan pertemanannya
dikonfirmasi oleh Dika. Beberapa saat kemudian di beranda muncul update dari
Dika yang membuat Bunga tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Bunga men-share ulang status dari Dika. dan menambahkan kalimat,
"Pengalaman yang tak terlupakan. Akan ada obrolan yang sangat panjang ketika kami bertemu nanti."