Selasa, 13 Februari 2018

Review Film Dilan 1990

Haloo, kali ini saya akan review tentang film yang baru saya tonton. Film Dilan 1990. Yaps beberapa pasti sudah pada tau film ini bercerita tentang flash back masa SMA Milea Adnan Hussain, yang diperankan oleh Vanesha Prescilla. Film ini diangkat dari novel karya Pidi Baiq, yang notabene merupakan kisah nyata dari si Milea sendiri, tentang bagaimana sosok Dilan dalam hidupnya. Walaupun sampai sekarang kita tidak pernah tau siapa sosok Dilan sebenarnya.
Oke, berdasarkan alur, kita tidak akan kecewa. Karena berdasarkan alur cerita, Film Dilan ini sama persis dengan yang ada di buku. Bahkan dialognya! Tapi buat justru ini yang buat kita secara tidak langsung jadi spoiller bagi diri kita sendiri. Bayangkan saja kita nonton film yang kita sudah tau jalan ceritanya. Ditambah lagi ketika nonton saya duduk di samping sekelompok anak remaja (kelihatannya anak SMA) yang menurut saya cukup berisik jadi spoiler. Seperti…
“Oh ini Dilan sembunyi di belakang sekolah, kan.”
“Gereja!”
“Eh, ini yang mau ditampar, kan?”
“Ohh itu yang namanya susi.”
“Itu yang suka sama Dilan, kan?”
It’s okey! Mungkin waktu masih SMA saya juga pernah seperti itu. Walaupun rasanya cukup mengganggu.
Sebelum menonton Film Dilan 1990 saya sudah membaca novelnya terlebih dahulu dari Dilan 1990, lanjut ke Dilan 1991, sampai ke buku Milea. Sehingga saya tidak terlalu penasaran dengan jalan ceritanya akan seperti apa. Namun saya sangat menikmati Film Dilan 1990 ini karena akhirnya saya bisa menikmati visualisasi dari gambaran novel yang saya baca. Dan tidak bisa dipungkiri sebagai perempuan, saya merasa baper selama menonton. Bahasa-bahasa puitis yang digunakan pada novel, divisualisasikan secara nyata sesuai dengan ekspektasi saya sebagai pembaca novel Dilan 1990. Itulah mengapa saya cukup menikmati film ini meskipun sudah tau jalan ceritanya akan seperti apa. Karena yang dinikmati bukanlah alur cerita filmnya, namun lebih kepada rasa baper karena menonton visualisasi dialog puitis antara Dilan dan Milea.
Pada Film Dilan 1990 banyak dialog antara Dilan dan Milea yang sebenarnya sudah ada di novel. Semuanya hampir sama persis. Hanya saja setting waktu tahun 1990 kurang terasa pada film. Gaya berpakaian dan berdandan pemain yang berperan sebagai siswa, juga latar tempat yang digunakan, kurang mewakili konsep tahun 1990. Tapi itu tidak begitu mengganggu. Karena menurut saya yang membuat kita tertarik untuk menonton Film Dilan 1990 ini pun bukan setting waktu atau latar tempatnya. Namun lebih kepada jalan ceritanya (untuk yang belum baca novel dan penasaran dengan jalan ceritanya) atau romantisme antara Dilan dan Milea. Dan tentunya trailer-nya yang sangat menjual.
So far kalau kita mengeluhkkan film adaptasi novel yang tidak sesuai dengan novel itu sendiri, hal ini tidak akan dikeluhkan pada Film Dilan 1990 ini. Namun saran saya, jika kamu memang benar-benar ingin menikmati Film Dilan 1990. Jangan baca novelnya dulu. Supaya kamu tidak menjadi spoiler bagi dirimu sendiri. Film ini sangat direkomendasikan untuk orang yang lagi pengen nonton film yang buat baper atau sekadar bernostalgia dengan masa SMA.
Selamat menonton, jangan baper


Sabtu, 27 Februari 2016

Review Novel Hujan - Tere Liye


Dunia sedang terancam oleh jumlah manusia yang semakin hari semakin membludak. Berbagai cara dicoba oleh ilmuwan untuk mengatasi pembludakan umat manusia. Namun hasilnya nihil. Butuh skala yang sangat mematikan agar rencana tersebut berhasil. Adalah Soke Bahtera salah satu ilmuwan yang ditugaskan untuk mengatasi iklim yang semakin ekstrim di bumi. Dunia memutuskan untuk mengambil alih kendali iklim di bumi. Baginya pengendalian iklim oleh manusia berdampak buruk bagi bumi. Benar saja, suhu bumi menjadi meningkat. Tidak ada lagi awan yang terlihat di langit. Proyek dunia pun direncakan. Sebagai ilmuwan, Soke Bahtera mendapatkan dua tiket untuk masuk dalam daftar manusia yang dievakuasi. Tidak ada pilihan lain. Umat manusia harus pindah ke tempat yang lebih baik, karena tidak setetes pun air langit turun menghujani bumi.

Kabar buruk bagi Lail, karena ia selalu suka hujan. Segala hal penting dalam hidupnya terjadi saat hujan turun. Sayangnya kenangan indahnya saat hujan turun menjadi kenangan yang menyakitkan. Lail tahu bahwa Soke Bahtera lebih mencintai Clara. Tentunya Soke Bahtera akan membawa Clara bersamanya ke dalam daftar manusia yang dievakuasi. Seberapa keras ia berusaha melupakan ingatannya tentang Soke Bahtera, justru ingatan tersebut semakin menyakitinya. Lail memutuskan untuk melupakan segala ingatannya tentang Soke Bahtera. Kecanggihan teknologi medis kala itu sudah sampai pada taraf yang luar biasa. Sehingga dengan kecanggihan tersebut manusia bisa memanipulasi ingatannya, memilih ingatan mana saja yang ingin ia simpan atau lupakan. Sayangnya Lail terlalu naif untuk memutuskan bahwa dengan melupakan, hatinya akan kembali pulih. Bukankah berdamai dengan kenangan, tidak peduli seberapa menyenangkan atau menyakitkan, merupakan cara yang terbaik untuk melupakan?

Apa rencana para ilmuwan untuk menyelamatkan keberlangsungan umat manusia di muka bumi? Akankah keputusan Lail untuk menghapus ingatannya tentang Soke membuat hatinya kembali pulih? Dan siapakah yang Soke Bahtera pilih untuk pergi bersamanya? Semua plot cerita tersebut disatukan oleh Hujan.

Tere Liye kembali menulis buku tentang fiksi-sains. Berbeda dari buku-buku sebelumnya, yang mengangkat economic science, kali ini Penulis membawa plot ceritanya pada tema klimatologi dan geofisika. Penjabaran mengenai ilmu klimatologi dan geofisika pada buku ini kurang detail. Seperti ketika Penulis menjabarkan istilah-istilah ekonomi pada novel Negeri di Ujung tanduk, Negeri Para Bedebah, dan Pulang. Proses bencana alam dan perubahan iklim pada novel ini hanya dijelaskan secara umum, selayaknya perspektif orang awam. Ada banyak plot cerita di dalam buku ini. Percintaan, Persahabatan, Politik, dan Sains. Namun Penulis mampu menyatukan plot tersebut ke dalam satu cerita sehingga koheren.

Tidak seperti biasanya, kali ini tokoh bijaksana yang kerap menyampaikan nasihat ditampilkan pada tokoh yang berusia lebih muda. Penulis seolah ingin mendobrak stigma bahwa tidak hanya orang tua saja yang bisa lebih bijaksana dalam memahami kehidupan. Memang benar bahwa orang tua lebih banyak merasakan pahit ketir kehidupan. Namun usia muda tidak mejadi alasan untuk menjadi lebih bijaksana. Peristiwa-peristiwa berat dalam hidup bisa memaksa seseorang untuk menjadi bijaksana lebih dini.

Selamat membaca J

Yogyakarta, 27 Februari 2016
Sovia Sandhi

Selasa, 13 Oktober 2015

Fenomena Gajah Terbang

Pernahkah kalian mendengar cerita tentang Fenomena Gajah Terbang? Ya, mungkin sebagian kita pernah membacanya dari buku Hanum Salsabiela Rais yang judulnya Berjalan Di Atas Cahaya. Salah satu sub judul ceritanya bercerta tentang Fenomena Gajah Terbang. Aku belum tahu pasti dari mana asal cerita ini. Tapi sebenarnya cerita ini hanya analogi yang digunakan untuk menyadarkan kita mengenai fenomena latah yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita.

Fenomena Gajah Terbang ini menganalogikan fenomena latah ini dengan seseorang yang tiba-tiba berteriak, “Lihat!! Ada gajah terbang di langit!”

Kemudian salah satu dari sekian banyak orang yang mendengar mengatakan, “Tidak ada gajah terbang di langit itu!”

Lantas orang yang berseru bahwa ada gajah terbang di langit berkata, “Astaga, apa kalian punya penyakit mata atau bagaimana? Tidakkah kalian melihat gajah sebesar itu terbang di langit?”

Lantas orang akan berseru mempercayainya satu persatu.

“Oh, ya, aku melihatnya! Luar biasa, ia memiliki sayap yang indah!

Kemudian orang lain yang sebenarnya tidak melihat akan ikut berseru juga, “Lihatlah! Ada seseorang yang naik diatasnya.”

Sumber: www.kusukasuka.com

Lantas apa yang akan kita lakukan jika kita berada di dalam keramaian itu?

Dalam hati tentu kita akan mengatakan, bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu. Tapi sanggupkah kita mengatakannya secara lantang bahwa kita memang tidak melihat gajah terbang itu? Atau kita ikut mengatakan bahwa kita melihat gajah terbang tersebut? atau justru kita hanya diam untuk mencari pilihan aman. Jika kita memilih untuk mengatakan bahwa kita jelas tidak melihat gajah terbang itu, kita harus terima untuk dikatakan memiliki penyakit mata atau bahkan bodoh. Sedangkan jika kita mengatkan bahwa kita melihat gajah terbang itu, tentu kita akan membohongi hati nurani kita sendiri, bahwa kita memang tidak melihat gajah terbang tersebut.

Inilah yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Terlebih di era informasi saat ini, media sangat mudah dalam membentuk persepsi masyarakat, mengingat juga media memiliki agenda-agenda setting media. Sehingga persepsi masyarakat akan menjadi seragam, tergantung agenda setting apa yang sedang media jalankan. Televisi seolah menjadi trendsetter fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Contoh paling kecil saja. Teknologi. Teknologi baru yang digunakan ditelevisi. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyebarkannya ke seluruh Indonesia. Dengan televisi, dalam waktu sepersekian detik, teknologi terbaru tersebut sudah bisa tersebar ke seluruh Indonesia. Perlahan sekelompok masyarakat mulai beranggapan bahwa teknologi yang ada di televisi tersebut patut dimiliki, jika tidak ingin dikatakan jadul. Tidak hanya pada teknologi, hal ini juga terjadi pada fashion, bahasa, gaya hidup, dan pemikiran.

Seperti misalnya, jika kita ke kampus menggunakan gaya pakaian yang berbeda dari kebanyakan teman, mungkin kita akan dikatakan aneh, ekstrem atau apa pun itu. Acuhkan saja. Selama kita tidak melanggar etika dan estetika berpakaian berdasarkan situasi dan kondisi, acuhkan saja. Be different guys!! Be someone who brave to shout out what we see and think. Bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita berbeda. Namun yang terpenting adalah untuk menunjukkan kepada mereka yang masih diam, bahwa mereka memiliki teman.

Selasa, 15 September 2015

Berjalan Di Atas Cahaya

Judul Buku    : Berjalan DI Atas Cahaya
Penulis            : Hanum Salsabiela Rais, dkk
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku    : 210 halaman

Kisah perjalanan Hanum tidak cukup berhenti di 99 Cahaya di Langit Eropa. Kini Hanum kembali menceritakan perjalanannya di Eropa, setelah mendapatkan pena dari seorang misterius ketika haji wada’. Jadilah Hamun ditakdirkan menuliskan kembali perjalanan hidup yang ia lalui di Benua Biru, Eropa. Dari perjalanan tentang misi tak mungkin, karena hanya diberi anggaran tiga ribu dollar untuk tiga orang selama delapan belas hari hidup di Eropa. Hingga anggaran yang kecil tersebut justru mempertemukannya dengan pembuat jam. Siapa sangka jam-jam bermerek terkenal dunia, seperti Rolex, Swisswatch, Hublet, Omega, Calvin Klein (CK) dan sederet merek dunia lainnya, ternyata lahir dari sebuah kota kecil. Bahkan nyaris seperti kota mati ketika hari libur.

Akan ada beragam kisah yang akan disuguhkan di dalam buku ini, karena buku ini merupakan kumpulan kisah nyata penulis-penulisnya. Kisah-kisah perjalanan dalam buku ini akan membawa kita berkeliling Eropa sejenak, dengan beragam kisah kehidupan muslim di Eropa. Namun tidak sekedar jalan-jalan. Karena akan ada pelajaran yang dapat dipetik di dalam buku ini. Kisah-kisah di dalam buku ini seperti magnet yang akan menarik keinginan kita untuk mengunjungi, bahkan tinggal di Eropa dengan segala keteraturan kehidupan masyarakatnya. Bahwa apa pun yang bukan milik mereka, mereka tidak berani menyentuhnya. Semua berjalan menyesuaikan sistem. Sungguh merupakan kehidupan yang sangat didambakan!

Bahasa yang digunakan di dalam buku ini sangat mudah dipahami, persis seperti seseorang yang sedang bercerita. Foto-foto yang ada di dalam buku ini juga sangat menunjang imajinasi pembaca. Sehingga pembaca tidak akan kesulitan untuk memvisualkan cerita-cerita yang di dalam buku ini. Singkatnya buku ini memberikan beragam kisah untuk menjadi agen muslim yang baik. Kita perlu merubah persepsi dunia tentang Islam seperti yang digembar-gemborkan oleh media saat ini. Karena setiap muslim adalah Public Relation (PR) bagi Islam. Bagi Hanum, apa pun yang manusia dengar, lihat, dan rasakan adalah cahaya dari-Nya. Itulah mengapa, manusia perlu menyadari bahwa ia selalu berjalan diatas cahaya-Nya.

Yogyakarta, 15 September 2015
Sovia Sandhi

Kamis, 10 September 2015

Kisah Sang Penandai

Judul Buku    : Kisah Sang Penandai
Penulis            : Tere Liye
Penerbit          : Mahaka
Tahun Terbit : 2014
Cetakan          : Ke-4

Jim mulanya hanyalah pria buta huruf, yang jatuh cinta kepada seorang Putri kerajaan negeri seberang. Seperti kebanyakan kisah cinta lainnya, hubungan cinta mereka jelas ditolak. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Jim yang pengecut untuk memperjuankan cintanya. Bahkan untuk mengakhiri hidupnya yang sudah terasa sangat pahit pun, Jim sangat takut. Namun kisah ini menjadi berbeda ketika Jim terpilih untuk menjalani sebuah dongeng hidupnya. Hanya manusia terpilihlah yang memiliki kesempatan dari Sang Penandai untuk menuliskan dongeng hidupnya, hingga sampai pada kita saat ini.

Perjalanan ke Tanah Harapan pun ia tempuh demi menyibukkan diri dari rasa sakit karena ditinggalkan kekasih hati. Rupanya dalam perjalanan itu bukan hanya Jim saja yang sedang menjalani dongeng dari Sang Penandai. Siapakah orang itu? Dongeng apa yang sebenarnya orang itu miliki? Dan mampukah Jim menyelesaikan dongeng yang diberikan oleh Sang Penandai?

Sekali lagi Tere Liye mampu membawa pembacanya kepada jalan cerita yang tidak dapat ditebak. Pembaca seperti dituntut untuk membaca hingga selesai jika ingin mengetahui keseluruhan cerita. Gaya bahasa khas Tere Liye masih digunakan dalam buku ini, baku cenderung melayu. Ada beberapa kata yang asing dalam bahasa Indonesia pada umumnya, namun Tere Liye menjelaskan pada bagian footnote, sehingga pembaca tidak akan bingung dalam memaknai istilah yang digunakan Tere Liye.

Tidak perlu berpikir keras untuk bisa melogikakan kisah dalam buku ini. Karena  memang kisah yang disuguhkan dalam buku ini tidak jauh berbeda, dengan dongeng-dongeng yang berkembang dalam masyarakat. Namun bedanya, jalan cerita dongeng ini lebih kompleks dan panjang. Pesan moral yang ingin disampaikan oleh buku ini adalah untuk memberikan kesadaran kepada kita, bahwa tidak semua dongeng yang kita dengar adalah kisah terbaik yang layak menjadi panutan. Justru sebaliknya. Ada beberapa dongeng yang sebaiknya menjadi pelajaran saja, tanpa harus menjadi panutan. Ini seperti sindiran untuk kisah Romeo and Juliet.

Yogyakarta, 10 September 2015

Kamis, 03 September 2015

Islam Gak Liberal

Judul Buku    : Islam Gak Liberal
Penulis            : Zaky Ahmad Rivai
Penerbit          : Gema Insani
Tahun Terbit : Januari 2015
Tebal Buku    : 140 Halaman; 23 cm


Ilmu pengetahuan yang berkembang sangat pesat membuat situasi dunia saat ini sedang berada pada masa perang pemikiran. Saat ini bukan lagi masanya untuk berperang dengan cara angkat senjata ,ataupun imperialisme dengan cara militer. Berperang melalui pola pikir dirasa lebih efektif dan efisien untuk menguasai dunia. Inilah salah satu yang dilakukan Zaky Ahmad Rivai untuk menyuarakan pendapatnya melalui tulisan. Dari judul buku tersebut pembaca sudah dapat menebak garis besar pembahasan buku ini.

Kebebasan yang marak digaungkan, membuat setiap orang bebas berpendapat. Bagi orang awam dalam bidang agama atau pun akademisi, akan sulit memahami secara tepat apa itu Islam Liberal. Di dalam buku ini penulis menjelaskan pengertian Islam Liberal secara lebih sederhana, dengan analogi-analogi yang dekat dengan keseharian manusia. Islam secara bahasa adalah berserah diri. Sedangkan liberal identik dengan kebebasan. Dengan menggabungkan dua kata tersebut, maka akan terjadi tumpang tindih dalam memahami istilah tersebut. Inilah yang penulis jelaskan dalam buku ini. Selain di dalam buku ini juga akan dijelaskan mengenai faktor-faktor kemunculan paham ini, yang juga akan terkait dengan paham sekulerisme, pluralisme, relativisme, dan liberalisme.

Di dalam buku ini juga dijabarkan fenomena-fenomena realistis yang mendukung, untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami buku ini. Penulis pun secara gamblang mengkritisi tokoh-tokoh dan perguruan tinggi, yang berlawanan dengan pemahaman penulis. Beberapa ayat Al-Qur’an juga disematkan untuk mendukung pernyataan-pernyataan penulis.

Gaya bahasa sederhana bahkan cenderung gaul ini, sangat memudahkan pembaca dalam memahami topik yang sebenarnya cukup berat untuk dipahami. Layout dan visual yang ada pada setiap bab cukup membantu untuk memberikan kesan santai pada buku ini. Sehingga buku yang memuat topik mengenai berbagai ideologi dan konspirasi dibelakang Islam Liberal ini akan lebih mudah dipahami. Buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami konspirasi di balik Islam Liberal secara sederhana. Mengingat buku ini ditulis dalam satu perspektif, maka pembaca dirasa perlu mencari referensi lain untuk menyeimbangkan dan melengkapi pemahaman mengenai Islam.

Yogyakarta, 3 September 2015

Yogyakarta, I'm Fall in Love

Ada nasihat mengatakan, untuk mengetahui seberapa besar kecintaanmu pada sesuatu, maka cobalah untuk pergi sejauh-jauhnya. Seberapa besar kerinduanmu kelak, maka sebesar itulah kecintaanmu pada sesuatu itu.

Aku pikir aku tidak akan pernah merindukannya. Aku pikir aku tidak akan punya kenangan di sana. Tapi rupanya kini aku begitu merindukannya. Tentang kehidupannya. Budayanya. Masyarakatnya. Semuanya. Dulu aku berpikir untuk mempercepat studiku agar segera dapat kembali ke hometown-ku. Aku pikir satu-satunya rumahku adalah daerah asalku. Tapi rupanya tidak lagi.

Aku Jatuh Cinta pada Yogyakarta. Tidak peduli dengan segala kemacetan dan polusi jalanan kota, bahkan kriminalitas yang lebih parah dibandingkan hometown-ku, Yogyakarta membuatku jatuh cinta dalam sekejap. Yogyakarta telah menjadi my second hometown. Rumah. Tidak peduli dimana pun kamu berada, jika kau merasa nyaman menjadi diri sendiri dengan segenap orang-orang yang menyayangimu dan kamu sayangi. Itulah rumahmu.

Suatu saat aku pasti akan sangat berat untuk meninggalkan Yogyakarta. Bahkan kelak aku pasti akan menangis karena meninggalkan Yogyakarta.

Nusa Dua, 22 Juni 2015

Bukan Hanya

bukan hanya tentang ditinggalkan atau meninggalkan
bukan hanya tentang kesedihan hati
bukan hanya tentang kebecian
juga bukan hanya tentang kehilangan
tapi ini juga bisa berarti perjuangan untuk tumbuh bersama
perkara memilih meninggalkan atau ditinggalkan, itu pilihan
terlepas dari semua itu, perpisahan selalu membawa perubahan suasana hati bagi manusia,
baik untuk sementara atau pun selamanya


Nusa Dua, 25 Agustus 2015

Surat Untuk 21

Haloo
SELAMAT DATANG 21!!
Bagaimana kabarmu?
Sudahkah kau tetapkan mimpimu?
Sudahkah kau tetapkan tujuanmu?
Sudah cukupkah kau membahagiakan orang yang menyayangimu dan kau sayangi?
Sudahkah??

Sulit bukan untuk menjawabnya?
Karena mungkin kamu memang belum punya tujuan

Melangkahlah!!
Beranilah!!
Kegelapan hanya akan tetap gelap sampai adanya cahaya
Buatlah cahaya itu!
Percaya dirilah!
Segala ketakutan dan kekhawatiranmu bisa jadi tidak terbukti
Kalaupun benar adanya, gunakan pengalaman itu untuk belajar dan berlatih lebih baik lagi
Cari segera jati dirimu!
Hari ini, meski terlambat untuk mengetahuinya, tapi belum sangat terlambat
Semoga bunga bijaksana itu benar-benar tubuh semakin baik

Selamat ulang tahun

 Yogyakarta, 31 Agustus 2015


Sabtu, 07 Februari 2015

(Resensi) Negeri di Ujung Tanduk

Judul Buku          : Negeri di Ujung Tanduk
Penulis                 : Tere Liye
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : Juli 2013
Cetakan               : Ke-3
Tebal Buku         : 359 Halaman

Buku ini merupakan sekuel kedua dari buku Tere Liye sebelumnya yang berjudul Negeri Para Bedebah. Jenis cerita yang disajikan tidak jauh berbeda dari buku sebelumnya. Masih seputar petarungannya melawan birokrasi bobrok negeri bedebah. Namun kali ini Thomas berhadapan dengan lawan yang lebih besar dan kuat. Bahkan Opa, Kadek, dan Maryam, Wartawan yang baru saja dikenalnya turut terseret. Mereka berempat menjadi buronan Kepolisian Hong Kong karena tertangkap basah membawa narkoba di yacht pribadinya. Namun Thomas selalu bisa mengatasi segalanya. Ia menyakini kejadian demi kejadian yang menimpanya, dari adanya narkoba di yacht pribadinya, sampai penangkapan klien politiknya yang akan maju dalam pemilihan presiden tahun depan, direkayasa. Dan ia juga menyadari bahwa pertarungannya di masa lalu belum usai. Sayangnya alih-alih para bedebah yang menempati posisi-posisi penting dan tinggi di negeri tersebut, membuat Thomas harus mengalami jatuh bangun dalam melawan mereka. Ditangkap-lolos-ditangkap-lolos-ditangkap.

Dengan bantuan sekertaris dan karyawannya, Thomas akhirnya mendapatkan petunjuk siapa saja yang harus bertanggung jawab atas segala kekacauan hukum negeri tersebut. Banyak dari mereka adalah pejabat instasi pemerintah, baik pajak, kepolisian maupun hukum. Beberapa lagi adalah para pejabat partai. Konspirasi besar ini yang akhirnya ia sebut sebagai Mafia Hukum. Konspirasi yang melibatkan banyak lembaga hukum, dari Kepolisian, Pengadilan, sampai Mahkamah Konstitusi tersebut semakin menyulitkan Thomas untuk mengumpulkan kekuatan serangan balik. Sampai akhirnya ia menemukan dukungan dari satu-satunya lembaga yang masih bersih dan tidak terkait dengan mafia hukum tersebut. Sayangnya konspirasi besar tersebut terlalu besar dan kuat untuk hanya dilawan oleh opini pakar politik dan satu-satunya institusi yang mendukung Thomas . Institusi apakah yang mendukung Thomas? Mampukah Thomas bertahan menghadapi para mafia hukum tersebut? Juga membongkar satu-satunya dalang dibalik konspirasi besar Negeri di Ujung Tanduk tersebut?

Kisah dalam novel ini sangat dekat dengan cerita perpolitikan negeri kita (Indonesia). Sepertinya Tere Liye terinspirasi dengan perpolitikan Indonesia, kemudian mengadopsi dan tentunya mengimprovisasi berdasarkan imajinasinya. Ia juga cukup banyak menggunakan bahasa politik. Sehingga memaksa pembaca untuk membuka kamus sejenak. Namun bagi pembaca yang suka mengikuti cerita politik negeri ini, maka tidak akan susah dalam memahami penggunaan bahasa politik di novel ini. Bahkan pembaca bisa menerka tokoh dan potongan cerita dalam novel ini terinspirasi dengan siapa dan cerita politik yang mana. Meski novel ini merupakan sekuel dari Negeri Para Bedebah, pembaca yang belum pernah membaca novel sebelumnya tidak akan sulit memahami jalan ceritanya. Karena ada beberapa bagian pada novel sebelumnya, yang Tere Liye jelaskan kembali pada novel ini. Sehingga pembaca akan sering dibawa dengan alur maju-mundur ketika membaca novel ini. Namun tentunya akan lebih seru jika pembaca juga membaca novel sebelumnya.

Selain menyajikan kisah konspirasi besar di negeri tersebut, Tere Liye juga menyematkan pesan moral di akhir cerita. Seperti dalam kebanyakan novelnya, dalam novel ini terdapat tokoh dengan karakteristik arif yang menyampaikan pesan moral melalui dialog dengan tokoh lain. Intisari dari kisah ini adalah betapa negeri ini sudah berada di ujung tanduk karena ketidakpedualian masyarakatnya. Mengutip pesan moral dari novel ini bahwa, kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan.

Selasa, 03 Februari 2015

Bukankah, atau Bukankah

Bukankah,
banyak yang berharap jawaban dari seseorang
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"Jadi, jawaban apa yang harus aku berikan?"

Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"Aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"

Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"Kau menungguku? Sejak kapan?"

Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"Akan kau tambatkan di mana?"

Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak-sajak, surat-surat, tulisan-tulisan
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimana akan membacanya

Aduha, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia

Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta-Tere Liye

Bulan Terbelah di Langit Amerika


Judul Buku         : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis                 : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : September, 2014
Cetakan               : Ke-4
Tebal Buku         : 344 Halaman

Perjalanan Hanum dan Rangga berlanjut dari Wina ke Amerika, dengan tujuan sebenarnya adalah untuk tugas. Hanum ditugaskan oleh Gertrud Robinson, bosnya di harian Heute ist Wunderbar untuk menulis artikel dengan tema “Would the world be better without Islam?” (Akankah dunia lebih baik tanpa Islam?). Sebuah topik yang sebenarnya sangat mengusik keyakinannya. Pada awalnya ia menolak tawaran Gertrud. Namun ia tidak bisa membiarkan artikel untuk topik tersebut digarap oleh Jacob, teman sesama wartawannya. Karena Jacob jelas akan menjawab ‘Ya’ dan mencari segala informasi dan data untuk ‘mengiyakan’ jawaban artikelnya. Akhirnya ia menerima tawaran Gertrud untuk menulis artikel tersebut. Karena dengan begitu, artikel tersebut memiliki kesempatan untuk menjawab ‘tidak’. Artikel tersebut juga terkait dengan peringatan delapan tahun peristiwa 11 September. Sebuah tragedi kemanusiaan.

 Secara kebetulan di waktu yang sama Rangga diberi kesempatan oleh Profesor Reinhard untuk menghadiri Konferensi di Wasington DC, sekaligus memburu Phillipus Brown demi memintanya mengisi kelas Etika Bisnis di Kampusnya. Dengan segala kebetulan tersebut, Rangga pun dengan cermat merencanakan perjalanan enam harinya bersama Hanum, agar mereka bisa menyelipkan agenda jalan-jalan mereka. Namun Tuhan berkehendak lain. Semua agenda yang telah ia rencanakan gagal. Bahkan mereka harus berpisah untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing. Tidak seperti yang direncakan. Namun pecahan-pecahan peristiwa 11 September 2001 yang belum tuntas, justru terangkai jelas ketika mereka bertemu. Bisa jadi perpisahan mereka adalah untuk mengumpulkan puzle-puzle tragedi 11 September yang belum terangkai jelas, sehingga akan jelas ketika mereka bertemu nanti.

Hanum dan Rangga secara gamblang, menggambarkan bagaimana Muslim di belahan dunia lain berusaha mempertahankan eksistensinya. Dengan permasalahan berbeda, bahkan lebih kompleks, mereka mampu bertahan di tengah mayoritas yang menghujat mereka. Jauh dari Muslim Indonesia yang notabene menduduki mayoritas. Sehingga secara tidak langsung Hanum dan Rangga berusaha mengajak para muslim Indonesia untuk menjadi agen muslim yang rahmatan lil alamin, dengan pemahaman-pemahaman yang berusaha mereka bagikan melalui buku ini. Buku ini sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang mencari motivasi spiritual. Meski setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda, namun tujuan spiritual mereka sama. Kedamaian. Gaya bahasa yang digunakan pun tidak sulit dimengerti, karena dikemas dengan bahasa novel pada umumnya. Bahkan cenderung menggunakan gaya bahasa novel roman.


Bulan Terbelah di Langt Amerika ini agak mirip dengan novel-novel yang ditulis oleh Dan Brown. Tempat, fakta sejarah, dan peristiwa yang dicantumkan tidak jauh dari faktanya. Keduanya juga menggunakan pendekatan sejarah dalam sebagian besar ceritanya. Karena Bulan Terbelah di Langit Amerika ini juga tidak lepas dari rujukannya terhadap mukjizat yang dimiliki Nabi Muhammad. Perpaduan antara fakta sejarah dan ilmiah, drama, perjalanan Hanum dan Rangga, fiksi yang dikemas dalam tragedi 11 September menjadi daya tarik bagi buku ini. Meskipun tidak serta merta buku ini bisa diterima oleh pembaca yang memiliki keyakinan berbeda. Karena perspektif yang digunakan sangat Islami, mengingat penulis (Hanum-Rangga) juga merupakan seorang muslim. Namun bagi mereka yang mau berpikir terbuka, buku ini mampu menambah ruang kebijaksanaannya dalam memahami sesuatu. 

Senin, 17 November 2014

Mengukur Opini Publik

Pemerintahan akan berjalan dengan baik jika program dan sasarannya tepat. Sehingga demi memaksimalkan kinerja, pemerintah wajib untuk memahami public interest. Untuk dapat membaca public interest, pemerintah dapat membacanya dari opini publik. Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun dituntut untuk cerdas dalam melihat opini publik ditengah maraknya kapitalisme media. Setidaknya masyarakat paham cara mengukur opini publik. Tujuannya adalah untuk mengukur apa yang dipikirkan rakyat. Sehingga kebijakan pemerintah sesuai dengan publik interest.

Opini publik sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno. Namun pada masa itu opini publik belum menjadi sebuah disiplin ilmiah. Namun mereka sudah mempraktekkan cara untuk mengukur opini publik. Pada masa ini teknik pengukuran opini publik dikategorikan sebagai pra ilmiah, yang diantaranya:
1.       Kelompik Primer
Cara mengukur opini publik pada bagian ini mengacu pada pendapat-pendapat kelompok mayoritas. Seperti jamaat gereja dan perkumpulan sosial lainnya. Cukup dengan bertanya kepada kelompok primer tersebut mengenai pendapat mereka terhadap suatu peristiwa.
2.       Kuping ke Tanah
Teknik ini juga disebut dengan gosip. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat, memperhatikan, bertanya, mendengar dan melihat situasi kaum marjinal. Seperti dengan mendatangi pasar di saat musim hujan saat ini. Dengan begitu kita akan mengetahui keluhan Ibu-Ibu dan Pedagang bahwa harga cabai melonjak drastis. Kemudian dapat dilanjutkan dengan menanyakan hal tersebut kepada pihak yang berwenang.
3.       Analis Crowd
Merupakan teknik dengan melihat komentar khalayak terhadap suatu peristiwa. Contohnya komentar masyarakat mengenai pidato Presiden Jokowi.

Setelah opini publik menjadi sebuah disiplin ilmiah, maka teknik pengukurannya pun dilakukan secara ilmiah pula. Sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan asalkan setiap langkahnya tepat. Pengukuran ilmiah ini meliputi:
1.       Survey
Survey merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam membaca opini publik. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil pendapat sebagian besar orang dengan cara melakukan wawancara kepada sebagian kecil orang. Kunci dari suksesnya survey terdapat dalam menentukan sampel yang tepat dari populasi yang ada.
2.       Analisis Wacana
Teknik ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah kata kunci yang paling sering digunakan dalam menyampaikan pesan. Ketika mendengarkan pidato kepresidenan, kita bisa menghitung kata kunci yang paling banyak dikatakan oleh seorang presiden. Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan program apa yang akan dicangkan presiden.
3.       Analisis Isi
Teknik ini tidak jauh berbeda dengan teknik analisis wacana. Menghitung kata kunci yang paling banyak digunakan. Dalam menganalisis, tidak boleh hanya dilakukan oleh satu peneliti. Minimal dianalisis oleh dua peneliti dengan kesepakatan analisis yang disepakati bersama sebelumnya. Dengan begitu kita dapat mengetahui media pro atau kontra terhadap suatu peristiwa yang dibahas. Jika ada perbedaan antara analisis satu dengan yang lain diatas 20 persen, maka penelitian dianggap gagal.

Opini publik merupakan sesuatu yang sangat rentan dimainkan oleh media saat ini. Karena dibalik meja editor ada tangan-tangan tak terlihat. Mereka berkuasa atas medianya dan memiliki kepentingan terselubung. Sehingga merupakan PR (Pekerjaan Rumah) sebagai seorang akademisi, untuk menjelaskannya kepada masyarakat marjinal. Agar masyarakat pinggiran, tidak semakin terpinggirkan mentalnya.


Public Oppinion Class by Iswandi Syahputra

Jumat, 14 November 2014

Konferensi Nasional Fishum UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta, 14 November 2014 – Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora mengadakan Konferensi dan Workshop yang akan diadakan selama dua hari, 14-15 November 2014. Acara ini sekaligus sebagai peringatan dies natalies Fishum ke-9. Sejak tahun 2005 Fishum hadir sebagai salah satu fakultas yang dijadikan syarat untuk merubah IAIN menjadi UIN. Pembukaan acaranya dilaksanakan di Convention Hall dari pukul 08.00 - 11.30 WIB. Pembukaan acara tersebut dihadiri oleh para Dekan, Dosen, baik dari UIN Sunan Kalijaga maupun Perguruan Tinggi lain. Selain itu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora turut berpartisipasi dalam pembukaan Konferensi tersebut.

Acara dibuka oleh mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Musa Ash-Ari’. Kemudian dijeda dengan hiburan dari kelompok musik mahasiswa Fishum selama kurang lebih tiga puluh menit. Dilanjutkan dengan keynote speechdari Amin Abdullah selaku pencetus Integrasi-Interkoneksi. Kehadiran Amin Abdullah ini juga terkait dengan tema yang diusung dalam konferensi, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial Humaniora.

Amin Abdullah menyampaikan keynote speechnya selama kurang lebih satu setengah jam. Menurut Beliau, Ilmu Pengetahuan saat ini seperti sedang dilanda kejenuhan keilmuan. Keilmuan saat ini seperti berada dalam kotak. Tidak mampu berhubungan dengan keilmuan lain. Padahal menurut Amin Abdullah, komunikasi dengan keilmuan lain sangat diperlukan untuk memberi angin segar dalam keilmuan saat ini. Kebanyakan lembaga sebagai pelaksanaan praktis keilmuan yang seharusnya sebagai Problem Solver, malah menjadi Part of Solver. Sehingga melalui konferensi dan workshop yang berlangsung selama dua hari, diharapkan mampu mengubah paradigma dan cara pandang dosen dan mahasiswa, agar tidak dikotak-kotakkan oleh ilmu-ilmu yang mereka pelajari sendiri.


Acara tersebut diakhiri dengan respon Amin Abdullah terkait dengan dua pertanyaan yang diajukan oleh peserta pembukaan konferensi. Acara akan dilanjutkan dengan workshop yang dilaksanakan di PAU I setelah shalat jumat pukul 13.30 - 17.00 sore ini. Serangkaian acara masih akan berlanjut sampai besok, dari pukul 07.30 – 17.00.

@14112014

Resum Seminar Dies Natalies Fishum Ke-9

   
      Terkait dengan dies natalies Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) ke-9, Fishum mengadakan Konferensi Nasional dengan tema, Islam dan Pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora. Acara yang akan berlangsung selama dua hari dari 14-15 November 2014 tersebut terkait dengan workshop. Workshop tersebut dapat diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi agama islam di seluruh Indonesia. Menteri Agama RI yang direncanakan datang sebagai pembicara, tidak dapat menghadiri pembukaan konferensi nasional tersebut. Acara dibuka oleh mantan rektor, Musa Asy-Ari’ di Convention Hall. Kemudian diisi dengan keynote speech dari  Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah selaku penggagas integrasi-interkoneksi. Mengingat bahwa Fishum merupkan sebagian kecil dari syarat merubah nama IAIN menjadi UIN.

Amin Abdullah menganggap bahwa ilmu pengetahuan saat ini sedang mengalami masa kejenuhan keilmuan. Dimana pola pikiran ilmuan dikotak-kotakkan oleh ilmu yang dipelajarinya sendiri. Di sinilah integrasi-interkoneksi hadir sebagai pencair kebekuan keilmuan di islamic studies. Beliau mengibaratkan bahwa agama tanpa ilmu adalah buta. Sedangkan ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Ian G. Barbour mengklasifikasikan empat corak hubungan agama dengan ilmu, yakni:

1.       Konflik.
2.       Indenpendensi.
3.       Dialog.
4.       Integrasi.

Amin Abdullah mencontohkan beberapa skripsi mahasiswa yang menunjukkan bahwa paradigma berpikir mahasiswa telah dikotak-kotakkan oleh ilmu yang telah ia pelajarinya sendiri. Kemudian Beliau mencontohkan secara terbuka beberapa kasus yang terjadi di negeri ini terkait dengan corak hubungan agama dengan ilmu. Pertama, terkait penolakan Peradilan Agama atas gugatan hak perdataan anak hasil pernikahan sirri antara almarhum Moerdiono, mantan Mensekneg dengan Machica Mochtar. Namun Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa almarhum Moerdiono adalah ayah biologis dari M. Iqbal Ramadhan, sebagai anak hasil perkawinan sirri dengan Machica Mochtar berdasarkan bukti berupa DNA (Ilmu Pengetahuan). Dari kasus tersebut saja dapat dengan jelas menggambarkan bahwa terjadi konflik (pertentangan) antara agama dan ilmu. Padahal jika agama dan ilmu dapat diintegrasi-interkoneksikan, maka antara sistem bidang satu dengan bidang lainnya dapat saling melengkapi.

Kedua, masih terkait dengan kasus pertama bahwa jika lembaga-lembaga tersebut masih bersifat indenpendensi (berdiri sendiri) dengan otoritas dan legalitasnya, maka akan sulit menyempurnakan sistem yang ada di Indonesia ini. Seandainya hakim agama mau berdialog dan menyesuaikan sedikit dengan keputusan Mahkamah Konstitusi itu, maka akan lebih memudahkan anak dan wanita korban nikah sirri. Sehingga dialog dan integrasi antara agama dan ilmu sangat diperlukan demi memberi angin segar bagi keilmuan saat ini. Terdapat tiga kata kunci yang dapat menggambarkan hubungan agama dengan ilmu yang bercorak dialogis dan integratif, yakni:
1.       Semipermiable.
Kata kunci ini menggambarkan bahwa hubungan antara agama dan ilmu tidak ada tembok. Sehingga bisa saling menembus dan merembes. Amin Abdullah menggambarkannya seperti jaring laba-laba. Ada yang luput dari pengelihatan dengan mata telanjang manusia bahwa pada jaring laba-laba, antara sekat satu dengan sekat lainnya memiliki pori-pori. Jika ruang tersebut dianalogikan sebagai masing-masing bidang keilmuan, maka pori-pori ini dianalogikan sebagai jendela atau pintu. Sehingga antara keilmuan satu dengan keilmuan lainnya dapat saling berbagi dan berdialog. Jendela dan pintu itu jugalah yang akan memberikan angin segar bagi bidang keilmuan lain.
2.       Intersubjective Testability.
Data yang pengamat dapatkan dilapangan tidak bisa lepas sama sekali dari subjektifitas pengamat. Karena keilmuan turut mengintervensi objektifitas pengamat dalam menyimpulkan data yang ia dapatkan. Sehingga perlu kacamata keilmuan lain untuk sama-sama menguji tingkat kebenaran data yang didapatkan di lapangan.
3.       Creative Imagination.
Sudah saatnya ilmuan untuk berimajinasi kreatif dalam menciptakan teori yang baru. Amin Abdullah menulis bahwa, Teori baru seringkali muncul dari keberanian seorang ilmuan dan peneliti untuk mengkombinasikan berbagai ide-ide yang telah ada sebelumnya, namun ide-ide tersebut terisolasi dari yang satu dan lainnya. Sehingga disinilah peran integrasi-interkoneksi dalam gambaran Creative Imagination. Kasus di Sampang-Syiah yang telah menelan banyak korban jiwa, juga persoalan abadi mengenai penentuan 1 Syawal, merupakan gambaran bahwa tidak adanya Creative Imagination. Contoh Newton yang menghubungkan jatuhnya buah apel dengan gerak edar rotasi bulan menunjukkan bahwa runtuhnya tembok isolasi keilmuan dalam paradigma Newton. Karena jika tidak mau berpikir kreatif, agama, khususnya Islam, akan tertinggal. Karena hukum-hukum dalam agama tidak akan pernah berubah. Yang berubah adalah permasalahannya. Sehingga dibutuhkan Creative Imagination dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang semakin kompleks.

Tidak ada yang bisa disalahkan atas pengkotak-kotakan pola berpikir manusia masa kini. Karena guru dan dosen yang mengajarkan murid dan mahasiswa juga merupakan produk dari pengkotak-kotakan pola berpikir guru dan dosennya. Sehingga untuk merubah sejarah generasi tersebut, kita perlu untuk merubah pola berpikir diri sendiri. Meruntuhkan tembok-tembok isolasi antara sekat keilmuan. Maka akan tercetak manusia-manusia yang mampu membawa masa ini, menuju puncak peradaban yang jauh lebih jaya dari peradaban Yunani, yang bertahan selama 700 tahun.

@14112014

Charlie Bone and The Time Twister

Judul: Charlie Bone and The Time Twister
Penulis: Jenny Nimmo
Penerjemah: Iryani Syahrir
Penerbit: UFUK FICTION
Tahun Terbit: 2011
Tebal Buku: 410 Halaman

Di tengah kebosanannya dalam menjalani hari-hari di asrama Bloor’s Academy, Charlie Bone tiba-tiba kedatangan seorang anak laki-laki dari mesin waktu di musim dingin tahun 1916. Anak itu sangat mirip dengan dirinya. Setelah sejenak mengingat kejadian aneh yang terjadi padanya sebelumnya, ia pun dapat menyimpulkan bahwa anak laki-laki itu adalah sepupunya. Atau tepatnya paman buyutnya. Charlie dapat menyimpulkan bahwa anak itu merupakan paman buyutnya, karena ia merupakan anak yang diberkati (memiliki kemampuan lebih). Ia dapat mendengar suara-suara orang yang ada dalam foto hanya dengan melihat fotonya. Anak itu bernama Henry Yewbeam. Ia datang dari mesin waktu berbentuk kelereng karena dikirim oleh sepupunya Ezekiel Bloor (Zake) yang tidak mengharapkan kehadirannya. Charlie menangkap firasat buruk jika kehadiran Henry sampai diketahui oleh beberapa orang di masa lalu.

Charlie memikirkan berbagai cara untuk bisa membebaskan Henry. Pertama dengan membiarkan Henry di dalam kulkas. Mereka menganggap jika Henry bisa mendapatkan temperatur yang sama dengan temperatur ketika di tahun 1916, maka Henry bisa kembali ke masa lalu. Karena Henry bisa sampai datang ke masa Charlie juga karena temperatur suhunya sama. Namun Henry malah pingsan kedinginan di dalam kulkas. Juru Masak yang kebetulan saat itu memergoki Charlie berkeliaran ketika jam tidur, akhirnya tidak jadi memarahi Charlie dan membantu mengeluarkan Henry dari dalam kulkas. Diluar dugaan, ternyata Juru Masak mau membantu menyembunyikan Henry untuk beberapa saat.

Namun beberapa masalah mengganggu misi penyelamatan mereka. Billy Raven yang merupakan anak yang diberkati juga, memiliki kemampuan dapat berbicara dengan hewan. Sehingga ia dimanfaatkan oleh Zake untuk mengartikan bahasa Blassed, anjing piaraannya karena Zake sadar bahwa hal ini kemungkinan akan terjadi. Selain Billy, Zake juga memanfaatkan Manfred dan Asa yang juga merupakan anak yang diberkati. Manfred yang merupakan ketua murid di Bloor’s Academiy sekaligus anak dari pemilik Akademi tersebut, memiliki kemampuan untuk menghipnotis. Sedangkan Asa memiliki kemampuan untuk merubah diri menjadi binatang buas.

Charlie sadar ia tidak dapat bekerja sendiri untuk membawa Henry ke tempat yang aman. Sehingga ia meminta bantuan beberapa temannya dan ‘Paman Kakek’ yang lebih senang ia panggil ‘Paman’. Paman Paton paham betul dengan situasinya, sehingga Charlie merasa perlu untuk berkonsultasi setiap akan mengambil langkah untuk menyelamatkan Henry. Paman Paton pun juga merasa bertanggung jawab atas anak dari masa lalu tersebut (Henry). Karena Ayah Paman Paton, James, merupakan adik laki-laki bungsu Henry yang tiba-tiba menjadi anak tunggal sepeninggalnya Henry.

Henry yang dilindungi sekaligus diincar oleh banyak orang, justru membuat kekacauan ketika berusaha untuk mendapatkan mesin waktu yang disembunyikan oleh Juru Masak . juru masak menyembunyikannya karena mesin waktu itu sangat berbahaya. Mesin waktu tersebut menggelinding entah kemana. Bersamaan dengan hilangnya mesin waktu itu, Henry juga ditangkap oleh Manfred dan kawan-kawannya. Ia dibawa ke ruang Zake, sepupu yang telah mengirimnya ke masa depan. Henry tidak gentar ketika berhadapan dengan Zake. Bahkan ketika Zake menatapnya dengan kebencian yang luar biasa. Setelah merasa cukup bertemu dengan sepupunya, Zake memerintahkan Manfred dan kawan-kawannya untuk mengurung Henry di ruang bawah tanah. Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia terkurung di sana.

Henry dibantu teman-temannya berusaha mencari tahu keberadaan Henry. Namun mereka gagal menemukannya. Ditengah usaha mereka mencari Henry, Paman Paton mengalami kecelakaan tabrak lari. Ia sadar bahwa tabrak lari tersebut merupakan ulah saudara-saudara perempuannya yang bekerja pada Zake. Namun Paman Paton masih bisa memandu Charlie untuk misi penyelamatan Henry. Olivia, teman Charlie yang tidak diberkati, menemukan Henry di lubang bawah tanah. Namun ia tidak dapat mengeluarkan Henry. Charlie pun dipandu oleh Paman Paton untuk mempelajari Bahasa Welas. Karena tongkat sihir yang akan mereka gunakan untuk mengeluarkan Henry, hanya bisa digunakan dengan Bahasa Welas. Setelah belajar mantra untuk menggunakan tongkat tersebut dari Paman Paton, Charlie akhirnya dapat mengeluarkan Henry dari lubang bawah tanah tersebut. Namun ternyata para kaki tangan Zake bertebaran di mana-mana. Membuat ruang gerak Henry semakin sempit. Sehingga dengan terpaksa Henry harus bersembunyi lagi.

Persembunyian Henry kali ini digagalkan oleh aksi Dorothy yang berusaha lari dari Anaknya, Manfred dan Suaminya, Dr. Bloor. Henry yang kebetulan berada di tempat perseembunyian yang sama dengan Dorothy, akhirnya juga ikut menjadi buronan Ayah dan Anak tersebut. Setelah sampai di loteng, Dorothy mengeluarkan mesin waktu yang hilang tersebut. Ternyata mesin waktu tersebut tidak hanya diinginkan oleh Zake dan Henry. Diam-diam Dorothy juga berharap terhadap mesin waktu itu. Ia berharap bisa pergi ke masa lalu demi mengulang sejarahnya ketika ia masih bisa bermain biola. Di masanya saat ini ia tidak dapat bermain biola. Tidak ada satu pun yang ingin mendengarkan permainan biolanya. Bahkan anaknya, Manfred si Hipnotis akan marah jika mendengar Ibunya bermain biola.

Gabriel yang juga berpikiran sama, setelah mendengar kisah pilu Dorothy dari Juru Masak, memberikan mesin waktu yang sebelumnya dicari-cari tersebut ke Dorothy. Gabriel yang memiliki kemampuan merasakan dan mengetahui adegan dengan hanya memegang baju orang lain, sangat bisa memahami perasaan Dorothy. Karena sebelumnya ia menggunakan sarung tangan Dorothy hingga sangat kesakitan.

Tidak banyak waktu yang mereka miliki. Anak dan Ayah itu akan segera mendapatkan mereka jika mereka tidak segera pergi dengan mesin waktu tersebut. Dorothy mengajak Henry untuk pergi bersamanya. Namun Henry sudah mulai terbiasa dengan dunia barunya. Ia pun berusaha keras melepaskan jubahnya sampai ia terhempas ke cerobong asap. Bertepatan dengan itu, Ayah dan Anak itu masuk. Namun mereka hanya mendapati jubah Henry. Mereka mengira Henry sudah pergi bersama Dorothy.

Ketika Henry mencari cara untuk pergi dari akademi itu tanpa diketahui, seekor burung sangat besar mendekatinya. Burung yang sangat ramah itu sama sekali tidak membuat Henry takut. Justru burung itu membawa Henry ke rumah Charlie dengan selamat. Paman Paton tertegun ketika berhadapan langsung dengan Henry yang sebenarnya adalah pamannya. Malam harinya Paman Paton dan Charlie mengantar Henry ke suatu tempat yang aman baginya. Tempat dimana Henry akan memulai dan melanjutkan kehidupan barunya. Sebuah rumah di dekat laut. Rumah ayah Paman Paton, James, sekaligus adik Henry.


Setibanya di rumah tersebut, kakak-beradk tersebut tidak dapat menahan haru atas pertemuan mereka. Henry masih dapat mengenali sorot mata James meskipun sudah jauh menua dari dirinya. James mengeluarkan kantong kelereng yang ditingkalkan oleh Henry ketika ia menghilang secara tiba-tiba. Henry sebelum menghilang sempat berjanji akan mengajaknya bermain Ring Taw. Setelah membiarkan kakak-beradik tersebut saling melepas kangen, mereka membahas rencana kehidupan Henry selanjutnya. Henry berencana tinggal bersama James dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kecil di daerah itu. Dan Charlie akan mengunjunginya seminggu sekali, bersamaan dengan Paman Paton mengunjungi Ayahnya. James.

@13102014

Kamis, 06 November 2014

ESQ (Emotional Spiritual Qoutient)

Data Buku
Judul:  ESQ (Emotional Spiritual Quotient)
Penulis:  Ary Ginanjar Agustian
Editor:  Dyah Utami Ariyanti dan Yudhistira ANM
Penerbit:  ARGA Publishing
Tahun terbit:  Desember, 2007
Tebal:  305 halaman
Beragam pengalaman disertai pola pikir kritis Ary Ginanjar Agustian, membuatnya mampu menyimpulkan sebab-akibat paradigma berpikir pada manusia. Sepotong kaliamat atau suatu kejadian kecil saja mampu mengubah paradigma berpikir seseorang, yang selanjutnya menghasilkan sikap yang merugikan atau menguntungkan. Padahal manusia telah dikaruniai jiwa, sehingga ia bebas menentukan pilihan reaksi terhadap kehidupannya. Bereaksi positif atau negatif. Paradigma berpikir dapat ditimbulkan dari prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding, dan fanatisme. Belenggu-belenggu tersebut harus dijernihkan dari hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang telah jernih dari belenggu-belenggu pikiran, dapat mulai membangun kecerdasan emosi (EQ) berdasarkan enam prinsip, yakni: prinsip bintang yang menghargai diri sendiri, prinsip malaikat yang memiliki komitmen kuat dalam amanah, prinsip kepemimpinan yang berlandaskan kefitrahan suara hati, prinsip pembelajaran yang memiliki kebiasaan membaca situasi dan selalu berpikir kritis, prinsip masa depan yang berorientasi pada tujuan akhir, dan prinsip keteraturan yang berorientasi pada pembentukan sistem.
Seseorang yang telah memiliki enam prinsip diatas, akan memiliki ketangguhan pribadi yang diwujudkan dalam penetapan misi, pembangunan karakter diri, dan kemampuan pengendalian diri. Syahadat adalah salah satu aplikasi dalam penetapan misi. Sholat pun merupakan salah satu aplikasi pembangunan karakter diri. Sedangkan puasa adalah realisasi dari kemampuan pengendalian diri. Hasilnya, akan terbentuk pribadi yang kuat, memiliki prinsip dan integritas tinggi. Sebagai makhluk sosial tidak hanya ketangguhan pribadi yang dibutuhkan. Namun juga dibutuhkan ketangguhan sosial yang Ary ginanjar Agustian bagi dalam dua aplikasi. Pertama sinergi yang berlandaskan sikap empati, kepercayaan, sikap kooperatif, keterbukaan, serta kredibilitas, yang dapat direalisasikan dalam bentuk zakat. Kedua, aplikasi total dalam hal persiapan fisik dan mental untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Inilah langkah akhir untuk mencapai kecerdasan emosi dan spiritual.

Konsep-konsep berpikir Ary yang kemudian ia tuangkan dalam buku ini hampir semuanya dilatarbelakangi oleh keyakinannya sebagai seorang muslim. Sehingga meski secara konsep yang dituangkannya bersifat universal, pembaca yang tidak memiliki paradigma baik mengenai Islam, akan sulit menerima konsep Ary ini. Bahkan ketika sekilas membaca buku tersebut, pembaca akan beranggapan bahwa ini adalah buku ESQ ini diperuntukkan bagi yang beragama Islam. Namun terlepas dari siapa dan apa latar belakang penulis, ada baiknya melihat isi dari buku tersebut. karena konsep yang ditawarkan Ary sangat membangun bagi kualitas kehidupan manusia, yang bukan hanya makhluk materi, namun juga makhluk sosial dan spiritual.